Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Dihadang TNI - Polri Saat Hendak Menyuarakan Aspirasi di Hadapan Jokowi
Reporter
Ashaq Lupito
Editor
A Yahya
25 - Jul - 2023, 04:01
JATIMTIMES - Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan merasa diintimidasi oleh oknum TNI dan Polri saat hendak menyuarakan aspirasinya, ketika Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo berkunjung ke Kabupaten Malang, Senin (24/7/2023).
Berdasarkan informasi yang dihimpun media online ini di lokasi, tensi tinggi antara puluhan keluarga korban tragedi Kanjuruhan dengan anggota TNI dan Polri tersebut terjadi saat Presiden beserta rombongan hendak tiba di lokasi peninjauan pertama. Yakni di Pasar Bululawang, Kabupaten Malang.
Baca Juga : Seorang Pengendara Motor Tewas Usai Bersenggolan dengan Truk di Jalan Raya Baluran Situbondo
Di mana salah satu anggota TNI sempat berbicara dengan nada tinggi sebelum akhirnya meminta maaf dan mengklarifikasi apa yang telah diperbuat. Nada tinggi yang diutarakan anggota TNI tersebut dilakukan lantaran meminta agar keluarga korban tragedi Kanjuruhan mengurungkan niatnya. Yakni menyuarakan keadilan kepada sosok yang akrab disapa Jokowi tersebut, terkait tragedi 1 Oktober 2022 yang telah merenggut 135 nyawa.
Video ketegangan antara pihak TNI - Polri dengan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan itupun juga viral di media sosial. Berawal dari kejadian tersebut, media online ini mengkonfirmasi langsung kepada salah satu keluarga korban tragedi Kanjuruhan, Devi Athok sesaat setelah ketegangan mereda, Senin (24/7/2023).
"Tadi dari pihak kepolisian dan TNI tadi saya mau ditangkap sama anggota-anggota," jelasnya.
Athok menyebut, puncak upaya intimidasi yang dialaminya tersebut terjadi saat Jokowi beserta rombongan melintas ke Jalan Raya Bululawang, untuk menuju ke PT Pindad (Persero) yang ada di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang pada Senin (24/7/2023).
"Karena saya hanya ini tok (pakai baju bergambar kedua putrinya yang menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan). Saya tidak bawa tulisan, cuma pakai kaos ini. Saya mau menyuarakan ke Jokowi, mau di pinggir jalan saja. Saya tidak menyebrang, tapi sampai mau ditangkap," keluhnya.
Menurut Athok, wujud intimidasi yang dialaminya terjadi sejak Senin (24/7/2023) pagi. Di mana, waktu itu Jokowi beserta rombongan belum tiba di titik tinjauan pertama yakni di Pasar Bululawang.
"Mulai pagi jam 06.00, sudah banyak intel kepolisian di depan rumah. Saya tidak boleh keluar dari dapan rumah. Tidak tahu itu bentuk pembungkaman terhadap saya atau bagaimana, saya mau bergerak dipegang, kan jadi bingung saya," tuturnya.
Di sisi lain, puluhan teman seperjuangannya yang juga keluarga korban tragedi Kanjuruhan juga mendapat perbuatan serupa. Bahkan dikatakan Athok, puluhan keluarga korban tragedi Kanjuruhan tersebut hendak dibawa ke kantor polisi.
"Tadi di Pasar Bululawang ada sekitar 20-an orang yang mau mengutarakan aspirasinya. Hanya (melalui) bentuk tulisan dan foto, itupun di rampas semua sama pihak tentara dan pihak kepolisian. Bahkan mau dibawa ke Polsek Bululawang tadi," terangnya.
Baca Juga : Gandeng Mitra, PT Pindad di Bandung Bakal Dipindah ke Subang
Aspirasi yang ingin disampaikan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan kepada Jokowi tersebut, diterangkan Athok, di antaranya mengenai laporan model B yang saat ini terkesan stagnan.
"Menagih janji Pak Jokowi tentang laporan model B untuk dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan, karena kan selama ini jalan di tempat laporan model B," tuturnya.
Selain ke Jokowi, para keluarga korban tragedi Kanjuruhan rencananya juga akan menyuarakan aspirasinya kepada Erick Thohir yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PSSI.
"Juga mau ke Pak Erick Thohir, tentang masalah bola-nya. Katanya mau membantu masalah laporan model B di Polres Kepanjen (Malang). Kami juga memohon agar jangan di bongkar dulu Stadion Kanjuruhan, biar dulu di lakukan rekonstruksi sesuai dengan jalurnya," pintanya.
Sayangnya, sebelum menyuarakan aspirasinya, Athok dan puluhan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan mendapat intimidasi dari TNI dan Polri. "Tapi kenapa kami kok di intimidasi seperti itu, sampai di dorong-dorong dan di rampas semua tulisannya, tidak boleh mendekat," ujarnya.
Saat itu, lanjut Athok, anggota TNI dan Polri yang mencegah keluarga korban tragedi Kanjuruhan untuk menyuarakan aspirasinya beralasan, Jokowi hendak melakukan kunjungan kerja (kunker), bukan membahas soal Tragedi Kanjuruhan.
"Katanya datang ke Malang bukan karena masalah Kanjuruhan, tapi masalah kunker Jokowi. Tapi kita selama ini ke Jakarta mau ketemu Pak Jokowi, tidak bisa. Mumpung di Bululawang, keluarga korban mau menagih janji Pak Jokowi, tentang usut tuntas. Mereka hanya menagih janji Pak Jokowi saja," pungkasnya.
