Beri Dukungan Moril kepada Wartawan Korban Kekerasan, Pegiat Literasi Kediri Gelar Pentas Seni
Reporter
Eko Arif Setiono
Editor
A Yahya
01 - Apr - 2021, 03:54
KEDIRITIMES - Dorongan moril terus mengalir terhadap wartawan Tempo Surabaya Jawa Timur, Nurhadi yang mengalami kekerasan saat menjalankan tugas jurnalistik.
Dorongan moril tersebut datang dari berbagai pihak di seluruh penjuru pelosok daerah tak terkecuali di Kota Kediri Jawa Timur. Di mana, berbagai background organisasi hingga profesi menyikapi terhadap perihal kasus kekerasan terhadap wartawan ini.
Baca Juga : DPRD Trenggalek Mulai Bahas LKPJ dan Perubahan Propemperda
Berbagai kalangan pegiat literasi, jurnalis, akademisi, mahasiswa, dan seluruh lapisan masyarakat Kota Kediri memberikan dukungan moril atas tindak kekerasan yang dialami oleh Nurhadi.
Dukungan tersebut dilakukan dengan menggelar berbagai kegiatan pentas seni seperti pembacaan puisi, bernyanyi, dan orasi. Di atas panggung terbuka, mereka menyuarakan kebebasan berpendapat dan berekspresi bertema MASCARA (Masyarakat Bebas Bicara) di Chocolata Cafe, Jl Slamet Riyadi Banjaran Kota Kediri.
"Dalam acara ini, kita sama-sama mengutuk kekerasan yang dialami Nurhadi. Ia mengatakan kekerasan tidak dibenarkan dilakukan kepada siapa pun, termasuk terhadap wartawan yang sedang melakukan kegiatan jurnalistik," ungkap Faisal Hendriyansyah, salah satu peserta.
Faisal menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian suara dan solidaritas terhadap jurnalis Tempo Surabaya yang mengalami kekerasan beberapa hari yang lalu.
Menurutnya tindak kekerasan kepada jurnalis harusnya tidak dilakukan, di mana akan menimbulkan stigma pembungkaman pelanggaran. Terlebih, sebenarnya masyarakat juga tau adanya pelanggaran, namun tidak mempunyai fasilitas untuk menyampaikan.
Kekerasan yang dialami Nurhadi, kata Faisal merupakan preseden buruk bagi sistem kemerdekaan pers di negara demokrasi seperti Indonesia. Ia pun mendesak aparat kepolisian untuk melakukan pengusutan dan penegakan hukum yang semestinya dan seksama atas kekerasan yang terjadi.
"Kalau kita diam dan tak bersuara, mungkin kita akan mati satu persatu. Paling tidak suara kita harus tersampaikan dan tidak dibenamkan," tutur Faisal.
Baca Juga : Angka Putus Kuliah Tinggi, Rektor Untag 45 Banyuwangi Minta Program Banyuwangi Cerdas Diperluas
Dalam acara ini, menurut Faisal terbuka bagi siapapun yang ingin bersuara untuk menyampaikan aspirasi. Dengan aksi tampil di atas panggung, menurutnya menjadi bagian penyampaian dari berbagai kasus yang berkembang di masyarakat. "Harapannya negara ini sadar, kalau itu salah. Dan belakangan kemarin, juga banyak kasus yang, tidak terselesaikan," tutupnya.
Diketahui, Nurhadi, wartawan Tempo di Surabaya, mengalami kekerasan pada Sabtu, 17 Maret 2021. Ia mendapatkan perlakuan yang kasar bahkan penganiayaan setelah mengambil foto dan hendak meminta konfirmasi kepada mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji.
Pengambilan foto dan upaya konfirmasi ini dilakukan pada saat Angin melangsungkan resepsi pernikahan anaknya di Gedung Graha Samudera Bumimoro (GSB) di kompleks Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan laut (Kodiklatal) Surabaya.
Kekerasan terjadi ketika sejumlah pengawal Angin Prayitno Aji menganggap Nurhadi masuk tanpa izin ke acara resepsi pernikahan.
Meski sudah menjelaskan statusnya sebagai wartawan Tempo yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, para pengawal tersebut tetap merampas telepon genggam Nurhadi dan memaksa untuk memeriksa isinya. Nurhadi juga mendapatkan penganiayaan dan penyekapan.
