Rocky Gerung Tantang PDIP: Anak Muda Tak Butuh Branding, tapi Gagasan

Reporter

Riski Wijaya

Editor

A Yahya

25 - Jul - 2026, 03:44

Talkshow bertajuk Indonesia Rumah Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi, Sabtu (25/7/2026).(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).


JATIMTIMES - Akademisi Rocky Gerung melontarkan tantangan terbuka kepada PDI Perjuangan. Di tengah kegelisahan dan kelelahan mental anak muda, partai politik dinilai tidak cukup hanya membangun citra atau melakukan branding.

Rocky menyampaikan pandangan itu dalam talkshow bertajuk Indonesia Rumah Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi yang digelar pada Sabtu (25/7/2026). Ia menilai, anak muda saat ini menghadapi persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar tidak tertarik pada politik.

Baca Juga : Pemkot Blitar Bangun Kota Masa Depan dari Generasi Muda, Wali Kota Mas Ibin Perkuat Peran Duta GenRe

Menurut Rocky, banyak anak muda justru berada dalam kondisi lelah karena terus-menerus menghadapi kegelisahan. Mereka kehilangan arah karena tidak memiliki gagasan besar yang bisa menjadi tujuan bersama. “Anak muda lelah karena tidak ada petunjuk ideologi apa yang ingin dia capai,” kata Rocky.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai burnout society. Masyarakat, menurutnya, tidak hanya mengalami kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan mental karena gagal membangun harapan.

Rocky kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan kebutuhan terhadap ideologi. Ia menyebut Marhaenisme sebagai salah satu gagasan yang masih relevan untuk dibicarakan sebagai alternatif jalan politik Indonesia.

“Dari Malang ada arah baru nasional yang membuat kita tidak lelah mengejarnya. Satu-satunya adalah Marhaenisme,” ujarnya.

Namun, Rocky mengingatkan bahwa gagasan tersebut tidak boleh berhenti menjadi doktrin. Ideologi harus menjadi tuntunan untuk membaca persoalan masyarakat dan menemukan arah baru.

Di titik inilah Rocky menantang partai politik, termasuk PDI Perjuangan, untuk tidak berhenti pada urusan citra. Menurutnya, branding hanya menjadi pintu untuk memamerkan apa yang ada di dalamnya.

“Anak muda tidak perlu tahu apa yang dipikirkan politisi, tapi apa yang tidak mereka pikirkan,” katanya.

Rocky mendorong agar ruang politik diisi dengan produksi argumen dan perdebatan yang sehat. Menurutnya, kebebasan berpikir hanya akan tumbuh jika masyarakat memiliki ruang untuk membantah pendapat.

Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh dipersempit menjadi sekadar kebebasan berbicara. Sebab, kebebasan berpendapat juga berarti kebebasan untuk membantah pendapat.

“Gagalnya kita melihat fungsi pikiran. Kemampuan kita hanya mungkin dihasilkan kalau ada kebebasan untuk membantah pendapat,” ujarnya.

Menurut Rocky, Malang memiliki peluang untuk menjadi pusat gagasan. Perubahan Malang menjadi kawasan metropolitan, menurutnya, tidak boleh membuat kota ini hanya menjadi konsumen cara berpikir dari pusat kekuasaan.

“Malang punya potensi menjadi ibu kota ideologi,” kata Rocky.

Ia menilai, persoalan politik tidak cukup dibaca melalui angka, survei, maupun kalkulasi anggaran. Politik harus mampu melihat persoalan masyarakat secara lebih utuh.

“Politik adalah upaya melihat hutan, bukan membaca jumlah pohon,” ujarnya.

Baca Juga : Ramaikan JFC 2026, 12 Putri Indonesia Diboyong ke Jember

Rocky juga menekankan pentingnya empati dalam pengambilan keputusan politik. Menurutnya, kebijakan yang hanya didasarkan pada perhitungan anggaran tanpa memahami kondisi masyarakat berisiko melahirkan politik yang kehilangan manusia.

“Empati jalan mendahului APBN. Kalau tidak ada empati, kita akan menjadi robot,” katanya.

Tantangan tersebut kemudian direspons Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Deni Wicaksono. Ia mengakui bahwa tingginya antusiasme anak muda dalam forum tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi partainya.

Deni mengatakan, PDI Perjuangan berupaya membuka ruang diskusi bagi anak muda tanpa menuntut mereka langsung masuk ke struktur partai atau menjadi calon legislatif.

“Tidak harus menjadi struktur partai, tidak harus menjadi caleg. Kami membuka ruang-ruang diskusi agar masukan dari anak-anak muda bisa kami tampung,” kata Deni.

Ia menyebut berbagai kegelisahan anak muda, termasuk persoalan lapangan pekerjaan dan perubahan kehidupan dari dunia nyata ke dunia maya, perlu dibahas lebih serius.

Namun, Deni mengakui persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh satu partai politik saja. Ia mendorong adanya komunikasi antara legislatif dan eksekutif untuk menerjemahkan berbagai masukan tersebut ke dalam kebijakan.

“Ini tidak bisa kami menyampaikan akan kita selesaikan semua. Ini perlu kerja sama dari seluruh stakeholder,” ujarnya.

Deni juga menyatakan bahwa forum diskusi seperti Red Talk perlu diperluas hingga ruang-ruang yang lebih kecil. Mulai dari kampus, warung kopi, kafe, hingga lingkungan masyarakat.

Bagi PDI Perjuangan, berbagai ruang tersebut diharapkan menjadi tempat untuk menguji kembali gagasan politik, termasuk relevansi Marhaenisme, di tengah generasi muda yang semakin kritis terhadap partai politik.


Topik

Politik, rocky gerung, pdi perjuangan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette