BEM UI Sulap CFD Bundaran HI Jadi Mimbar Rakyat, Sindir Pemerintah 'Tutup Telinga'

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

28 - Jun - 2026, 04:55

Para mahasiswa menggelar Solidarity Campaign di CFD Bundaran HI, Minggu (28/6/2026). (Foto: Threads)


JATIMTIMES - Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (28/6/2026), diwarnai aksi yang tak biasa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil.

Di tengah ribuan warga yang berolahraga sekaligus meramaikan peringatan HUT ke-499 Jakarta, para mahasiswa menggelar Solidarity Campaign CFD. Mereka memanfaatkan keramaian di ruang publik untuk mengajak masyarakat berdialog mengenai berbagai persoalan nasional yang belakangan menjadi sorotan.

Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (28/6/2026). (Foto: Threads)

Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (28/6/2026). (Foto: Threads)

Baca Juga : Gempa Bumi Tektonik di Pacitan Turut Dirasakan hingga Malang, Warga: Terasa Horeg

Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengatakan aksi tersebut lahir dari keresahan publik yang dinilai terus menumpuk tanpa mendapat respons nyata dari pemerintah.

"Kemarahan itu adalah nyata, terukur, dan beralasan. Tapi kemarahan itu belum dijawab. Dan memang tidak pernah dijawab," ujar Yatalathof, dikutip Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, menyampaikan aspirasi di ruang publik menjadi cara agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam pembahasan isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengangkat sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya mengenai transparansi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi publik.

Selain itu, mereka juga menyoroti meninggalnya sejumlah peserta pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Peristiwa tersebut dinilai perlu mendapat penjelasan secara terbuka agar tidak memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat.

Persoalan lain yang ikut disuarakan ialah penggunaan anggaran negara. Aliansi mahasiswa menilai masih ada belanja pemerintah yang belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan masyarakat.

Mereka juga menyinggung kondisi ruang sipil yang dianggap semakin menyempit. Menurut mahasiswa, sejumlah tindakan aparat belakangan dinilai mulai menyasar ruang akademik maupun aktivitas masyarakat sipil.

"Di saat pemerintah memilih tutup telinga dari data dan fakta, kami memilih membuka percakapan langsung dengan rakyat," kata Athof.

Berbeda dengan aksi demonstrasi yang identik dengan orasi di depan pagar gedung pemerintahan, kegiatan kali ini dikemas lebih terbuka dan melibatkan masyarakat secara langsung.

Baca Juga : Wali Kota Blitar Sosialisasikan Sekolah Rakyat, Siap Beroperasi Pertengahan Juli

Panitia menyediakan mimbar bebas yang dapat digunakan siapa pun untuk berbicara. Buruh, guru, mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga ibu rumah tangga dipersilakan menyampaikan pengalaman maupun pandangannya terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. 

Tak jauh dari lokasi mimbar, mahasiswa juga memasang sejumlah instalasi publik berisi data, informasi, kritik, hingga tuntutan terkait berbagai isu nasional. Tulisan-tulisan itu dipasang di ruang terbuka agar dapat dibaca masyarakat yang sedang beraktivitas di kawasan CFD.

Menurut penyelenggara, konsep tersebut dipilih agar ruang publik menjadi wadah bertukar gagasan dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam mengawal kebijakan publik.

Solidarity Campaign CFD ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi mahasiswa lintas kampus. Di antaranya Kepresma Usakti, BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), BPM Fakultas Hukum Universitas Pancasila, BEM Universitas Esa Unggul, hingga BEM Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma.

Pihaknya menilai gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti hanya karena perhatian publik atau pemberitaan media mulai berkurang. Pengawalan terhadap kebijakan pemerintah, menurut mereka, perlu dilakukan secara berkelanjutan.

"Keadilan tidak datang sendiri. Ia harus terus dijemput, hari demi hari, oleh rakyat yang tidak mau menyerah pada ketidakadilan. Suara kita bukan hanya hak, tetapi suara kita adalah mandat," tegasnya.

Panitia juga menegaskan kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk mengganggu jalannya Car Free Day maupun perayaan HUT Jakarta. Seluruh rangkaian acara berlangsung di sisi kawasan CFD sehingga warga tetap dapat berolahraga seperti biasa.


Topik

Peristiwa, Cfd, bem ui, yatalathof-ma'shum-imawan, demo mahasiswa,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette