Budidaya Ikan Sidat Masih Menggiurkan. Minat ?

Reporter

Muhammad Sholeh

Editor

Heryanto

06 - Sep - 2016, 07:49

Yusak Yuswantoro (36) pembudidaya ikan sidat sedang memberi makan ikan-ikannya di kolam terpal di belakang rumahnya.(Foto: Muhammad Sholeh/JombangTIMES).


Ikan, barangkali karena kandungan gizi yang ada di dalamnya, masih menjadi menu favorit bagi banyak kalangan. Permintaan pasar yang tinggi terhadap ikan, mendorong tumbuhnya kreativitas dan beragam inovasi dalam sektor budidaya ikan.

Budidaya ikan sidat air tawar (Anguillidae) adalah salah satunya. Ikan yang bentuknya lebih mirip belut ini, belakangan mulai dilirik oleh para pelaku budidaya ikan air tawar. Bukan saja karena perawatannya yang tidak terlalu rumit, tapi juga karena harga pasaran ikan kesukaan orang Jepang itu relatif menggiurkan.

Pembudidaya ikan sidat asal Dusun Beluk Etan, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Yusak Yuswantoro (36), bercerita banyak soal pembudidayaan ikan sidat kepada jombangtimes.com, Senin (5/9/2016).

Menurut Yusak, budidaya ikan sidat masih sangat terbuka peluangnya. Selain pesaing yang belum banyak, perhitungan keuntungannya jauh lebih tinggi dibanding dengan komoditas lain dari jenis ikan air tawar. “Masih lumayan mas. Resiko rugi lebih kecil dibanding dengan ikan lele atau lainnya,” ujar pria kelahiran Kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini.

Pada kasus ikan sidat, lanjut Yusak, penyakit moncong putih yang dianggap paling membahayakan bagi ikan, masih ada harapan untuk bisa diobati. Berbeda apabila menjangkiti ikan lele (Clarias batracus). Hampir bisa dipastikan berujung pada kematian.

“Soal angka kematian. Ikan sidat paling banter angka kematiannya sampai 20%. Ikan lele, dalam kasus tertentu bisa mencapai 40%. Resiko kematian sidat lebih kecil,” ungkapnya.

Lebih jauh Yusak berhitung, 1 Kg. bibit ikan sidat berisi 50 ekor dengan harga Rp. 250 ribu. Pada saat panen di mana ikan berumur 6-7 bulan, 1 Kg. yang hanya berisi 4 ekor sidat, terjual dengan kisaran harga Rp. 125 ribu.

Misalnya, kemungkinan terburuk selama menunggu masa panen mengalami kematian mencapai 20%, maka ikan tinggal 40 ekor. Maka pada saat panen masih mendapat ikan 10 Kg.

Perawatannya juga demikian, tidak lebih sulit dari ikan lele. Sehari cukup dua kali, setiap menjelang siang dan sore hari. “Harga pakan saya kira relatif sama, Rp. 24 ribu per-kilogramnya,” terang Yusak disela-sela memberi makan ikan sidatnya yang sudah berumur 4 bulan itu.(*)


Topik

Peristiwa, Budidaya-Ikan-Sidat Yusak-Yuswantoro,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette