Praktisi Media Ingatkan Redaksi Bahaya Halusinasi AI: Fakta Berita Tetap Butuh Disiplin Verifikasi

26 - Jun - 2026, 11:53

Praktisi media nasional Merdi Sofansyah dalam Kelas JFC III GWPP mengingatkan penggunaan AI di redaksi pers butih disiplin verifikasi. (Foto: Dokumen GWPP)


JATIMTIMES – Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif di industri pers memicu kekhawatiran baru terkait penurunan mutu dan validitas informasi. Kecepatan mesin dalam merangkai kata justru kerap mengorbankan hukum besi jurnalisme, yaitu kebenaran fakta objektif.  

Praktisi media nasional, Merdi Sofansyah, mengingatkan redaksi media untuk lebih kritis terhadap produk berita yang sepenuhnya mengandalkan otomatisasi mesin tanpa sentuhan manusia. Hal ini dikarenakan AI memiliki kelemahan fatal berupa produksi informasi palsu yang tampak meyakinkan.  

Baca Juga : Marak Penggunaan AI di Industri Pers, Praktisi Media Sebut Ancaman Hukum Pelanggaran HAKI Mengintai Redaksi

Merdi menyoroti fenomena berbahaya yang dikenal sebagai AI Hallucination Trap atau jebakan halusinasi AI. Kondisi ini terjadi ketika algoritma komputer menciptakan data atau rujukan karangan yang tidak ada di dunia nyata.  

"Jangan pernah menelan mentah-mentah hasil tulisan mesin karena AI sering kali mengarang referensi ilmiah atau kutipan palsu agar terlihat meyakinkan," tutur Merdi Sofansyah, belum lama ini.

Menurut Merdi, teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi verifikasi manual yang dilakukan oleh jurnalis di lapangan. Konfirmasi kepada narasumber kunci dan observasi langsung tetap menjadi elemen mutlak dalam menguji sebuah kebenaran informasi.  

Selain risiko disinformasi, penggunaan AI secara berlebihan dalam ruang redaksi juga memicu ancaman dehumanisasi produk jurnalistik. Gaya penulisan komputer yang serba matematis dinilai kaku dan miskin akan empati sosiologis.  

Narasi jurnalisme investigatif dan berita mendalam (human interest) yang menyentuh nurani pembaca dinilai tidak akan mampu ditiru oleh mesin. Merdi menyebut, AI tidak memiliki perasaan atau pemahaman mendalam tentang penderitaan manusia serta ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.  

Baca Juga : Sudah Ditertibkan, PKL Kembali Berjualan, Janji Penataan Pasar Kebalen Dipertanyakan

"Berita yang kehilangan ruh kemanusiaan hanyalah tumpukan teks kosong yang gagal menggerakkan perubahan sosial," lanjut Merdi. Baginya, jurnalisme sejati membutuhkan empati, intuisi, dan keberpihakan pada publik yang hanya dimiliki oleh manusia.  

Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, Merdi menegaskan pentingnya memegang prinsip Human in Command dalam setiap lini produksi berita. AI harus ditempatkan murni sebagai alat bantu pengolahan data teknis, bukan penentu akhir sebuah narasi berita agar tidak masuk jebakan halusinasi AI.  

"Setiap jurnalis dan editor memiliki tanggung jawab penuh untuk memeriksa ulang setiap baris kalimat yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Pada akhirnya, kejujuran fakta dan kedalaman nurani wartawan adalah benteng terakhir yang menjaga marwah ruang redaksi di era digital," terangnya.


Topik

Peristiwa, ai hallucination ai, jebakan halusinasi ai, penggunaan ai di media,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette