Unisba Blitar dan Pertakina Latih Pengrajin Batik Tenun Panataran dengan Model SIPOC
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Nurlayla Ratri
04 - Sep - 2024, 11:57
JATIMTIMES- Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar bersama Perkumpulan Tenaga Kerja Indonesia Purna (Pertakina) menyelenggarakan pelatihan sistem manajemen model SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) bagi para pelaku usaha batik dan tenun Panataran Blitar. Pelatihan ini dilaksanakan di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Pertakina, Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, pada Selasa (2/9/2024).
Sebanyak 20 pengrajin batik dan tenun yang tergabung dalam komunitas Pertakina Indonesia turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang direncanakan berlangsung selama tiga hari, termasuk pada 5 September mendatang.
Baca Juga : Dispendik Kota Blitar Pastikan Pembangunan Gedung SMPN 6 Tidak Ada Kendala, Progres Capai 40%
Wakil Rektor III sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Unisba Blitar, Dr. Supriyono, M.Ed, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
"Pelatihan ini adalah bentuk kontribusi kami dalam membantu para pengrajin batik dan tenun agar dapat lebih memahami dan mengatasi berbagai tantangan dalam usaha mereka," kata Supriyono.
Menurut Supriyono, model manajemen SIPOC sudah terbukti efektif dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam dunia bisnis, termasuk dalam manajemen proyek. Dengan model ini, para pengrajin diharapkan dapat lebih mudah memastikan bahwa pemasok mereka selalu bisa memenuhi kebutuhan bahan baku dengan kualitas yang sesuai.
"Dengan adanya model SIPOC, kualitas bahan baku dapat lebih terkontrol, proses produksi berjalan lebih efektif, dan kualitas produk bisa terus ditingkatkan, yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan bagi pelanggan," tambahnya.
Selain itu, Supriyono mengungkapkan bahwa banyak permasalahan dalam usaha produksi, seperti ketidakkonsistenan pemasok dan kualitas bahan baku, serta tidak adanya prosedur produksi yang memadai, sering menjadi penghambat bagi keberhasilan usaha.
"Permasalahan-permasalahan seperti ini sering kali menyebabkan pemborosan, masalah limbah, dan menurunnya kualitas produk, yang pada akhirnya membuat pelanggan tidak puas. Hal ini juga dialami oleh para pengrajin batik dan tenun Panataran," jelas Supriyono.
Baca Juga : STIE Malangkucecwara Sambut dan Lepas Mahasiswa Program Internship Serta Mahasiswa Student Exchange
Melalui pelatihan manajemen SIPOC ini, diharapkan para pengrajin batik dan tenun Panataran yang tergabung dalam komunitas Pertakina dapat lebih memahami dan mengatasi berbagai masalah yang mereka hadapi dalam usaha mereka. "Tujuan utama dari pelatihan ini adalah agar para pengrajin bisa lebih memahami konsep manajemen SIPOC, sehingga mereka bisa mengelola biaya dengan lebih baik dan tetap mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, mereka bisa menjadi lebih profesional, dan produk batik dan tenun Panataran bisa menjadi produk unggulan di Blitar," ungkap Supriyono.
Ketua Umum Pertakina Indonesia, Sulistiyaningsih, juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Unisba Blitar atas inisiatif mereka dalam memberikan pelatihan ini. Menurutnya, pelatihan ini sangat penting untuk membantu para pengrajin batik dan tenun di komunitas Pertakina agar lebih profesional dalam menjalankan usaha mereka.
"Kami sangat berterima kasih kepada Unisba Blitar yang telah memberikan pelatihan ini. Harapannya, dengan pelatihan manajemen SIPOC ini, para pengrajin batik dan tenun Panataran bisa lebih memahami bagaimana menjalankan usaha mereka dengan lebih baik, sehingga mereka bisa lebih kompetitif di pasar," ujar Sulistiyaningsih.
Dengan pelatihan ini, para pengrajin diharapkan bisa menghadapi tantangan dalam dunia usaha dengan lebih siap dan profesional, serta mampu meningkatkan kualitas produk mereka sehingga batik dan tenun Panataran semakin dikenal luas dan dihargai di pasar lokal maupun nasional.
