Layangan Sukhoi Malang Mendunia, Sekali Kirim ke Prancis Tembus 5.000 Unit
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
08 - Jun - 2026, 07:07
JATIMTIMES - Di tengah gempuran permainan digital dan semakin terbatasnya ruang terbuka, tradisi bermain layangan di Malang ternyata masih bertahan kuat. Bahkan, layangan khas Malang jenis Sukhoi berhasil menembus pasar internasional dan menjadi salah satu produk budaya lokal yang dikenal hingga mancanegara.
Lucky Maulana, pemilik Ahoed DC Malang, mengungkapkan bahwa layangan Sukhoi buatan Malang telah lama memiliki pasar tersendiri di sejumlah negara. Kualitas, desain, serta karakteristik khas yang dimiliki membuat produk tersebut diminati para pehobi layangan dari berbagai belahan dunia.
Baca Juga : BPJS Kesehatan Terapkan Aturan Baru Kontrol Pasien Mulai Juni 2026, Ini Ketentuannya
“Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia,” ujar Lucky, Senin (8/6/2026).
Tak hanya dikenal, permintaan dari luar negeri juga tergolong besar. Dalam sekali pengiriman ke Prancis, jumlah layangan yang dikirim bisa mencapai ribuan unit. “Kalau ke Prancis sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan," ungkapnya.
Layangan yang diekspor umumnya berada pada kisaran harga Rp5.000 hingga Rp10.000 per unit. Meski terlihat sederhana, produk tersebut mampu bersaing dengan layangan dari berbagai daerah lain karena kualitas pengerjaan yang dinilai konsisten.
Lucky menuturkan, Malang selama ini dikenal sebagai salah satu pelopor layangan Sukhoi di Indonesia. Meski sejumlah daerah seperti Bandung dan Pasuruan juga memiliki sentra pengrajin layangan, produk asal Malang tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pehobi.
Usaha yang dirintis keluarganya sejak tahun 1960 itu pun masih bertahan hingga kini. Perkembangan teknologi turut membuka peluang pasar yang lebih luas melalui penjualan daring. Bahkan, peminat layangan kelas turnamen justru banyak berasal dari luar Pulau Jawa.
“Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp30 juta sampai Rp 50 juta,” katanya.
Meski demikian, bisnis layangan tetap bergantung pada musim. Saat ini, permintaan pasar sedang mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Lucky optimistis kondisi tersebut hanya sementara karena musim layangan biasanya mulai bergairah pada Juni hingga menjelang datangnya musim hujan.
“Layangan memang musiman. Biasanya mulai ramai bulan Juni sampai menjelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu,” tuturnya.
Baca Juga : Diduga Akibat Instalasi Listrik Tak Standar, Dua Rumah di Desa Pendem Kota Batu Hangus Terbakar
Kuatnya budaya layangan di Malang juga tercermin dari besarnya komunitas yang masih aktif hingga saat ini. Ribuan pemain layangan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga kawasan Malang Selatan.
Aktivitas kompetisi pun nyaris tidak pernah berhenti. Setiap pekan, sedikitnya lima hingga enam turnamen layangan digelar secara bergantian di berbagai lokasi. “Kalau pemain layangan di Kota Malang jumlahnya ribuan. Lomba satu hari saja pasti penuh peserta. Tiap minggu selalu ada turnamen,” jelasnya.
Di balik geliat tersebut, para pegiat layangan menghadapi tantangan berupa semakin berkurangnya lahan terbuka akibat pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan. Kondisi ini dinilai dapat mengancam keberlangsungan tradisi yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Malang selama puluhan tahun.
Karena itu, Lucky berharap pemerintah dapat menyediakan ruang khusus bagi para pegiat layangan, terutama anak-anak, agar tradisi yang telah mengharumkan nama Malang hingga pasar internasional itu tetap terjaga.
“Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan,” pungkasnya.
