Di Belanda, Tim Riset UIN Malang Gelar FGD Moderasi Beragama dan Suprastruktur Kampus
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
09 - Apr - 2023, 08:25
JATIMTIMES - TIM Riset Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang melakukan Focus Group Discussion (FGD) pada hari kelima di Belanda. Tema strategis yang diambil dalam FGD terkait Moderasi Beragama dan Supra Struktur.
Dalam FGD, dijelaskan Jamila MA, Sekretaris Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner, bahwa diskusi dengan dua unsur social safety committe tersebut, memberikan contoh suprasruktur yang harus dimiliki oleh kampus.
Baca Juga : Sejarah Kembang Jepun, Sebutan Prostitusi Jepang
"Hal ini untuk mewujudkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kerangka kemanusiaan dan toleransi melalui regulasi yang menggunakan bahasa-bahasa universal," terangnya.
Lebih lanjut, Tim Riset bertemu dengan perwakilan ombusdman dan diversity division di Radboud University untuk sebuah diskusi. Perwakilan ombusdman dan diversity division di Radboud University yaitu, Nancy Viellevoye sebagai Ombudsperson dan Rona Jualla-van Oudenhoven sebagai Diversity Office.
Nancy dan Jualla merupakan salah satu personal yang turut serta dalam menyusun pedoman perilaku atau kode etik atau yang lebih dikenal dengan "code of conducts" dan implementasi dari kode etik tersebut di Radboud University.

Mereka juga merupakan salah satu dari perwakilan dua divisi tersebut pada Radboud University. Tanggungjawabnya adalah mewujudkan secara langsung terwujudnya lingkungan yang kondusif bagi para mahasiswa, dosen maupun tenga kependidikan.
Lebih lanjut, dalam mengawal implementasi kode etik tersebut, ada 4 orang ombuds person di tingkat universitas dan 14 orang confidential advisors di tingkat fakultas.
Dijelaskan Nancy, bahwa kode etik tersebut sangat penting dalam mengatur etika perilaku dan berinteraksi warga kampus.
Muaranya, tentu untuk memberikan kenyamanan dan menjamin rasa aman bagi warga kampus untuk belajar maupun bekerja di kampus dengan basis nilai equality, diversity and inclusion. Meski begitu, disampaikannya, bahwa kode etik sja terkadang belum cukup untuk mencapai kamlaingang aman dan inklusif.
Baca Juga : Mahfud dan Tito akan Resmikan GKI Hari Ini
"Karenanya social safety sampai detik ini selalu dipromosikan setiap hari baik secara personal maupun melalui institusi seperti berkomunikasi dengan staff, dosen atau dekan masing-masing fakultas," katanya.
"Peran kita dalam social safety adalah menciptakan kehidupan masyarakat di kampus yang lebih inklusif, bisa dengan cara yang sederhana mapun kadang dengan cara yang kompleks", tutur Joalla
Nancy menambahkan, bahwa social safety baru saja terbentuk. Untuk itu, pihaknya mengharapkan agar dapat bersama-sama mewujudkan dengan langkah nyata dan bukan hanya dengan sekedar kata-kata. "Dengan demikian "code of conducts" tidak hanya berhenti sebagai produk hukum, tetapi juga menjadi framework dalam kehidupan bermasyarakat di Radboud University," terangnya.
Sementara itu, pada akhir FGD, Tim Riset UIN Malang memberikan cinderamata dan kain batik khas Indonesia. Dari pihak Radboud University juga memberikan cinderamata berupa kaos yang bertuliskan "Imprinting Change" dengan tagar #DiversityEquityInclusion.
