Cegah Penyebaran Covid-19, Tempat Wisata di Tulungagung Akan Ditutup
Reporter
Joko Pramono
Editor
Dede Nana
18 - Dec - 2020, 01:47
Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung berencana menutup tempat wisata, baik alam maupun buatan yang ada di wilayahnya. Tindakan ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 saat terjadi libur panjang akhir tahun 2020.
Juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Tulungagung Galih Nusantoro, mengatakan, rata-rata tempat wisata yang ditutup berada di selatan Tulungagung. Pasalnya, dari evaluasi terakhir, banyak konfirmasi positif Covid-19 baru berada di wilayah selatan Tulungagung.
Baca Juga : Tujuh Warganya Positif Covid-19, Desa di Tulungagung ini Liburkan Warkop dan Jemaah Tahlil
“Seperti pantai Gemah, Klathak dan di desa-desa yang berpotensi menjadi penyebaran Covid-19,” kata Galih.
Penutupan akan dilakukan mulai Sabtu (19/12/2020) mendatang, hingga waktu yang belum ditentukan.
Dari peta sebaran, kasus baru terjadi di wilayah selatan Tulungagung. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir jumlah kematian akibat Covid-19 berasal dari wilayah selatan Tulungagung.
“Ini keadaan darurat, jadi semua harus patuh,” katanya dengan tegas.
Dasar pengambilan keputusan ini merupakan hasil evaluasi dari libur panjang Maulid Nabi pada awal November lalu. Pasalnya, dari data yang disampaikan oleh Satgas Provinsi Jatim, lonjakan kasus Covid-19 di seluruh Jatim meningkat drastis.
“Edarannya akan segera kita sampaikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa sekaligus Pengelola tempat wisata buatan di Desa Kendal Bulur, Kecamatan Boyolangu, Anang Mustofa mengatakan, pihaknya siap mematuhi keputusan dari Satgas Penanganan Covid-19. Namun sebelumnya pihaknya meminta agar Satgas membuat kajian apakah peningkatan Covid-19 berhubungan dengan tempat wisata.
“Sejak dibuka pada Juni enggak ada peningkatan kasus,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisaris BUMDes Larasati tersebut.
Baca Juga : Mengenal Layanan Swab Antigen di UB, 30 Menit Hasil Keluar
Pihaknya mempertanyakan pembukaan mall yang menurutnya lebih berpotensi menimbulkan kerumunan dan penyebaran Covid-19. Mall merupakan tempat tertutup dan sirkulasi udara juga terbatas, sedang lokasi wisata berada di luar ruangan, sehingga dianggap lebih aman dari penyebaran Covid-19.
Dirinya juga menyoroti adanya hajatan di desa wilayah pinggiran yang mulai acuh dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti tak memakai masker dan berkerumun.
“Hajatan di desa, banyak yang acuh terhadap prokes. Sehingga perlu untuk dikaji, tak hanya dari tempat wisata saja,” pungkasnya.
