RSUD Saiful Anwar Malang Rawat Pasien Gangguan Ginjal Akut, Rata-Rata Usia 2-5 Tahun

Reporter

Hendra Saputra

Editor

Yunan Helmy

21 - Oct - 2022, 02:58

Beberapa dokter di RSUD dr Saiful Anwar Malang saat menjelaskan gejala gangguan ginjal akut (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)


JATIMTIMES - Selama rentang waktu tiga bulan atau Agustus hingga Oktober 2022, RSUD dr Saiful Anwar Malang (RSSA) menerima pasien rujukan dari berbagai daerah di Jawa Timur dengan gejala gangguan ginjal akut. Para pasien itu, selain dari Malang Raya, juga ada dari Blitar, Pasuruan, dan Sidoarjo.

Saat dikonfirmasi, RSUD dr Saiful Anwar Malang masih enggan menyebut jumlah pasti pasien dengan gangguan ginjal akut yang dirawat. Namun mereka menyebut, rata-rata pasien yang dirawat berusia 2 hingga 5 tahun.

Baca Juga : RSUD Saiful Anwar Malang Rawat Pasien Gangguan Ginjal Akut, Rata-Rata Usia 2-5 Tahun

“Terbanyak rujukan dari rumah sakit yang ada di Blitar, sebanyak 44 persen dari pasien yang ada. Mayoritas pasien jenis kelamin laki-laki (yang dirawat). Mereka rata-rata mengalami gejala demam, diare, batuk, pilek, penurunan kesadaran, nyeri perut, muntah, ISPA (infeksi saluran pernapasan atas),” kata salah satu dokter RSSA, dr Krisni S SpA, Kamis (20/10/2022).

Gangguan ginjal akut progresif atipikal sendiri merupakan penurunan secara cepat fungsi ginjal dengan ditandai menurunnya produksi urine atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal itu yang saat ini banyak ditemui di Indonesia. 

“Fungsi ginjal bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium. Biasanya didapatkan peningkatan urium glatinin atau penurunan dari fungsi ginjal,” kata Krisni.

RSUD dr Saiful Anwar Malang pun belum mengetahui penyebab gangguan ginjal akut progresif atipikal. Bahkan RSSA juga belum bisa memastikan apakah penyebab tersebut dari obat sirup anak atau bukan karena masih menunggu dari Kemenkes dan BPOM.

Tapi, pihak RSUD dr Saiful Anwar menegaskan bahwa sudah tidak menggunakan obat cair atau sirup dalam menangani pasien anak. Alternatifnya, RSSA menggunakan obat berbentuk racikan puyer atau suppositoria yang masuknya harus melewati dubur.

Sementara itu, Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpA(K) mengimbau agar masyarakat tidak lagi menggunakan obat cair atau sirup sampai menunggu informasi lebih lanjut dari Kemenkes dan BPOM.

Baca Juga : Komnas HAM Turut Soroti Renovasi Total Stadion Kanjuruhan, Begini Tanggapannya

 

Kemudian dia juga mengimbau agar orang tua atau wali anak yang mengetahui gejala gangguan ginjal akut progresif atipikal terhadap anak, seperti berkurangnya atau tidak ada produksi air kecil secara mendadak, untuk segera memeriksakan anaknya ke dokter.

“Terutama balita, misal 12 atau 24 jam kurang atau tidak ada kencing. Kita juga mengimbau (kepada dokter) untuk tidak meresepkan obat cair atau sirup yang diganti dengan racikan puyer atau tablet, atau suppositoria,” katanya.

Perlu diketahui, sebagian pasien anak harus menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis, meskipun ada yang lepas dari ketergantungan itu. Kemudian, dari pasien tersebut, sebanyak 30 persen meninggal dunia dan 56 persen dinyatakan sembuh.

Sebagai informasi, RSUD dr Saiful Anwar  adalah satu dari 14 rumah sakit rujukan di Jawa Timur yang menangani pasien anak dengan gangguan ginjal akut.


Topik

Peristiwa, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette