Kisah Bu Poniran yang Rela Jadi Buruh Pijat Demi Mencukupi Kebutuhan Keluarga

Reporter

Desi Kris

05 - Jan - 2021, 02:29

Ngedum Ojir (YouTube JatimTIMES)


JatimTIMES Network tetap aktif menjalankan program Ngedum Ojir meski dalam kondisi pandemi covid-19.  

Episode Ngedum Ojir kali ini datang dari Poniran yang istrinya rela menjadi buruh pijat demi keluarga.

Baca Juga : Tali Sling Putus, Warga yang Lewat Jembatan Gantung Ini Harus Hati-Hati

Direktur Utama JatimTIMES Network Lazuardi Firdaus ditemani Ustaz Sony Abdul Karim, Manager Area Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malang, menuju di Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Malang untuk menyambangi rumah bapak dan ibu Poniran.  

Untuk menuju ke rumah Poniran, Firdaus dan Ustaz Sony harus melewati perjalanan yang cukup jauh.  

Tiba di rumah bapak dan ibu Poniran terlihat kondisi rumahnya yang hanya terbuat dari papan kayu. Kondisi Poniran pun lantas dijelaskan oleh tim BMH, Sugengwati.  

"Pak Poniran ini tinggal bersama istrinya, kebetulan Pak Poniran termasuk warga miskin non identitas, jadi nggak bisa mendapat bantuan apa-apa," ujar Sugengwati.  

Sugengwati juga mengatakan jika keluarga Poniran ini tidak memiliki kartu identitas apapun. Selain itu, Bu Poniran harus menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarganya.  

Sugengwati juga menceritakan jika tanah yang ditempati sebagai rumah Poniran itu kini sudah bukan miliknya.  

"Ini tanahnya sudah dijual, untuk kehidupan sehari-hari," ujarnya.  

Kendati demikian, pembeli tanah masih memberikan kesempatan bagi keluarga Poniran untuk tetap tinggal di tanah tersebut.

Tak lama Firdaus dan tim langsung menuju ke rumah Poniran. Tiba di rumah, terlihat Poniran yang tengah duduk di kasurnya.  

Sayangnya, saat diajak komunikasi Poniran tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun, tim berhasil meminta bantuan seseorang untuk berkomunikasi dengan Poniran.  

Poniran mengatakan jika ia sudah lama tinggal di rumah itu, yakni selama 14 tahun. Firdaus pun lantas berbincang dengan istri Poniran, bernama Kana.  

Kana mengakui jika selama ini ia mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. "(Kerja) buruh pijet, seadanya, buruh kuli untuk menjual pisang," ujar Kana.

Baca Juga : Aduh, Seorang Nenek Diserang Buaya sampai Tangannya Putus

Kana mengatakan jika saat ini ia sudah berusia 50 tahunan. Sementara sang suami kini berusia sekitar 90 tahuan.  

Sebelum menikah dengan Kana, Poniran ternyata sudah pernah menikah dan memiliki tiga anak. Kana lantas mengatakan jika ia biasanya mendapat penghasilan sekitar Rp 20 ribu per hari.

Tim Ngedum Ojir pun lantas melihat-lihat kondisi rumah Poniran beserta istri.  

Terlihat kondisi rumah yang sangat sederhana dan kecil. Lalu ada pula kondisi kamar yang tampak berantakan.  

Sementara kondisi dapur yang seadanya merupakan tempat sehari-hari Kana untuk memasak. Kondisinya pun terlihat berdebu.  

Hingga akhirnya tim Ngedum Ojir memberikan bantuan kepada Poniran dan Kana senilai Rp 1 juta. Mendapat bantuan itu, Kana lantas mengucapkan terima kasih.

Program Ngedum Ojir tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan. Juga memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk “Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman”.


Topik

Peristiwa, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette