Kyai Kikin dan Reformasi PBNU: Dari Silaturahmi Menuju Konsolidasi Nasional

Reporter

Bey Arifin

Editor

Redaksi

03 - Jul - 2026, 06:07

Bey Arifin - Pemerhati Nahdlatul Ulama


Kyai Kikin dan Reformasi PBNU: Dari Silaturahmi Menuju Konsolidasi Nasional

oleh Bey Arifin*

 

Reformasi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hari ini bukan lagi sekadar wacana, tetapi kebutuhan sejarah. Di tengah perubahan sosial, disrupsi digital, tantangan ekonomi umat, dan fragmentasi pemikiran keagamaan, NU dituntut tampil lebih solid, lebih adaptif, dan lebih berdaya saing. 

Namun reformasi itu tidak bisa dimulai dari sekadar pergantian elite. Ia harus dimulai dari pemulihan ruh organisasi itu sendiri.

Baca Juga : CDC UIN Malang Benchmarking ke UNY dan UGM, Perkuat Layanan Karier Mahasiswa dan Pengelolaan Alumni

Di sinilah KH Abdul Hakim Mahfudz (Kyai Kikin) menawarkan jalan yang berbeda: reformasi berbasis silaturahmi. Sebuah pendekatan yang tampak sederhana, tetapi justru paling fundamental dalam tradisi NU. 

Sebab sebelum membangun sistem, NU harus menguatkan ikatan; sebelum menyusun strategi, NU harus merawat persaudaraan , dan sebelum melangkah jauh, NU harus memastikan rumah besarnya tetap utuh.

Kyai Kikin membaca satu persoalan penting: banyak energi NU yang terserap pada ketegangan internal, sementara tantangan eksternal semakin kompleks. Akibatnya, potensi besar jam’iyah sering kali tidak terkelola maksimal. 

Karena itu, silaturahmi yang ia bangun bukan hanya soal menjaga hubungan personal, tetapi membangun kembali kepercayaan kolektif di seluruh elemen NU ,dari kiai kampung, pesantren, alumni, hingga struktur cabang dan wilayah.

Dari silaturahmi itulah konsolidasi nasional bisa dibangun. Sebab NU yang besar tidak cukup hanya dengan struktur yang rapi, tetapi membutuhkan chemistry organisasi yang hidup. 

Dan chemistry itu lahir dari komunikasi yang terbuka, penghormatan pada senioritas, penghargaan terhadap perbedaan, dan kesadaran bahwa NU adalah milik bersama.

Baca Juga : Merawat Warisan Hadratussyaikh: Gus Kikin, Qonun Asasi, dan Masa Depan Nahdlatul Ulama

Reformasi PBNU yang dibutuhkan hari ini adalah reformasi yang mengembalikan NU kepada khittah perjuangannya: menjaga agama, merawat bangsa, dan membimbing umat dengan hikmah. Bukan reformasi yang menciptakan sekat-sekat baru atau memperlebar jarak antara pusat dan daerah. 

Dalam hal ini, Kyai Kikin hadir sebagai figur yang mampu menjembatani semuanya, karena kekuatannya bukan pada dominasi, tetapi pada kemampuan menyatukan.

Sejarah NU selalu mencatat bahwa kepemimpinan yang besar lahir dari keikhlasan, keluasan pandangan, dan kekuatan merangkul. Kyai Kikin sedang menunjukkan tiga hal itu sekaligus. 

Dan jika arah reformasi PBNU ingin benar-benar menuju konsolidasi nasional yang kokoh, maka model kepemimpinan seperti inilah yang layak dipertimbangkan: teduh dalam sikap, kuat dalam prinsip, dan luas dalam silaturahmi.

Dengan demikian, NU tidak membutuhkan pemimpin yang hanya bisa mengendalikan organisasi, tetapi pemimpin yang mampu menghidupkan kembali jantung persaudaraan di dalamnya.

 

*Penulis adalah Pemerhati Nahdlatul Ulama


Topik

Opini, bey arifi, muktamar nu, nahdlatul ulama, nu, organisasi nu, pbnu, konsolidasi nasional nu, silaturahmi nu, sejarah nu,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette