5 Wilayah Terdingin Di Jatim: Nomor 1 Bromo, Pasuruan hingga Batu Ikut Menggigil
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
14 - Jul - 2026, 06:05
JATIMTIMES - Fenomena bediding atau udara dingin khas musim kemarau masih menyelimuti sejumlah wilayah di Jawa Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu minimum di beberapa daerah masih turun, bahkan kawasan Bromo mencatatkan suhu hanya 3,8 derajat Celsius.
Data tersebut disampaikan BMKG Klimatologi Jawa Timur melalui unggahan akun Instagram resminya @bmkg.iklimjatim berdasarkan periode pengamatan 13 Juli 2026 pukul 07.01 WIB hingga 14 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.
Baca Juga : Fraksi PKS DPRD Jatim Sodorkan 10 Rekomendasi, Jamin Efektivitas Uang Rakyat
Dalam keterangannya, BMKG menyebut suhu dingin masih terasa di banyak wilayah Jawa Timur seiring berlangsungnya musim kemarau.
"Udara dingin masih terasa di sejumlah wilayah Jawa Timur. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, AWS Bromo, Kabupaten Probolinggo kembali mencatat suhu minimum terendah di Jawa Timur, yaitu 3,8°C," tulis BMKG.
Berdasarkan data BMKG, AWS Bromo di Kabupaten Probolinggo kembali menjadi lokasi dengan suhu minimum paling rendah di Jawa Timur, yakni 3,8 derajat Celsius.
Sementara itu, beberapa daerah lain juga mencatat suhu cukup dingin, terutama di kawasan dataran tinggi.
Berikut lima wilayah dengan suhu minimum terendah di Jawa Timur:
1. AWS Bromo, Kabupaten Probolinggo:3,8°C
2. STAGEOF Pasuruan:14,2°C
3. AWS Kota Batu:14,6°C
4. Lanud Abdul Saleh, Kabupaten Malang:15,0°C
5. AWS Bondowoso:16,3°C
Selain lima wilayah tersebut, sejumlah daerah lain juga mencatat suhu cukup rendah, di antaranya Kabupaten Malang 16,4°C, Trenggalek 16,4°C, Lumajang 18,3°C, Jember 18,5°C, Situbondo 19,5°C, Banyuwangi 19,2°C, Blitar 17,8°C, hingga Pacitan 18,6°C.
Sementara wilayah pesisir dan kepulauan relatif lebih hangat. Pulau Bawean misalnya mencatat suhu minimum 27,0°C, sedangkan Sumenep berada di kisaran 25,1°C.
Mengapa Bediding Terjadi?
BMKG menjelaskan fenomena bediding masih berpotensi terjadi selama musim kemarau berlangsung.
Baca Juga : Dinkes Kota Batu Tekan Stunting Lewat Intervensi Gizi dan Layanan ILP, Posyandu di Sisir Capai Zero Kasus
Kondisi tersebut dipengaruhi minimnya tutupan awan pada malam hingga dini hari. Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer sehingga suhu udara turun signifikan.
Selain itu, pada musim kemarau, massa udara kering yang dibawa angin timuran atau Monsun Australia juga membuat udara terasa lebih dingin, terutama di kawasan dataran tinggi seperti Bromo, Batu, Pasuruan, hingga Malang.
Karena berada di kawasan pegunungan dengan elevasi tinggi, wilayah-wilayah tersebut memang lebih mudah mengalami penurunan suhu dibanding daerah dataran rendah.
Tips Menghadapi Cuaca Dingin
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondisi tubuh saat fenomena bediding masih berlangsung.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
• Menggunakan pakaian hangat, terutama pada malam hingga pagi hari.
• Mengonsumsi makanan dan minuman hangat.
• Tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh meski udara terasa dingin.
• Menjaga kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
BMKG juga menjelaskan bahwa data suhu minimum tersebut diperoleh dari hasil pengamatan Automatic Weather Station (AWS), Automatic Agroclimate Weather Station (AAWS), serta stasiun pengamatan BMKG yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur.
Selama musim kemarau masih berlangsung, masyarakat di kawasan pegunungan maupun dataran tinggi diimbau mewaspadai suhu udara yang dapat turun hingga belasan bahkan di bawah 10 derajat Celsius pada dini hari, sehingga perlu mempersiapkan perlengkapan yang sesuai saat beraktivitas atau berwisata. Semoga informasi ini membantu ya.
