Dinkes Duga Kuah "Mie Racun" Tercampur Tinja

04 - Jul - 2017, 02:43

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Mastur (Foto: TulungagungTIMES)


Kasus keracunan mie ayam yang hangat akhir- akhir ini, sudah ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dengan mengambil sampel tinja dari korban keracunan mie ayam.

Hingga saat ini masih ada sekitar 15 pasien korban mie ayam yang masih dirawat di berbagai pelayanan kesehatan yang ada. Hal ini disamapaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Muhammad Mastur pagi tadi saat mengikuti kegiatan halal bi halal di halaman Pemkab Tulungagung.

“Hingga saat ini masih ada sekitar 15 korban, kita mengambil langkah dengan mengambil sampel tinja korban mie ayam serta sampel masakan mie ayam, dan pada Kamis siang kita kirim seluruh sampel ke laboratorium di Surabaya,” Kata Mastur.

Hingga saat ini masih belum ada hasil dari uji lab yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Pasalnya hasil uji lab baru bisa diketahui paling cepat seminggu setelah sampel dikirim.
“Hasil dari hasil uji laboratorium baru bisa diketahui sekitar 3 hingga 7 hari sejak sampel diterima oleh laboratorium dan dilakukan pengujian,” imbuh Mastur lebih lanjut.

Korban yang ada masih dirawat dengan perkembangan yang bagus. seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah daerah. Sementara yang ada di RS swasta masih akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut kaitanya dengan mie ayam beracun.
“Untuk yang ada di RS swasta masih akan kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena hingga saat ini diduga sakitnya karena infeksi usus,” tutur Mastur.

Dirinya yakin mie ayam yang beracun tidak akan menyebar ke warung lain, pasalnya yang diduga keracunan adalah yang makan mie ayam pada hari Selasa (27/6) lalu. Sampel yang diambil meliputi mie, kuah, saos, kecap serta air kran dari warung terkait serta tinja pasien keracunan mie ayam yang ada di RS. Dari gejala yang timbul, Mastur mengatakan identik dengan gejala infeksi bakteri e-colli dan salmonela yang merupakan resapan dari tinja.

“Tidak menutup kemungkinan air kran yang digunakan tercemar resapan tinja,” imbuhnya. 
Mastur juga menampik jika bahan yang digunakan tidak higienis sehingga menimbulkan berbagai macam bakteri dalam pengolahanya. Selain itu tidak ditemukan penggunaan bahan terlarang dalam pembuatan bakso seperti penggunaan daging babi dalam campuran daging baksonya.
“Tidak ditemukan kandungan babi, serta bahan mie sendiri baik-baik saja, namun akan kita tindaklanjuti dengan memberikan pembinaan dalam proses penyediaan, penyimpanan bahan baku serta penyajian,” pungkasnya.


Topik

Peristiwa, Mie-Racun Kasus-keracunan Dinas-Kesehatan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette