Walkingalam, Komunitas Fotografi Street Dokumenter yang Konsisten Mengabadikan Perubahan Kota Malang Sejak 2012
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
14 - Jul - 2026, 06:53
JATIMTIMES - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi fotografi, masih ada sekelompok pegiat fotografi yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak sekadar memburu foto yang estetik, tetapi menjadikan kamera sebagai alat untuk merekam denyut kehidupan kota.
Itulah yang dilakukan komunitas Walkingalam, komunitas fotografi street dan dokumenter asal Kota Malang yang telah konsisten mengarsipkan ruang publik sejak 2012. Berawal dari kebiasaan enam fotografer yang rutin memotret setiap akhir pekan, Walkingalam lahir sebagai ruang belajar sekaligus wadah berdiskusi bagi para pecinta street photography.
Baca Juga : Kyohei Yoshino Resmi Dikontrak Persija Dua Musim, Berikut Sepak Terjangnya
Dari aktivitas sederhana tersebut, komunitas ini berkembang menjadi salah satu pelopor fotografi jalanan di Malang dengan berbagai program edukasi, pameran, hingga penerbitan buku foto.
Ketua Walkingalam, Rizki Dwi Putra, mengatakan komunitas ini didirikan bukan dengan tujuan besar yang muluk-muluk. Semuanya berangkat dari kegemaran memotret aktivitas masyarakat di ruang publik.
“Awalnya sederhana, karena kami memang sama-sama hobi memotret di jalan. Kami merasa ruang publik itu menarik sekali untuk didokumentasikan. Bukan hanya belajar menghasilkan foto yang indah, tetapi juga belajar memiliki kepekaan melihat situasi dan kehidupan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita,” kata Rizki.
Ia menambahkan, saat pertama kali berdiri Walkingalam digerakkan oleh enam orang pendiri. Seiring berjalannya waktu, sebagian anggota telah disibukkan dengan pekerjaan dan kehidupan masing-masing. Kini, komunitas tersebut tetap berjalan dengan melibatkan sekitar tujuh anggota aktif yang mayoritas merupakan generasi muda.
Meski tidak memiliki sekretariat tetap, semangat berkarya tidak pernah surut. Jika dahulu para anggota sering berkumpul di rumah salah satu pengurus di kawasan Araya, kini diskusi rutin lebih sering dilakukan secara berpindah-pindah di sejumlah kafe di Kota Malang, salah satunya di kawasan Jalan Bandung.
Selama lebih dari satu dekade, Walkingalam telah melaksanakan beragam kegiatan mulai dari photo walk, diskusi fotografi, workshop, pameran, edukasi ke kampus-kampus, hingga berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan pelaku industri kreatif. Komunitas ini juga aktif memproduksi buku foto sebagai bentuk dokumentasi visual Kota Malang.
Menurut Rizki, seluruh kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mendokumentasikan perubahan ruang publik yang terjadi dari waktu ke waktu.
“Kami memang tidak memiliki misi yang terlalu formal. Intinya kami ingin terus mendokumentasikan perubahan-perubahan yang terjadi di ruang publik. Kami percaya dokumentasi yang dibuat hari ini suatu saat akan menjadi catatan sejarah yang bisa dinikmati dan dipelajari oleh siapa pun,” imbuhnya, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga : Dinkes Kota Batu Tekan Stunting Lewat Intervensi Gizi dan Layanan ILP, Posyandu di Sisir Capai Zero Kasus
Dalam setiap pertemuan, para anggota tidak hanya berburu foto bersama. Mereka juga saling berbagi pengalaman, mengulas hasil karya, mendiskusikan proyek dokumentasi, hingga menyusun agenda kegiatan berikutnya.
Bagi Walkingalam, fotografi bukan sekadar soal teknik ataupun komposisi gambar. Street photography menjadi medium untuk merekam realitas secara jujur tanpa rekayasa, sehingga setiap foto memiliki nilai cerita dan menjadi bagian dari perjalanan sebuah kota.
Selama ini Walkingalam juga memanfaatkan platform digital melalui website walkingalam.com dan akun Instagram @walkingalam untuk mempublikasikan karya-karya anggotanya sekaligus memperkenalkan dinamika kehidupan Kota Malang kepada khalayak yang lebih luas.
Memasuki usia lebih dari 14 tahun, komunitas ini berharap dapat terus menjadi ruang belajar bagi para fotografer muda sekaligus menjaga tradisi dokumentasi visual di Malang Raya.
“Harapan kami sederhana, Walkingalam tetap bisa mewarnai perkembangan fotografi di Malang Raya, khususnya fotografi street dan dokumenter. Yang paling penting, apa yang kami lakukan bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi banyak orang,” tutup pria 33 tahun ini.
