AI Overview Gerus Trafik dan Performa SEO Situs Berita, Praktisi Media Desak Jurnalis Kreatif

29 - Jun - 2026, 01:37

Praktisi Media Arifin Asydhad yang juga komisaris Kumparan memaparkan perubahan pola konsumsi media dan situs berita di Indonesia dalam kelas JFC III GWPP.(Foto: Dokumen GWPP)


JATIMTIMES – Industri media online tradisional kini menghadapi ancaman serius menyusul lahirnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kehadiran fitur pencarian berbasis AI dinilai bakal menggerus trafik kunjungan situs berita konvensional secara drastis di masa depan.

Dampak masif perkembangan teknologi ini dipaparkan langsung oleh Praktisi Media Siber Arifin Asydhad, dalam kelas Journalism Fellowship on CSR yang digelar oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), baru-baru ini.

Baca Juga : Kudus Juara MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2026, Tiga Pemain Malang Lolos ke SingaCup 2026

Founder dan komisaris Kumparan itu menjelaskan bahwa kehadiran AI telah mengubah perilaku total masyarakat dalam mencari informasi digital. Jika sebelumnya publik mengandalkan mesin pencari konvensional seperti Google Search yang menyodorkan tautan (link) berita media, kini polanya sudah berubah total.

Raksasa teknologi kini mulai menerapkan sistem rangkuman otomatis di halaman utama lewat fitur seperti AI Overview. Sistem ini menyajikan informasi yang dicari pengguna secara instan di bagian teratas layar tanpa mengharuskan pengguna mengeklik tautan media asal.

"Orang tidak perlu lagi klik link media kita untuk membaca berita lengkapnya. Nah, ini kan membuat trafik media online tradisional yang mengandalkan SEO (Search Engine Optimization) itu turun drastis," ujar Arifin Asydhad.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data terbaru dari Reuters Institute (2026), sebanyak 30 persen masyarakat di 22 negara kini menjadikan media sosial dan platform video sebagai sumber utama berita mereka. Angka tersebut melonjak signifikan dari 22 persen pada lima tahun lalu, menandakan dominasi ruang digital yang kian tak terbendung.

Meski tidak lagi memimpin ruang redaksi secara operasional, Arifin mewanti-wanti para jurnalis muda agar tidak kalah dengan cengkeraman algoritma mesin dan kecerdasan buatan. Sebaliknya, momentum ini harus menjadi pelecut kreativitas insan pers.

Wartawan di era modern dituntut tidak sekadar piawai menulis teks untuk situs web, melainkan wajib bertransformasi menjadi jurnalis yang multichannel dan multitalent.

Baca Juga : Aplikasi Review MBG Telan Rp 1,2 Triliun, Tapi Banyak Kejanggalanya? 

"Saat ini jurnalis dituntut mampu mengedit video pendek, infografis, hingga tampil luwes di depan kamera," katanya.

Kendati dikemas secara kreatif lewat platform populer seperti TikTok dan Instagram untuk mengejar audiens Gen Z dan Milenial, fungsi utama pers sebagai penyaring informasi (clearing house) tidak boleh luntur. Proses verifikasi ketat menjadi pembeda abadi antara pers dengan pembuat konten.

"Meskipun dikemas secara kreatif di media sosial, proses jurnalistik seperti verifikasi, konfirmasi, dan check and recheck tidak boleh dihilangkan. Itu adalah nilai tawar utama kita dibandingkan dengan konten kreator biasa," tegasnya.


Topik

Peristiwa, AI Overview, Trafik SEO, SEO, Situs Berita, Praktisi Media, Jurnalis Kreatif,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette