Sisi Lain Rektor UIN Malang Prof Haris, Abadikan Momen Lewat Puisi
Reporter
Imarotul Izzah
Editor
Dede Nana
06 - Oct - 2020, 02:05
Dibalik kepadatan jadwal dan kesibukannya, Prof Dr Abdul Haris MAg Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), masih memiliki waktu untuk menulis puisi. Bahkan, pria asal Lamongan ini terbilang produktif menulis puisi. Puisi-puisi itu terkadang ia dikirimkan ke grup-grup WhatsApp. Tak terkecuali ke wartawan media ini.
Kepada media ini, Haris mengaku sudah senang menulis sejak ia kecil. Saat ini, sudah ada 6 buku puisi yang ia terbitkan. Terbaru adalah Antologi Sajak dan Puisi berjudul "Dari Waktu Ke Waktu".
Baca Juga : Kolabrorasi Kreatif, Karya Lagu Dituangkan dalam Sketsa Gambar
Antologi ini dicetak tanggal 19 September 2019 lalu. Isinya cukup tebal, terdapat 614 halaman. Haris memberikan karya terbarunya ini kepada wartawan media ini.
Dalam antologi itu terdapat macam jenis puisi yang terangkum dalam berbagai ruang dan peristiwa. Mulai dari agama: Ikhtiar Mencari Makna, tasawuf: Pengembaraan Mencari Cinta, pendidikan dan pesantren, serta seni dan budaya. Selain itu ada juga puisi-puisi yang terangkum dalam tema politik kenegaraan, Negarawan, sosial dan kemasyarakatan, PMII dan IKAPMII, hingga alam dan kehidupan.
Seluruh puisi itu ia tulis berdasarkan pada apa yang ia pikiran, amati, dan apa yang dialaminya. Hampir setiap harinya, ia tidak pernah putus mengelaborasi kompleksitas yang ada pada dirinya.
"Pokoknya ada ide, langsung menulis dan itu masih kontekstual," ucapnya.
Maka dari itu, Haris tak banyak menggunakan bahasa kiasan. "Saya termasuk yang tidak terlalu banyak menggunakan bahasa kiasan, realis. Orang apa adanya," akuinya.
Puisi-puisinya memang selalu mudah dipahami, namun demikian tetap memiliki makna yang mendalam. Contoh saja puisinya yang berjudul "KOMPETISI, Saling Laju Mendahului". Berikut ini fragmennya.
Aku mengabstraksi.
Peristiwa yang terjadi.
Saling kejar sampai.
Tujuan yang dinanti.
Dengan cara tak peduli.
Celaka atau mati.
Super bus representasi.
Simbol kompetisi.
Menjadi tradisi.
Petanda pesaing sejati.
Tanpa peduli.
"Ini perjalanan pulang dari Jombang. Sopir bis kan seperti kompetisi. Ini menggambarkan orang itu ternyata bersaing luar biasa, tidak peduli dengan lawannya mati atau bahagia," terangnya kepada media ini.
Tatkala ditanya mengenai sastrawan yang disukainya, Haris mengaku lebih suka sastrawan kuno seperti Hamka dan juga penyair-penyair Arab. Selain itu, ia juga menyebut Chairil Anwar. Meski demikian, ia tidak terlalu terpengaruh oleh mereka. Seperti yang dikatakannya, ia lebih suka menulis tanpa banyak kiasan.
Baca Juga : Terinspirasi Umpatan dan Caci Maki di Medsos, Hutan Hujan Rilis Single Baru
Tentunya, dalam buku terbarunya, Haris juga mencurahkan sisi romatisme dalam dirinya. Bahkan, dirinya juga sempat membacakan salah satu puisi romantisnya yang berjudul "HUJAN, Cinta dan Keharuan".
Selain antologi puisi, tentunya juga ada beberapa karya Haris sebagai wujud kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. Antara lain Pengantar Studi Islam I dan II, Pengantar Studi Islam, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Filsafat Islam, Tauhid dan Pembentukan Kepribadian Muslim, Kepemimpinan Pendidikan, Etika Islam, dan Pengantar Pendidikan.
