Dolar Tembus Rp17.800, Berikut Tips dari Pakar Ekonomi Agar Keuangan Tak Makin Terjepit
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
30 - May - 2026, 07:09
JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan. Dalam beberapa hari terakhir, mata uang Indonesia bahkan bergerak di level Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat khawatir masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan dampaknya terhadap pengeluaran rumah tangga.
Pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika berlangsung dalam periode tertentu, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari harga barang impor hingga biaya produksi sejumlah sektor usaha.
Baca Juga : Kebangkitan Angkot di Depan Mata, Investor Tunggu Lampu Hijau Pemkot Malang
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/5/2026), rupiah berada di level Rp 17.845 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara data Yahoo Finance menunjukkan rupiah ditutup di angka Rp 17.865 per dolar AS, turun 81 poin atau sekitar 0,46 persen.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dinilai perlu lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan pribadi agar tidak mudah terdampak gejolak ekonomi.
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Budi Wahyu Mahardhika, menilai pelemahan rupiah dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengevaluasi kembali kebiasaan finansial yang selama ini dijalani.
Menurutnya, salah satu langkah yang perlu mendapat perhatian adalah mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan konsumtif. "Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif," ujarnya, dikutip dari laman UMSURA, Sabtu (30/5/2026).
Budi menilai banyak orang sering kali tidak menyadari bahwa berbagai pengeluaran kecil yang dianggap biasa justru menjadi sumber kebocoran keuangan. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan keluarga dalam menghadapi situasi darurat.
Karena itu, sebelum memutuskan membeli sesuatu, masyarakat perlu memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar memenuhi keinginan sesaat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, Budi mengingatkan masyarakat agar lebih selektif ketika memanfaatkan fasilitas kredit atau cicilan.
Menurutnya, skema pembayaran bertahap memang terlihat ringan pada awalnya. Namun kondisi dapat berubah ketika suku bunga meningkat atau pendapatan keluarga mengalami tekanan.
"Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting," ucapnya.
Ia menilai keputusan membeli barang secara kredit sebaiknya hanya dilakukan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak dan memiliki nilai manfaat jangka panjang.
Selain mengurangi beban utang, masyarakat juga didorong mulai memperkuat cadangan keuangan.
Budi menjelaskan bahwa dana darurat berfungsi sebagai bantalan ketika terjadi kondisi yang tidak direncanakan, seperti kebutuhan kesehatan mendadak, kehilangan pekerjaan, maupun pengeluaran penting lainnya.
Membangun dana darurat, kata dia, tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar. Kebiasaan menyisihkan uang secara rutin justru lebih penting dibandingkan jumlah yang disimpan.
Baca Juga : Dipimpin Wali Kota Mas Ibin, Pemkot Blitar Kembali Sabet Opini WTP Ke-16 Berturut-turut
Masyarakat dapat memulai dengan nominal sederhana, misalnya Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu setiap pekan.
"Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial," kata Budi.
Menurut Budi, pengelolaan keuangan yang sehat tidak selalu membutuhkan langkah besar. Perubahan sederhana dalam aktivitas harian juga dapat membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga.
Salah satu caranya adalah mengurangi frekuensi makan di luar rumah, membeli minuman di kafe, maupun aktivitas konsumtif lain yang sebenarnya dapat ditekan.
Dana yang biasanya digunakan untuk kebutuhan tersebut dapat dialihkan menjadi tabungan, dana darurat, atau investasi jangka panjang.
Selain mengatur pengeluaran, Budi menilai masyarakat perlu mulai memikirkan diversifikasi sumber pendapatan. Ketergantungan pada satu pekerjaan utama dinilai cukup berisiko, terutama ketika kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan atau perusahaan melakukan efisiensi.
Karena itu, masyarakat dianjurkan mulai mencari peluang tambahan sesuai kemampuan masing-masing, baik melalui usaha kecil, pekerjaan lepas, maupun jasa tertentu yang bisa dikerjakan di luar aktivitas utama.
"Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar," jelasnya.
Menurut Budi, kemampuan mengelola pengeluaran sekaligus menambah sumber pemasukan akan membuat kondisi finansial rumah tangga lebih tangguh menghadapi berbagai perubahan ekonomi.
Ketika nilai tukar rupiah berfluktuasi dan ketidakpastian global masih membayangi, disiplin dalam mengatur keuangan menjadi langkah yang dinilai paling realistis untuk dilakukan masyarakat saat ini.
