Akademisi Ini Luruskan Polemik Tinggi Nabi Adam 60 Hasta, Ini Penjelasan Ilmiahnya

01 - Aug - 2026, 12:11

Ilustrasi gambar terkait tingginya Nabi Adam (ist)


JATIMTIMES – Perdebatan mengenai riwayat Nabi Adam yang disebut memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter hingga saat ini masih banyak yang perbincangan. Salah satu argumen yang kerap muncul adalah anggapan bahwa kisah tersebut merupakan dongeng karena hingga kini tidak ditemukan fosil manusia dengan ukuran tubuh demikian.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Agustino Zulys, M.Sc., menilai cara berpikir tersebut tampak logis di permukaan, tetapi menyimpan persoalan dari sisi metodologi ilmiah maupun ketepatan dalam memahami sumber ajaran Islam.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Sabtu Kliwon 1 Agustus 2026: Rejeki Lumintu

Dalam video edukasi Behind the Science yang diunggah di akun Instagram pribadinya (31/7/2026), Prof. Zulys menjelaskan bahwa informasi mengenai tinggi Nabi Adam tidak berasal dari Al-Qur'an sebagaimana sering dipersepsikan masyarakat. Menurutnya, riwayat tersebut bersumber dari hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadis itu, yakni "Allah menciptakan Adam dalam bentuknya tingginya 60 hasta, dan kelak setiap orang yang masuk ke surga akan seperti rupa Adam, dan bentuk makhluk senantiasa berkurang (semakin pendek) hingga sekarang." (HR Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari)

Kemudian, "Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, dengan tinggi enam puluh hasta... Maka, makhluk (manusia) setelah Adam tingginya terus berkurang hingga sekarang." (HR. Muslim nomor 2841).

"Kita harus jujur secara ilmiah. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang menyebutkan tinggi Nabi Adam 60 hasta atau sekitar 30 meter. Informasi tersebut berasal dari hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim," ujarnya.

Ia mengatakan, kritik terhadap suatu ajaran semestinya diawali dengan memastikan sumber yang dikaji. Karena itu, menyebut "kitab suci mengajarkan manusia pertama setinggi 30 meter" tanpa membedakan antara Al-Qur'an dan hadis dinilai sebagai kritik yang tidak tepat sasaran.

Menurut Prof. Zulys, hadis mengenai Nabi Adam juga tidak dapat langsung dipahami sebagai penjelasan biologis tentang manusia purba yang harus dibuktikan melalui temuan fosil. Ia menyebut sebagian ulama memaknai hadis tersebut sebagai informasi mengenai penciptaan Nabi Adam dan karakteristik penghuni surga.

"Dalam konteks itu, hadis tidak sedang memberikan uraian biologis atau arkeologis tentang populasi manusia purba yang harus ditemukan fosilnya hari ini. Karena konteksnya adalah perkara gaib, pendekatan ilmiahnya tentu berbeda dengan penelitian fosil," katanya.

Ia juga menyoroti upaya sebagian pihak yang mengaitkan konsep surga dengan teori relativitas Albert Einstein. Menurutnya, teori relativitas hanya membantu memberikan gambaran bahwa konsep ruang, waktu, ukuran, dan dimensi tidak sesederhana yang dibayangkan manusia.

Baca Juga : Bupati Yani Tegaskan Gresik Tak Hanya Kejar Investasi

Namun demikian, Prof. Zulys menegaskan bahwa teori tersebut tidak dapat dijadikan bukti ilmiah mengenai tinggi Nabi Adam. Sebab, surga merupakan wilayah metafisik yang berada di luar jangkauan eksperimen laboratorium.

Selain itu, ia mengingatkan salah satu prinsip dasar dalam sains, yaitu absence of evidence is not evidence of absence atau ketiadaan bukti bukan berarti bukti ketiadaannya. Dalam praktik ilmu kimia, kata dia, suatu sampel yang tidak terdeteksi dalam pengukuran akan dinyatakan Not Available (NA), bukan berarti dipastikan tidak ada.

Prinsip tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa sains memiliki batas dalam menarik kesimpulan terhadap sesuatu yang belum dapat diamati atau dibuktikan melalui metode ilmiah.

Menutup pemaparannya, Prof. Zulys menilai sains dan agama sama-sama mengajarkan sikap rendah hati dalam mencari kebenaran. Menurutnya, tantangan terbesar dalam perkembangan ilmu pengetahuan bukan sekadar keterbatasan informasi, melainkan munculnya keyakinan bahwa seseorang telah mengetahui segala hal.

"Musuh terbesar ilmu bukanlah ketidaktahuan, melainkan kesombongan merasa lebih tahu dari orang lain," pungkasnya. 


Topik

Pendidikan, tinggi nabi adam, penjelasan ilmiah,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette