Petunjuk Rasulullah tentang Puasa Seorang Musafir
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
02 - Mar - 2025, 09:56
JATIMTIMES - Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam yang telah baligh dan sehat. Namun, bagi musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan, hukum puasa memiliki kelonggaran tertentu.
Nabi Muhammad SAW, sebagai teladan umat, telah memberikan petunjuk yang jelas tentang bagaimana seharusnya sikap seorang musafir terkait dengan puasa, baik saat memutuskan untuk berpuasa maupun tidak.
Baca Juga : Ratu Kalinyamat: Antara Dendam, Politik, dan Perjuangan Melawan Portugis
Dalam kehidupan Rasulullah SAW, terdapat contoh yang menunjukkan bahwa beliau pernah berpuasa dalam perjalanan, tetapi juga pernah tidak berpuasa. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada paksaan atau kewajiban mutlak bagi seorang musafir untuk tetap berpuasa. Dan Islam mengajarkan untuk tidak mencela keduanya, baik yang memilih untuk berbuka maupun yang tetap berpuasa.
Salah satu hadis yang sering dijadikan acuan tentang puasa bagi musafir adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. Dalam hadis ini, beliau menyampaikan pesan dari Rasulullah SAW:
"Janganlah mencela orang yang puasa dan orang yang tidak puasa dalam perjalanan. Karena Rasulullah SAW pernah puasa dan tidak puasa dalam perjalanan." (HR Muslim).
Hadis ini mengingatkan umat Islam untuk tidak mengkritik sesama musafir, baik yang memutuskan untuk tetap berpuasa maupun yang memilih untuk berbuka. Dalam ajaran Islam, menghormati pilihan orang lain adalah hal yang utama, apalagi dalam situasi seperti perjalanan yang penuh tantangan.
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA, Rasulullah SAW memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai puasa dalam perjalanan:
"Dalam suatu perjalanan, Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki dikerumuni banyak orang, lalu orang itu dilindungi oleh beliau seraya bertanya, 'Mengapa dia?' Mereka menjawab, 'Dia puasa.' Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Puasa dalam perjalanan tidak termasuk kebajikan, apabila dengan puasa itu ia mendapat kesulitan karena perjalanannya yang jauh dan berat.'" (HR Muslim).
Hadis ini memberikan pemahaman bahwa meskipun puasa adalah ibadah yang sangat mulia, namun dalam situasi perjalanan yang berat, seperti perjalanan yang jauh dan memengaruhi kondisi tubuh, berpuasa justru bisa menjadi beban. Rasulullah SAW menegaskan bahwa dalam hal ini, berbuka lebih disarankan agar tidak membahayakan diri.
Baca Juga : Tips Puasa Tetap Sehat bagi Penderita Asam Lambung dan Maag
Hadis lain yang diceritakan oleh Abu Said Al Khudri RA juga memberikan gambaran mengenai puasa dalam perjalanan. Beliau menceritakan:
"Kami ikut berperang bersama Rasulullah SAW pada tanggal enam belas Ramadan. Di antara kami ada yang puasa dan ada pula yang berbuka. Namun tidak ada orang puasa mencela orang berbuka, atau sebaliknya orang berbuka mencela orang puasa." (HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa di kalangan sahabat, tidak ada kecaman atau penghinaan antara mereka yang memilih untuk berpuasa dan yang memilih untuk berbuka selama perjalanan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya sikap saling menghormati dan menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan dalam menjalankan ibadah puasa.
Melalui ketiga hadis di atas, dapat dicerna bahwa Islam memberikan kelonggaran bagi musafir terkait dengan puasa. Rasulullah SAW memberikan contoh yang jelas, bahwa baik memilih untuk berpuasa atau berbuka, keduanya adalah pilihan yang sah selama perjalanan dan tidak seharusnya ada celahan atau kritik terhadap keputusan orang lain.
Inti dari ajaran ini adalah fleksibilitas dalam beribadah, dengan tetap menjaga kesehatan dan keselamatan tubuh yang lebih utama. Dalam menjalankan ibadah, niat dan kondisi fisik menjadi pertimbangan penting. Oleh karena itu, musafir yang sedang dalam perjalanan sebaiknya bijaksana dalam memutuskan apakah akan berpuasa atau berbuka, sesuai dengan kondisi perjalanan dan kesehatannya.
