Soal Dentuman yang Gegerkan Warga Malang Raya, Ini Kata Pakar Universitas Brawijaya
Reporter
Tubagus Achmad
Editor
A Yahya
04 - Feb - 2021, 04:43
MALANGTIMES - Suara dentuman yang menggegerkan warga Malang Raya pada Selasa (2/2/2021) malam hingga Rabu (3/2/2021) pagi juga tak hanya membuat penasaran masyarakat umum tapi, juga akademisi. Salah satunya pakar dari Universitas Brawijaya di bidang Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Prof Drs Adi Susilo MSi PhD .
Meski belum bisa memastikan sumber dentuman, namun Adi memperkirakan bahwa suara tersebut timbul dari aktivitas manusia, bukan dari fenomeona alam.
"Saya juga tadi dapat rekaman bahwa kejadian di permukaan bumi, di udara. Di udara itu apa ? Lah itu yang kita belum tahu dan belum berani mengatakan. Kalau melihat rekamannya itu, dentumannya derr derr derr gitu, itu sepertinya aktivitas manusia. Tapi kita nggak tahu aktivitas apa itu," jelas Adi kepada MalangTIMES, Rabu (3/2/2021).
Lanjut Adi bahwa pihaknya dapat memastikan dentuman tersebut berasal dari permukaan bumi atau terjadi di udara, berdasarkan diskusi bersama dan data dari Stasiun Geofisika BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Karangkates Malang.
"Bahwa tidak ada rekaman yang terekam di seismig mulai dari jam 23.00 WIB. Artinya sumber dentuman tersebut bukan berasal dari dalam bumi, bukan gempa, bukan gunung api dan sebagainya," terang mantan Dekan Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) ini.
Ditambahkan oleh Adi bahwa jika suara dentuman keras tersebut merupakan gempa tektonik atau gempa patahan maupun gempa bumi, seharusnya yang bergetar bukan jendela, melainkan lantai dasar sebuah bangunan yang bergetar dan bergoyang.
"Kalau sementara semalam kan yang kena itu kaca bukan lantainya. Kalau lantainya (bergetar, red) lah itu gempa bumi itu," tambahnya.
Dikatakan Adi bahwa sejak semalam juga tidak terjadi hujan deras yang disertai petir menyambar. Hal itulah menguatkan bahwa suara dentuman keras berkali-kali yang membuat khawatir masyarakat Malang Raya tersebut bukan berasal dari kilatan petir.
Adi pun mencontohkan jika dentuman tersebut disebabkan oleh batuan meteor yang turun ke bumi seharusnya dentumannya sangat keras dan tidak terulang berkali-kali. "Begini, misalkan meteor ya. Meteor itu mestinya kalau meledak hanya satu kali (dentuman, red) dan itu pasti sangat besar sekali," katanya.
Selain itu, semisal terdapat aktivitas menumbuk bumi atau tanah dikatakan Adi bahwa seharusnya terdapat ledakan yang sangat keras. Karena untuk menumbuk bumi atau tanah harus dibantu dengan ledakan.
Dan dari ledakan tersebut, getaran gelombang ledakan harusnya terekam seismig milik Stasiun Geofisika BMKG Karangkates Malang. "Lah itu kan ternyata nggak ada. Itu berarti kita negasikan kemungkinan itu kita hilangkan," ujarnya.
Sementara itu, ketika disinggung terkait apakah suara dentuman tersebut dapat dimungkinkan disebabkan oleh pembangunan JLS (Jalur Lingkar Selatan) maupun latihan tempur militer di wilayah Kabupaten Malang, Adi pun mengatakan bahwa kemungkinannya kecil terkait dua hal tersebut.
"Kalau di JLS itu juga kemungkinannya kecil. Karena kalau seandainya ledakan, itu mesti kan menumbuk bumi yang diledakkan kan gunung atau bumi, berarti kan ada gelombang seismig yang merambat di bawah permukaan bumi. Itu harus terekam oleh Stasiun BMKG," ujarnya.
Lalu untuk terkait adanya latihan tempur militer yang dimungkinkan menjadi penyebab terjadinya suara dentuman keras, Adi pun mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi, namun pihaknya belum bisa memastikan karena belum mengetahui fakta di lapangan.
"Itu (latihan militer, red) kemungkinan bisa terjadi. Tapi saya nggak berani mengatakan itu. Itu sangat mungkin sekali, apalagi kalau dentumannya kan berurutan dan selang beberapa detik ada lagi gitu ya," ujarnya.
Lebih lanjut Adi pun mengatakan bahwa terkait fenomena suara dentuman masih tanda tanya besar dan kemungkinan besok atau lusa sepertinya akan ada pihak yang merasa menyebabkan dentuman keras tersebut dan mengeluarkan pernyataan resmi. "Ini masih tanda tanya. Besok atau lusa kayaknya akan ada yang jawab mungkin yang merasa melakukan itu," pungkasnya.
