Sambo (Sam) Mboh | Jatim TIMES

Sambo (Sam) Mboh

Aug 23, 2022 11:40
Supriyadi Karima Saiful, Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Mojokerto
Supriyadi Karima Saiful, Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Mojokerto

Kasus pembunuhan Brigadir J yang dilakukan (Irjen) Sambo sangat menyita perhatian khalayak ramai. Kasus yang cukup panjang (awal kasus terpublish hingga saat ini). Jalan ceritanya yang berliku-liku. Banyak orang menunggu, ikut membuka mata, memantau kelanjutan akan episode-episode selanjutnya. 

Jalan cerita yang berliku itu bak sebuah sinetron atau drama Korea yang mengaduk aduk perasaan penonton. Episode-episode drama percintaan yang berujung pembunuhan ini membangkitkan kegusaran, kebencian, hingga hujan sumpah serapah yang teramat sangat dari sebagian besar warga. 

Baca Juga : Polisi Parkir Mobil di Trotoar Ditegur Masyarakat, Netizen: Anak Buah Sambo mah Bebas

Itu semua adalah kepiawaian yang menyajikan jalinan cerita (:berita), lalu ditambah bumbu-bumbu tafsir sehingga menggelitik para penggemarnya (:penonton). Seburuk apapun tanggapan penonton tidak bisa disalahkan. Penonton selalu benar. 

Jalinan cerita Ferdy Sambo atau FS sangat menohok kesadaran semua orang. Seolah memaksa “merefresh" lagi pikiran dan hati untuk  mengenali siapa kita dan siapa sesama.

Lalu hadirlah, episode yang cukup menentukan, Ferdy Sambo akhirnya mengakui dua kejahatan di hadapan Komnas HAM. Pengakuan tersebut diantaranya, mengakui dirinya sebagai dalang pembunuhan dan otak dibalik obstruction of justice yang menghalangi penyidikan. Selanjutnya, tidak saja Ferdy Sambo, tapi istrinya juga ditetapkan sebagai tersangka.

Timbul pertanyaan: mengapa kasus Sambo dihadirkan berepisode-episode, sementara episode kasus pelecehan santri dan pelajar  biasa-biasa saja atau bahkan tenggelam? Bukankah kasus itu sama-sama kejinya, dengan puluhan santri dan pelajar sebagai korban? Ya, kasus Sambo memang telah meluluh lantakkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri sebagai; Pengayom-Pelindung-Pelayan masyarakat.

Apa yang dilakukan (Irjen) Sambo terhadap Bharada J memang sadis. Sama dengan kesadisan-kesadisan penghilangan nyawa yang pernah berlaku selama ini. Sesadis penembakan membabi buta terhadap 33 mahasiswa Virginia Tech yang dilakukan oleh seorang mahasiswa AS berdarah Korea, hingga salah satu koran memberitakan dengan judul: Chu Juga Manusia.

Kepala berita tersebut dapat kita jadikan sebagai cara pandang yang sama untuk melihat peristiwa yang menghebohkan tanah air ini. Kata-kata “Chu juga manusia” sama dengan “sambo  juga manusia”, atau “ Publik figur juga manusia”, atau “kita semua juga manusia”, yang kata lirik lagu dari band seurieus: rocker juga manusia/punya hati punya rasa/jangan samakan dengan pisau belati.

Cara pandang ini bukanlah sebuah pembenaran terhadap perilaku penghilangan nyawa atau sebuah dalih untuk memaafkan ketidaksempurnaan manusia. Bukan. Tetapi salah itu memang manusiawai. “Manungsa iku panggonane salah” kata ungkapan Jawa. 

Ya, Sambo memang telah berbuat salah karena penghilangan nyawa, Ia telah menjadi “pisau belati”, karena telah menuruti “keburukan" dari ketidaksempurnaan dirinya sebagai manusia.

Baca Juga : Penjual Chip Higgs Domino Asal Tlogosari Ditangkap Polisi

Disisi lain, karena cerita yang dihadirkan berepisode-episode menjadikan para penonton turut serta melepaskan keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya dengan menghujat, menghakimi, dan mengadili. Penonton turut menjadi “pisau belati” nir empati. 

Memang tidak mudah menghadapi segala sesuatu dengan lapang dada. Apalagi memaafkan dan berbuat baik kepada mereka yang melakukan kejahatan. Namun, di Tanah Bhineka ini ada banyak cerita tentang manusia dan kemanusiaan mereka. Ada banyak cerita kejahatan manusia yang mendiaminya, yang kesemuanya bukan kita sebagai “Pengadilnya”.

Akhirnya, keunikan manusia tidak semata hanya dipandang dari ketidaksempurnaannya sehingga kita bisa menerima dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Keunikan manusia juga bisa dilihat dari keluhurannya, keagungannya, dan kebaikannya. 

Keunikan manusia juga didasarkan atas keberadaan hati dan rasa kita sebagai manusia. Menyadari kekurangan yang nyata bahwa kita pernah, bisa, dan mungkin akan berbuat salah adalah sama dengan memproklamirkan diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang punya akal-budi juga hati nurani.

Salam

Penulis: Supriyadi Karima Saiful, Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka
Kota Mojokerto

Topik
berita mojokerto JATIMTIMES

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya