Jerawat Tak Kunjung Hilang? Cek Kandungan Skincare Comedogenic atau Non-Comedogenic

Reporter

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

01 - Jun - 2026, 08:09

Kondisi wajah yang sehat. (Foto: Pinterest)


JATIMTIMES - Sudah rajin memakai skincare tetapi jerawat tetap muncul? Bisa jadi penyebabnya bukan pada rutinitas perawatan kulit, tapi kandungan dalam produk yang digunakan. Karena itu, penting untuk memahami perbedaan skincare comedogenic dan non-comedogenic sebelum membeli produk perawatan wajah.

Ya belakangan ini, istilah comedogenic dan non-comedogenic semakin sering ditemukan pada kemasan produk perawatan kulit. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan penting untuk dipahami, terutama bagi pemilik kulit berminyak serta rentan berjerawat.

Baca Juga : Jemaah Haji Kota Batu Tiba di Kampung Halaman Besok, Seluruhnya dalam Kondisi Sehat

Secara umum, produk comedogenic adalah produk yang berpotensi menyumbat pori-pori. Pada saat pori tersumbat oleh minyak, sel kulit mati, maupun kotoran, kondisi tersebut dapat memicu munculnya komedo hingga jerawat.

Dermatolog bersertifikat Dr Vivian Chin menjelaskan bahwa komedo merupakan kondisi ketika pori-pori atau folikel rambut mengalami penumpukan minyak, bakteri, dan sel kulit mati yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab jerawat.

“Komedo adalah pori-pori atau folikel rambut yang umumnya memiliki penumpukan bakteri, minyak, dan sel kulit mati, dan dapat menjadi faktor penyebab jerawat,” kata Vivian Chin.

Sementara itu, produk non-comedogenic dirancang dengan formula yang dinilai lebih kecil kemungkinannya menyebabkan penyumbatan pori. Karena itu, produk dengan label tersebut sering direkomendasikan bagi pemilik kulit berminyak, berkomedo, maupun acne-prone.

Istilah non-comedogenic merujuk pada produk yang tidak berpotensi menyebabkan pori-pori tersumbat.

Meski demikian, label non-comedogenic bukan berarti produk tersebut pasti cocok untuk semua orang. Respons kulit setiap individu bisa berbeda tergantung kondisi kulit, sensitivitas terhadap bahan tertentu, hingga kombinasi produk yang digunakan sehari-hari.

Baca Juga : Tarif Listrik Juni 2026 Aman Tidak Naik, Berikut Daftar Lengkap Harga per kWh

Sedang dokter kulit dan ahli bedah kosmetik, Dr Melanie Palm, mengingatkan bahwa tingkat komedogenik suatu bahan bisa berbeda tergantung formulasi produk yang digunakan. “Kepekaan komedogenik bahan-bahan ini dapat sangat bervariasi tergantung pada formulasi dan penyempurnaannya,” jelas  Palm.

Beberapa bahan yang dikenal memiliki tingkat komedogenik cukup tinggi antara lain coconut oil (minyak kelapa), cocoa butter, hingga beberapa jenis minyak dan emolien yang bertekstur berat. Pada sebagian orang, bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan risiko penyumbatan pori apabila digunakan secara berlebihan.

Di sisi lain, produk non-comedogenic umumnya menggunakan formula yang lebih ringan dan banyak mengandung bahan berbasis air. Produk seperti ini dinilai lebih aman digunakan untuk membantu mencegah munculnya komedo maupun jerawat akibat pori-pori tersumbat.

Meski demikian, para ahli tetap menyarankan konsumen untuk tidak hanya terpaku pada label kemasan. Membaca daftar kandungan, mengenali tipe kulit, serta melakukan patch testsebelum menggunakan produk baru menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko iritasi maupun breakout.


Topik

Gaya Hidup, Jerawat, menghilangkan jerawat, skincare comedogenic, skincare non-comedogenic,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette