Bromo Membeku Lagi! Suhu Bediding di Jatim Turun hingga 9,5 Derajat
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
07 - Jul - 2026, 11:32
JATIMTIMES - Suhu dingin akibat fenomena bediding kembali menguat di sejumlah wilayah Jawa Timur. Setelah sempat mengalami kenaikan, temperatur udara minimum di kawasan Gunung Bromo kembali turun hingga menyentuh 9,5 derajat Celsius.
BMKG Juanda menyebut fenomena bediding masih akan berlangsung selama puncak musim kemarau dan diperkirakan bertahan hingga Agustus 2026.
Baca Juga : Aphelion Juli 2026 Terjadi Hari Ini, Apa Itu dan Benarkah Bikin Bumi Lebih Dingin? Ini Penjelasan BMKG
"Fenomena bediding ini disebabkan oleh minimnya tutupan awan di malam hari, sehingga energi panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer," tulis BMKG.
Kondisi tersebut membuat perbedaan suhu siang dan malam cukup ekstrem. Saat siang hari, suhu udara di sejumlah wilayah Jawa Timur dapat mencapai 33-35 derajat Celsius, bahkan berpotensi menyentuh 36 derajat Celsius. Namun ketika malam hingga dini hari, suhu turun tajam terutama di kawasan pegunungan dan dataran tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan Automatic Weather Station (AWS) dan Automatic Agroclimate Weather Station (AAWS) periode 6 Juli 2026 pukul 07.01 WIB hingga 7 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, udara dingin masih mendominasi sejumlah daerah dataran tinggi.
Selain Bromo, suhu rendah juga tercatat di Tretes, Kota Batu, Bondowoso, hingga Trenggalek.
Berikut lima wilayah dengan suhu minimum terendah di Jawa Timur berdasarkan data terbaru BMKG:
1. AWS Bromo, Probolinggo: 9,5°C
2. Stageof Pasuruan (Tretes): 15,0°C
3. AWS Kota Batu: 15,9°C
4. AWS Bondowoso: 17,3°C
5. AWS Karangan, Trenggalek: 17,6°C
Baca Juga : Soal Usul Tambahan Jatah Reses DPRD Jatim, Eksekutif Minta Konsultasi ke Kemendagri
Bagi masyarakat yang hendak beraktivitas pada malam hingga pagi hari atau berwisata ke kawasan pegunungan selama musim liburan, diimbau mempersiapkan pakaian hangat dan menjaga kondisi tubuh.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG, karena suhu udara di wilayah dataran tinggi masih berpotensi turun selama musim kemarau berlangsung.
