Usul Menteri PPPA Pindahkan Gerbong Wanita ke Tengah KRL Tuai Pro Kontra, Publik Soroti Keselamatan
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
29 - Apr - 2026, 06:12
JATIMTIMES - Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi soal pemindahan gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian KRL menuai sorotan publik. Wacana tersebut muncul usai kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) yang menewaskan 16 orang.
Dalam insiden itu, gerbong paling belakang yang merupakan gerbong khusus wanita menjadi salah satu bagian yang mengalami dampak paling besar. Karena itu, Arifah mendorong adanya evaluasi terhadap posisi gerbong perempuan di rangkaian kereta.
Baca Juga : Insiden Bekasi Timur, 2 KA Batal dan 2 Terlambat di Stasiun Malang
Arifah Fauzi mengatakan usulan tersebut muncul setelah berdiskusi dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurutnya, selama ini gerbong wanita ditempatkan di bagian depan atau belakang untuk menghindari penumpukan penumpang.
Namun setelah kecelakaan di Bekasi Timur, ia menilai perlu dilakukan kajian ulang.
“Kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Usulan ini kemudian menjadi perhatian banyak pihak. Berikut tanggapan sejumlah pihak terkait wacana tersebut.
AHY: Jadi Bahan Evaluasi, Tapi Keselamatan untuk Semua
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut posisi gerbong menjadi salah satu catatan evaluasi pemerintah.
Ia mengakui gerbong paling belakang menerima dampak langsung saat tabrakan terjadi. Meski demikian, AHY menegaskan keselamatan transportasi harus berlaku sama bagi seluruh penumpang tanpa membedakan laki-laki maupun perempuan.
“Laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun,” tegas AHY.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah menghadirkan sistem transportasi yang aman, nyaman, dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Respons KAI Soal Usulan Pemindahan Gerbong
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan pihaknya tidak membedakan gender dalam aspek keselamatan penumpang.
Ia menjelaskan, keberadaan gerbong khusus wanita selama ini bertujuan memberikan kenyamanan, kemudahan akses, mencegah pelecehan seksual, serta mempermudah pengawasan petugas keamanan.
“Bagi kami PT Kereta Api Indonesia, keselamatan adalah nomor satu. Tidak ada toleransi, tidak ada kompromi,” kata Bobby.
Karena itu, penempatan gerbong wanita bukan berkaitan dengan nilai keselamatan yang berbeda antara penumpang laki-laki dan perempuan.
Pakar Nilai Bukan Solusi Utama
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai usulan tersebut bisa menjadi bahan evaluasi. Namun, menurutnya, persoalan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan posisi gerbong.
Baca Juga : Lima Kloter Jamaah Haji Asal Lamongan Diberangkatkan
“Usulan itu penting. Tapi evaluasi tak boleh berhenti di posisi gerbong saja,” tutur Radius.
Ia menilai pembenahan sistem keselamatan, kesiapan petugas, dan kebijakan transportasi yang sensitif gender jauh lebih penting.
Hal senada disampaikan pengamat transportasi Djoko Setijowarno. Ia menyebut akar persoalan terletak pada lemahnya sistem keselamatan transportasi dan minimnya edukasi keselamatan kepada masyarakat.
“Itu bukan solusi. Akar masalahnya ada pada keselamatan bertransportasi,” ucap Djoko.
Menurut Djoko, Indonesia juga masih tertinggal karena belum memiliki kurikulum keselamatan transportasi seperti di sejumlah negara maju.
DPR Minta Fokus ke Sistem Keselamatan
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, menilai perlindungan perempuan tidak cukup hanya bersifat simbolik.
Ia meminta pemerintah memprioritaskan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi, mulai dari persinyalan, mitigasi tabrakan, prosedur darurat, ketahanan rangkaian kereta, hingga perlindungan penumpang saat kecelakaan.
“Jika sistemnya aman, posisi gerbong tidak menjadi isu utama,” tegas Selly.
Publik Ramai Beri Tanggapan
Usulan tersebut juga ramai dibahas di media sosial. Banyak warganet menilai pemindahan gerbong wanita ke tengah bukan solusi utama, melainkan hanya memindahkan risiko ke gerbong lain.
Sebagian publik berharap pemerintah lebih fokus pada pencegahan kecelakaan, peningkatan keamanan jalur rel, modernisasi sinyal, dan sistem tanggap darurat.
Wacana pemindahan gerbong wanita ke tengah rangkaian KRL memunculkan pro dan kontra. Sebagian pihak menilai ide itu layak dikaji, namun banyak yang menegaskan solusi utama tetap berada pada pembenahan sistem keselamatan transportasi secara menyeluruh.
