Olah Sampah, Kolaborasi Unikama, Hotel dan UMKM Dorong Transformasi Food Waste Bernilai Ekonomi

04 - Jun - 2026, 03:27

Kegiatan Beyond Waste: Transforming Food Waste into Sustainable Impact yang digelar melalui kolaborasi Grand Mercure Malang Mirama, Unikama, People Hub, pelaku usaha lokal serta berbagai UMKM sektor makanan dan minuman (ist)


JATIMTIMES – Tumpukan sampah makanan selama ini identik dengan persoalan lingkungan yang tak kunjung selesai. Mulai dari sisa makanan rumah tangga, limbah restoran, pasar tradisional hingga industri kuliner, sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, di balik limbah organik tersebut tersimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan tepat.

Gagasan itulah yang diangkat dalam kegiatan Beyond Waste: Transforming Food Waste into Sustainable Impact yang digelar melalui kolaborasi Grand Mercure Malang Mirama, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), People Hub, pelaku usaha lokal serta berbagai UMKM sektor makanan dan minuman, Kamis, (4/6/2026).

2

Kegiatan yang digelar menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia tersebut tidak sekadar menghadirkan seminar tentang pengelolaan sampah, tetapi juga memperlihatkan secara langsung bagaimana limbah makanan dapat diolah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi. Para peserta bahkan diajak menyaksikan demonstrasi pembuatan pakan ternak dari bahan baku limbah makanan yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai.

Baca Juga : Wisman Tumbuh di Tengah Pelemahan Rupiah, Nila Yani Minta Pariwisata Tak Abaikan Pasar Domestik

Selain membuka wawasan mengenai pengelolaan sampah, kegiatan ini juga memberikan solusi praktis bagi pelaku UMKM. Sejumlah peserta yang bergerak di bidang kuliner diketahui menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap hari. Melalui pelatihan tersebut, mereka didorong untuk tidak lagi memandang sampah sebagai beban operasional, melainkan sebagai sumber pendapatan tambahan yang dapat dimanfaatkan kembali.

1

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Sumber Daya dan Universitas Unikama, Irma Tyasari, SE, S.Pd., MM., Ak., CA., CPA., CRA., Ph.D., menjelaskan bahwa konsep ekonomi sirkular saat ini menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari suatu aktivitas usaha.

Menurutnya, ekonomi sirkular merupakan strategi yang mengubah sesuatu yang sebelumnya hanya dianggap sebagai biaya menjadi sumber nilai baru yang memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

"Kalau kita berbicara ekonomi sirkular itu sebenarnya merupakan bagian dari strategi bisnis. Sesuatu yang awalnya menjadi biaya, bagaimana itu bisa memberikan value yang tentunya berdampak pada stakeholder yang ada di lingkungan kita," ujar Irma.

Ia menilai kesadaran terhadap ekonomi sirkular di Kota Malang terus berkembang. Berbagai perguruan tinggi mulai mengembangkan program yang berorientasi pada pemanfaatan limbah menjadi sumber daya baru yang lebih produktif.

3

Di lingkungan Unikama sendiri, konsep tersebut diterapkan melalui berbagai program penelitian dan pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen lintas disiplin ilmu. Salah satunya dilakukan oleh Fakultas Peternakan yang memanfaatkan limbah industri tahu menjadi pakan ternak.

Irma menjelaskan bahwa limbah dari para pelaku usaha tahu di kawasan Sukun dikumpulkan dan diolah menjadi pakan untuk berbagai ternak yang dimiliki kampus, mulai dari sapi, kambing hingga ayam.

"Nah, Bu Ida ini mengakomodasi semua sampah-sampah penghasil tahu yang ada di lingkungan Sukun. Kemudian diolah menjadi pakan ternak yang ada di Unikama. Kami punya sapi, kambing dan ayam. Hasilnya tidak hanya menjadi sarana pembelajaran mahasiswa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi," katanya.

Menurut Irma, hasil peternakan tersebut telah memberikan manfaat nyata. Kambing dan sapi hasil pemeliharaan kampus berhasil dipasarkan saat momentum Idul Adha, sementara peternakan ayam telah bekerja sama dengan pihak ketiga yang secara rutin menyerap hasil panen setiap tiga bulan.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan limbah di Unikama tidak hanya terbatas pada aspek peternakan. Berbagai program studi turut terlibat dalam pengembangan teknologi pendukung, termasuk pemanfaatan sensor yang dikembangkan oleh bidang Teknologi Informasi dan Sistem Informasi untuk memantau kondisi peternakan secara jarak jauh.

"Kami menggandeng teman-teman Teknologi Informasi dan Sistem Informasi untuk mengembangkan sensor yang digunakan memantau kondisi kandang. Jadi ada kolaborasi antarprogram studi untuk menghasilkan sesuatu yang berdampak bagi masyarakat," ujarnya.

Meski demikian, Irma mengakui bahwa potensi pemanfaatan limbah di Kota Malang masih sangat besar, terutama dari pasar-pasar tradisional yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar setiap hari.

Namun, menurutnya, pengolahan limbah pasar memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik sampahnya yang bercampur dan tidak terpilah.

"Kalau sampah pasar itu sedikit berbeda treatment-nya. Untuk pakan ternak, bahan baku harus benar-benar dipilah. Jangan sampai pakan yang dihasilkan mempengaruhi sistem pencernaan ternak. Karena itu ada proses tambahan seperti pengurangan minyak, pengeringan dan penyesuaian kadar air," jelasnya.

Irma juga menyebut bahwa dalam proses pengelolaan limbah, tim di Unikama memanfaatkan teknologi berbasis maggot untuk membantu proses penguraian bahan organik.

Sementara itu, dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa limbah makanan sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan masyarakat.

Baca Juga : Tiga Jamaah Haji Asal Situbondo Meninggal Dunia di Mekkah, Kemenhaj Pastikan Dimakamkan di Tanah Suci

Menurutnya, selama ini limbah makanan dari hotel sudah dimanfaatkan sebagian sebagai pupuk maupun pakan ternak. Namun volume yang cukup besar membuka peluang pengembangan produk lain yang lebih bernilai.

"Karena produksinya cukup tinggi, limbah ini sangat potensial dikembangkan menjadi produk olahan lain. Bisa menjadi pupuk kompos, pupuk organik maupun pakan ternak melalui teknik pengolahan tertentu," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Tri Ida memperagakan metode fermentasi sebagai salah satu teknik sederhana yang dapat diterapkan oleh masyarakat untuk mengolah limbah makanan rumah tangga maupun limbah usaha kuliner.

Ia menjelaskan bahwa fermentasi memiliki peran penting untuk menekan pertumbuhan bakteri serta meningkatkan kualitas bahan sebelum dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Metode tersebut tidak hanya cocok diterapkan di hotel berbintang, tetapi juga dapat digunakan oleh restoran kecil, warung makan, pedagang pasar hingga UMKM pengolahan pangan.

"Beberapa UMKM yang hadir hari ini menghasilkan limbah sampai satu hingga dua kuintal per hari. Kalau limbah itu dibiarkan tentu akan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Tetapi jika diolah dengan baik, bisa menjadi pakan ternak ataupun pupuk yang memiliki nilai ekonomis," ujarnya.

Tri Ida menjelaskan bahwa proses fermentasi dapat dilakukan menggunakan bahan yang mudah diperoleh masyarakat seperti dedak, bekatul, air cucian beras, air kelapa maupun tetes tebu. Waktu fermentasi berkisar antara tujuh hingga empat belas hari, tergantung jenis bahan baku yang digunakan.

"Kalau bahan yang digunakan banyak mengandung hijauan biasanya sekitar dua minggu. Tetapi kalau berasal dari limbah nasi atau limbah roti, sekitar satu minggu sudah bisa digunakan," jelasnya.

Di sisi lain, sektor perhotelan juga mulai mengambil peran aktif dalam upaya pengurangan sampah makanan. Grand Mercure Malang Mirama menjadi salah satu hotel yang menerapkan pengelolaan food waste secara berkelanjutan.

Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, mengungkapkan bahwa limbah makanan terbesar di hotel berasal dari layanan sarapan. Jumlahnya bervariasi mengikuti tingkat okupansi tamu yang menginap.

Menurutnya, ketika jumlah tamu sarapan berada di kisaran 250 orang, limbah makanan yang dihasilkan rata-rata mencapai 8 hingga 10 kilogram per hari. Namun saat okupansi meningkat hingga 400 sampai 500 tamu, jumlah limbah dapat naik menjadi 13 hingga 15 kilogram.

"Kalau dari Grand Mercure sendiri untuk food waste yang berasal dari restoran memang paling banyak dari breakfast. Kalau okupansi breakfast sekitar 250 orang, sampah yang dihasilkan kurang lebih 8 sampai 10 kilogram. Ketika breakfast mencapai 400 sampai 500 orang, jumlahnya bisa mencapai 13 sampai 15 kilogram," kata Wahyu.

Ia menjelaskan bahwa jaringan Accor telah menetapkan batas maksimal limbah makanan harian sebesar 15 kilogram. Karena itu berbagai program pengurangan sampah terus dijalankan agar angka tersebut tidak terlampaui.

"Di Accor sendiri ada baseline yang mengatur bahwa food waste maksimal 15 kilogram per hari. Karena itu kami harus benar-benar mengantisipasi agar sampah makanan tetap di bawah angka tersebut. Salah satunya melalui pengolahan kembali dan pemanfaatan untuk pakan ternak," ujarnya.

Kolaborasi yang terjalin antara dunia pendidikan, industri perhotelan, komunitas, dan pelaku UMKM ini menunjukkan bahwa sampah makanan tidak selalu berakhir menjadi masalah lingkungan. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, limbah dapat diubah menjadi sumber daya produktif yang memberikan manfaat ekonomi, mendukung sektor peternakan, sekaligus mengurangi beban lingkungan yang selama ini ditanggung tempat pembuangan akhir.


Topik

Pendidikan, Olah Sampah, Kolaborasi, Unikama, Hotel, UMKM, Food Waste, Bernilai Ekonomi,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette