Syarif Nurullah: Adik Sunan Gunung Jati yang Jadi Penguasa Mesir

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

03 - Dec - 2024, 10:27

Ilustrasi. (Foto: JatimTIMES)


JATIMTIMES - Di balik cahaya terang Sunan Gunung Jati, ada bayang-bayang sejarah yang samar namun penting. Syarif Nurullah, adik satu-satunya, menyimpan cerita tentang kekuasaan, kesetiaan, dan penobatan di Mesir yang jarang terungkap dalam lembar sejarah Nusantara.

Nama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati telah menjadi ikon dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Namun, cerita tentang adiknya, Syarif Nurullah, sering terlewat. Dalam naskah-naskah klasik seperti Carita Purwaka Caruban Nagari dan Naskah Mertasinga, Syarif Nurullah disebut sebagai adik Sunan Gunung Jati yang menggantikan ayah mereka, Syarif Hud, sebagai penguasa Kota Ismailiyah di Mesir.

Baca Juga : Kabar Duka, Aktor Park Min Jae Mendadak Meninggal Dunia

Menurut sumber-sumber tersebut, Syarif Nurullah lahir pada tahun 1449, setahun setelah kelahiran Sunan Gunung Jati. Ia adalah putra kedua dari pasangan Syarif Hud, seorang penguasa keturunan Nabi Muhammad, dan Rara Santang atau Syarifah Mudaim, putri Kerajaan Pajajaran. Kehadiran dua anak ini menjadi simbol perpaduan dua dunia: kekuasaan Islam di Timur Tengah dan tradisi Nusantara.

Ketika Syarif Hud wafat, tugas untuk memimpin Kota Ismailiyah jatuh pada pundak anak-anaknya. Awalnya, takhta diwariskan kepada Syarif Hidayatullah. Namun, karena janji yang diikrarkan Rara Santang dengan Syarif Hud untuk mengutus salah satu anaknya berdakwah di tanah Sunda, Syarif Hidayatullah memilih kembali ke Cirebon. Posisi penguasa Ismailiyah kemudian diserahkan kepada Syarif Nurullah.

Dalam Naskah Mertasinga, diceritakan bahwa pengalihan kekuasaan ini bukan tanpa tantangan. Pada masa transisi, pemerintahan Ismailiyah sempat dikelola oleh seorang patih bernama Ongka hingga Syarif Nurullah dianggap cukup dewasa untuk memegang kendali penuh. Ketika waktu penobatan tiba, sebuah undangan khusus dikirimkan kepada Syarif Hidayatullah yang saat itu telah menjadi Sultan Cirebon. Undangan ini menandakan hubungan kuat antara kakak-beradik tersebut, meskipun mereka berpisah oleh jarak dan tugas.

Penobatan Syarif Nurullah sebagai penguasa Ismailiyah menjadi salah satu momen besar dalam hidupnya. Kakaknya, Sunan Gunung Jati, melakukan perjalanan dari Cirebon ke Mesir untuk menghadiri upacara tersebut. Sayangnya, setelah peristiwa ini, naskah-naskah klasik tak lagi mengisahkan jejak kehidupan Syarif Nurullah. Tidak ada catatan tentang wafatnya, tempat pemakamannya, atau apa yang ia lakukan setelah masa penobatan.

Namun, kehadiran Sunan Gunung Jati di Mesir saat penobatan ini menunjukkan betapa erat hubungan kedua bersaudara ini, meski mereka menjalani takdir yang berbeda. Syarif Hidayatullah menjadi pendakwah besar di Nusantara, sementara Syarif Nurullah melanjutkan kekuasaan keluarga di Timur Tengah.

Di balik kisah dua putra ini, ada figur sentral yang menjadi penghubung antara dua dunia: Rara Santang. Ia adalah perempuan Pajajaran yang meninggalkan kehidupan kerajaan demi menjalani hidup sebagai seorang muslimah. Pernikahannya dengan Syarif Hud di Mesir melahirkan garis keturunan yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah.

Syarat-syarat pernikahan yang diajukan Rara Santang mencerminkan visi besarnya. Ia meminta agar jika dikaruniai anak laki-laki, salah satunya harus kembali ke tanah Sunda untuk menyebarkan Islam. Keputusan ini tidak hanya membentuk masa depan Syarif Hidayatullah sebagai Sunan Gunung Jati, tetapi juga memastikan bahwa kedua anaknya memiliki peran signifikan dalam perkembangan Islam di wilayah masing-masing.

Baca Juga : Siap-Siap, 5 Bansos ini Cair di Bulan Desember 2024

Kisah Syarif Nurullah sering kali terabaikan dalam narasi besar sejarah Nusantara. Namun, perannya sebagai penguasa Kota Ismailiyah menunjukkan bahwa ia memiliki kedudukan penting dalam jaringan kekuasaan Islam internasional. Jika Sunan Gunung Jati membawa nilai-nilai Islam ke tanah Sunda, maka Syarif Nurullah menjadi penjaga tradisi dan pemerintahan di tanah kelahirannya di Timur Tengah.

Jejak-jejak keberadaan Syarif Nurullah mungkin tidak sejelas kakaknya, tetapi penobatannya dan hubungan eratnya dengan Sunan Gunung Jati memberikan wawasan tentang dinamika keluarga yang tidak hanya memengaruhi Nusantara, tetapi juga dunia Islam secara lebih luas.

Kisah Syarif Nurullah adalah pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang tokoh besar yang mendominasi panggung. Dalam bayang-bayang Sunan Gunung Jati, Syarif Nurullah membawa warisan yang berbeda, tetapi tak kalah penting. Ia adalah cerminan bagaimana keluarga ini membagi peran untuk membangun dunia Islam di dua tempat yang berbeda.

Warisan mereka, baik di Nusantara maupun Timur Tengah, adalah simbol kekuatan visi keluarga ini dalam menyatukan tradisi lokal dan nilai-nilai Islam universal. Sementara Sunan Gunung Jati dikenal sebagai tokoh besar di Jawa, Syarif Nurullah tetap menjadi penjaga nama besar keluarganya di tanah kelahiran ayah mereka, sebuah bukti bahwa mereka adalah dua sisi dari koin sejarah yang sama.

 


Topik

Serba Serbi, sunan gunung jati, syarif nurullah, penguasa mesir,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette