Pegiat Sejarah Sebut 300 Kawasan di Sidoarjo Adopsi Nama Vegetasi
Reporter
Nur Hidayah
Editor
Yunan Helmy
21 - Feb - 2023, 10:19
JATIMTIMES - Pemberian nama wilayah yang ada di satu daerah merupakan cerminan yang ada dan dominan di daerah tersebut.
Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno dr Sudi Harjanto menjelaskan bahwa munculnya nama-nama desa di wilayah Sidoarjo tentunya tidak lepas dari pengaruh era Mataraman atau pasca-runtuhnya era Majapahit.
Baca Juga : Hadirkan Program Februari Romantis, Dealer Honda Surabaya Sidoarjo Berikan Promo Uang Muka Rp 500 Ribu
"Penamaan satu wilayah biasanya ditentukan oleh beberapa hal. Diantaranya vegetasi yang dominan di situ, tokoh dominannya siapa, nama-nama kuno, atau bahkan berasal dari peristiwa yang terjadi di daerah tersebut," jelas dr Sudi, Selasa (21/02/2023).
Melalui ilmu toponimi, para pegiat sejarah dapat menemukan atau menduga kemungkinan paling mendekati soal asal-usul nama yang diberikan oleh satu daerah adalah sebagai penanda bahwa kawasan tersebut memiliki nama.
Berdasar map atau peta dari zaman kolonial Belanda, nama-nama desa yang ada di Sidoarjo, menurut Sudi, banyak dipengaruhi nama-nama tumbuhan seperti pilang dan pejarakan. "Ada sekitar 300 nama tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang dipakai sebagai nama daerah di Sidoarjo saat ini," imbuhnya.
Pria yang juga aktif sebagai dokter umum tersebut juga menjelaskan bahwa ada juga nama daerah yang muncul karena peristiwa. Contohnya Kota Surabaya.
"Tentunya tidak mudah mengungkap nama-nama dari satu daerah. Riset yang dilakukan berdasar dari banyak sumber, bisa berupa naskah perjanjian satu wilayah, peta yang dibuat Belanda atau bahkan berdasar pada kejadian yang terjadi saat itu," ungkapnya.
Baca Juga : Antisipasi Kemarau 2023, BMKG Imbau Warga Tampung Air Hujan
Selain itu, saat disinggung soal nama-nama daerah yang unik seperti Bokongduwur, Bokongngisor, Durung Bedug dan Jangan Asem di Sidoarjo, Sudi menuturkan bahwa bisa jadi apa yang menjadi cerita tutur di masyarakat adalah benar. Namun bisa jadi ada yang perlu diluruskan.
"Nama dlDusun Bokong dan Dusun Jangan Asem yang ada di Kecamatan Tarik dan Jabon hingga saat ini masih menjadi riset teman-teman pegiat sejarah. Namun yang perlu diketahui, dua nama dusun tersebut sudah ada di peta sejarah sejak tahun 1800-an," tutupnya.
