PANCASILA

01 - Oct - 2024, 02:54

Anggota DPRD Jawa Timur, Presiden Nusantara Gilang Gemilang


Era disruption hari ini tentu membawa banyak pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih keberadaan generasi bonus demografi yang hari ini mendominasi jumlahnya. Mereka yang jumlahnya mendominasi bangsa ini dan kekhasan karakter yang dimiliki, menjadikan penting dan perlu untuk menanamkan Pancasila sebagai bagian yang terintegrasi dalam keseharian.

Sejarah lahirnya Pancasila sebagai falsafah dasar negara pada 1 juni 1945 tidak terlepas dari perjuangan para "Founding Fathers" bangsa ini. Beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, beberapa tokoh bangsa bertemu dalam forum BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk merumuskan dasar negara Indonesia. Serentetan peristiwa sejarah perjuangan dan perlawan terhadap penjajahan telah menjadi ramuan awal akan lahirnya Pancasila, Indonesia dengan keberagaman suku, budaya, agama, ras juga turut menjadi pemikiran mendalam bagi forum BPUPKI untuk merumuskan dasar negara Indonesia waktu itu.

Baca Juga : 2 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Arema FC dan Suporter Gelar Doa Bersama

Memang benar, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ada 1.340 lebih suku bangsa yang bermukim diribuan pulau dari Sabang sampai Merauke dengan sebaran suku Jawa terbesar mencapai 40,2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Diikuti Suku Sunda 15,5 persen, Suku Batak 3,6 persen, suku asal Sulawesi selain Suku Makassar, Bugis, Minahasa dan Gorontalo, serta Suku Madura 3,03 persen.

Dilihat dari pemeluk agamanya, Islam yang terbesar 87,18 persen, diikuti Kristen 6,96 persen, Katolik 2,91 persen, Hindu 1,69 persen, Budha 0,72 persen, Khonghucu 0,05 persen, dan agama lainnya. Keragaman juga terlihat dari bahasa daerahnya, menurut data yang sama dari BPS masyarakat yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa keseharian dan rumah tangga sejumlah 79,5 persen, bahasa Indonesia 19,9 persen dan sisanya 0,3 persen menggunakan bahasa asing.  

Keberagaman yang ada di Indonesia ini telah di sadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah masalah yang krusial dan sensitif, oleh karenanya salah satu cara untuk membentenginya adalah  dengan mengokohkan Pancasila sebagai ideologi bangsa dengan tetap menjaga tradisi lokal yang menjadi akar budaya dan sumber nilai-nilai luhur bangsa kita.  

Keragaman dan keyakinan harus dipahami dengan memberikan apresiasi serta toleransi bukan dipertentangkan. Kalau tidak, akan menimbulkan kebencian yang menyulut perpecahan dan konflik diantara anak bangsa. Sebagai negara majemuk dengan beragam suku, agama, ras dan golongan bangsa kita memang menjadi salah satu negara yang sangat rawan dengan terjadinya konflik horizontal, karena perbedaan pandangan, budaya dan sosial bisa menjadi pemicu pecahnya konflik di masyarakat.

Multikulturalisme merupakan sebuah konsep di mana komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui, menghormati dan merayakan keberagaman, perbedaan, dan kemajemukan budaya, ras, suku, etnis, agama, golongan, bahasa, dan lain sebagainya. Bangsa yang multikultural adalah bangsa yang kelompok-kelompok budaya yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-exsistensi yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya yang lain. Konsep tersebut memberi semacam kesinambungan dengan pancasila yang dipandang sebagai cita-cita bangsa Indonesia.

Selain keberagaman suku, ras, agama dan golongan yang dimiliki oleh Indonesia, peristiwa G30S/PKI yang pernah terjadi pada tahun 1965 menjadi salah satu penanda bahwa Pancasila merupakan falsafah dasar negara yang tidak tergantikan. Upaya PKI untuk memaksakan komunis sebagai dasar negara dengan melakukan sejumlah kudeta militer berujung pada kegagalan. DNA masyarakat Indonesia yang sudah terbentuk sejak zaman kerajaan-kerajaan lama di Nusantara, seolah secara otomatis melakukan penolakan terhadap faham komunisme yang coba disebar luasakan oleh DN Aidit dan kawan-kawannya.  

Pancasila sebagai dasar negara dapat menjadi rujukan bersama dalam kemajemukan dan  perbedaan.  Pancasila sebagai falsafah dasar negara harus kita jadikan sebagai rujukan hidup bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia perlu di operasionalkan sebagaimana setiap sila yang terkandung di dalamnya sebagi unsur yang menyatukan segala keberagaman yang ada di Indonesia.  

Baca Juga : Momentum Kesaktian Pancasila, Plt Bupati Malang: Pancasila Satu-satunya Azas yang Bisa Persatukan Rakyat

Tidak ada yang perlu di perdebatkan tentang Pancasila sebagai dasar negara, sudah 79 tahun pancasila menjadi dasar dan ideologi bangsa ini. Ke lima sila yang tertuang dalam teks Pancasila telah terbukti cocok menjadi dasar bagi kita semua untuk hidup berbangsa dan bernegara. Pancasila juga telah terbukti menjadi bahasa pemersatu bagi semua anak bangsa dari agama apapun, suku apapun, pulau manapun dan ras apapun.

Pancasila dengan Ketuhanan yang Maha Esa-nya telah menjadi payung bagi semua agama dan keyakinan untuk dengan bebas menyelenggarakan peribadatannya masing-masing. Potret kedamaian itu bisa kita lihat di tengah-tengah Kota Malang, yang mana Masjid Jami Kota Malang bersebelahan dengan Gereja sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Di Nusa Dua Bali juga ada pusat peribadatan Puja Mandala di mana tempat ibadah dari lima agama berjejer di sana selama berpuluh-puluh tahun.

Pancasila menjadi dasar bahwa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan instrumen bernegara yang harus di hidupkan, di implementasikan, di jaga dan difahami sebagai bagian yang melekat dalam diri setiap orang yang ada di Indonesia, dengan harapan keadilan sosial atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab bisa di rasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 1 oktober  yang senantiasa diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila harus dimaknai oleh generasi saat ini sebagai momen untuk menginternalisasi Pancasila, karena “Pancasila Sakti” telah terbukti menjadi Bahasa pemersatu. Keberagaman agama, suku, ras, bahasa yang ada harus kita maknai sebagai sumber kekayaan bangsa dan bukan malah sebaliknya. Tidak akan mungkin bangsa ini menjadi bangsa yang besar, rakyatnya adil dan makmur tanpa implementasi nilai-nilai Pancasila oleh seluruh elemen bangsa.


Topik

Opini, PANCASILA, opini, kesaktian pancasila,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette