Peringati Hari Kartini di Candi Kidal: Ibu-ibu Kebaya Malang Baca Relief hingga Anyam Janur
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
26 - Apr - 2026, 08:28
JATIMTIMES - Peringatan Hari Kartini di kawasan Candi Kidal berlangsung berbeda tahun ini. Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) Kabupaten Malang menggelar kegiatan edukasi dan refleksi tentang peran perempuan dalam lintas zaman. Digelar pada Minggu (26/4), acara ini memadukan nilai sejarah, budaya, hingga filosofi kehidupan perempuan yang diwariskan leluhur.
Mengangkat semangat Raden Ajeng Kartini, kegiatan ini juga mengaitkan perjuangan perempuan dengan kisah dalam relief Garudeya di Candi Kidal. Relief tersebut menceritakan perjuangan Garuda dalam membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan. Kisah ini dimaknai sebagai simbol bakti anak kepada ibu sekaligus bentuk penghormatan terhadap perempuan.
Baca Juga : Kebaya Akad Nikah Syifa Hadju Jadi Sorotan, Karya Vera Anggraini Ini Simpan Detail Mewah dan Filosofi Elegan
Sekitar 50 anggota KKI Kabupaten Malang terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari membaca relief candi, menyaksikan pertunjukan seni tradisi, hingga praktik membuat kerajinan dari janur.
Suasana budaya terasa kental dengan hadirnya sejumlah pelaku seni dan budaya, seperti Ki Suroso, Ki Demang, Syamsul Bahri, Ki Seta, hingga Joko Rendi. Mereka turut memberikan warna dalam kegiatan yang berlangsung di pelataran candi.
Penampilan tari tradisional dari Sanggar Setyotomo Glagahdowo Tumpang juga menjadi bagian penting dalam acara, memperkuat nuansa kearifan lokal yang diangkat.
Narasumber utama, Rakai Hino Galeswangi, menjelaskan bahwa Candi Kidal merupakan candi bercorak Hindu yang dikenal dengan relief Garudeya yang sarat pesan moral.
“Dalam kisah Garudeya, terlihat bagaimana seorang anak membela dan mengangkat derajat ibunya. Ini menunjukkan bahwa sejak masa Hindu-Buddha, perempuan memiliki posisi yang dimuliakan dan setara. Bahkan dalam tradisi Islam, ibu disebut tiga kali untuk diutamakan. Artinya, perempuan adalah sumber inspirasi dan pusat nilai kehidupan,” jelasnya.
Ketua KKI Kabupaten Malang, Endah Purwatiningsih, menjelaskan soal alasan pemilihan Candi Kidal. “Kami ingin para perempuan, khususnya anggota KKI, memahami bahwa nilai perjuangan perempuan tidak hanya hadir dalam sejarah modern, tetapi juga telah tertanam kuat dalam warisan budaya leluhur,” ujarnya.
Ia juga mengajak perempuan untuk terus menjaga nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sopan santun hingga budi pekerti yang tercermin dalam relief candi.
Tak hanya belajar sejarah, peserta juga diajak praktik langsung membuat kerajinan janur di bawah rindangnya pepohonan sekitar candi. Kegiatan ini dipandu oleh Syamsul Bahri dan Bu Suli.
Baca Juga : Sah! El Rumi dan Syifa Hadju Resmi Menikah, Akad Berlangsung Khidmat dan Lancar
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula filosofi tentang tujuh bidadari yang dikenal dalam kisah pewayangan, yakni Gagar Mayang, Leng Leng Mulat, Tunjung Biru, Warsiki, Mini Towok, Irim-irim, dan Dewi Suprobo.

Tarian Gambyong bertajuk “Mari Kangen” saat acara. (Foto: istimewa)
Nilai-nilai dari kisah tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk anyaman janur seperti keris-kerisan, payung, pecutan, rontek, kapasan, hingga ornamen burung jantan dan betina, serta hiasan bunga. Semua memiliki makna simbolik dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kemudian ditutup dengan tarian Gambyong bertajuk “Mari Kangen” yang dibawakan di pelataran candi. Tarian ini dipandu oleh Endang dari Sanggar Topeng Setyotomo Glagahdowo.
Penampilan tersebut menjadi simbol kegembiraan sekaligus bentuk penghormatan terhadap budaya yang terus dijaga dan diwariskan.
