Memperingati Maulid Nabi, Berharap Anugerah Bersalaman dengan Rasulullah Saw | Jatim TIMES

Memperingati Maulid Nabi, Berharap Anugerah Bersalaman dengan Rasulullah Saw

Oct 09, 2021 09:40
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Ya Badi'
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Ya Badi'

JATIMTIMES - Para ulama sepakat bahwa bulan lahir Rasulullah SAW adalah Rabiul Awal. Ulama juga sepakat hari lahir Rasulullah Muhammad SAW adalah hari Senin. Ulama berbeda pendapat tentang ketepatan tanggal lahir Rasulullah SAW. Perbedaan tersebut antara lain: Abdul Barr berpendapat tanggal 2, Ibnu Hazam berpendapat tanggal 8, Abu Jakfat Al-Baqir berpendapat tanggal 10, dan Ibnu Ishaq berpendapat tanggal 12. Pendapat Ibnu Ishaq diikuti mayoritas umat muslim sedunia.

Perbedaan tanggal ini bagi umat muslim di Indonesia tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini karena seringkali mereka melakukan Maulidan di sepanjang bulan Rabiul Awal, bahkan kadang bahkan luar bulan Rabiul Awal. Pemerintah pun tidak meliburkan Peringatan Maulid tahun ini tepat tanggal 19, namun tanggal 20 Oktober.

Belajar Mencintai Rasulullah SAW

Baca Juga : Pandora Papers, Apa Kata Al Quran?

 

Memperingati Maulid Nabi tidak tepat pada tanggalnya sudah jamak dilakukan. Sekitar tahun 1990 penulis merasakan perayaan peringatan Maulid ini di satu kampung berpindah-pindah tempat, dari musholla/langgar ke musholla/langgar, kemudian ke masjid atau di salah satu rumah tokoh agama. Kemeriahan perayaannya tampak sangat nyata. Kegembiraan ditampakkan sebagai rasa gembira kelahiran Sang Panutan Nabi Muhammad SAW.

Kesadaran bahwa memperingati hari lahir Rasulullah saw mempunyai kontribusi untuk belajar mencintai Beliau menutupi rasa ingin tahu jawaban perbedaan tanggal lahir ataupun jawaban mengapa diperingati tidak tepas tanggalnya. Perbedaan tanggal lahir itu penting bagi para ulama dan ilmuwan dalam bidang ilmu yang mereka tekuni, namun nilai penting itu luntur saat dihadapkan pada sesuatu yang lebih penting lagi, yaitu bagaimana memperingati Maulid mempunyai sumbangan mencintai Rasulullah Muhammad SAW.

Melebihi permasalahan ketepatan tanggal lahir, perbedaan hukum memperingati Maulid hanya membuat muslim di Indonesia mereka tertegun sejenak saja. Bagi mereka, perbedaan itu hanya ujian bagi mereka untuk tetap merayakan peringatan Maulid Nabi. Mereka rindu, mencoba rindu, atau mungkin baru belajar rindu kepada Rasulullah SAW melalui peringatan Maulid.

Hakikat Memperingati Maulid

Lantunan salawat bernada gembira ria, sedu mendayu, sejarah kemenangan perjuangan, kisah kesabaran menghadapi musibah, contoh keteguhan menghadapi cobaan, berulang kali diperdengarkan dengan harapan teranugerahi rasa rindu dan cinta kepada Manusia Paling Sempurna sejagad raya itu. Tanpa bisa menyemai rindu, sabar, dan keteguhan akan berujung kesulitan mencintai Allah Tuhan semesta alam.

Bagaimana mampu menyemai cinta kepada Tuhan semesta alam kalau mencintai utusannya tak punya daya? Bagaimana disebut bertuhan dan menjadi hamba yang yang baik bila tak punyai rasa cinta kepada Allah Sang Maha Pencipta? Bagaimana mampu meneladani akhlak Rasulullah saw jika tak mampu memahami akhlak kesantunan Rasulullah saw dalam menebar rahmat untuk alam semesta?

Kesibukan memahami pertanyaan di atas telah menutup rasa penting mengetahui jawaban “Kapankah tepatnya tanggal Rasulullah Muhammad saw dilahirkan?” Seakan mereka telah memahami inti dari peringatan itu sendiri, yaitu pelajaran untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai pecinta Allah swt dan Rasulullah saw. Cita-cita memenuhi jiwa dengan cinta mengalahkan mencari kepuasan jawaban penasaran akliyah mereka.

Berharap Anugerah Bersalaman dengan Rasulullah SAW

Baca Juga : 3 Tanda Kiamat Sudah Muncul di Makkah, Pertanda Akhir Zaman Sudah Dekat?

 

Bagi mereka, perbedaan pendapat tentang tepatnya tanggal kelahiran Rasulullah saw dan perbedaan pendapat hukum memperingati Maulid adalah bagaikan perbedaan sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar tentang bersuara pelan atau bersuara keras dalam membaca Al-Qur’an. Kedua sahabat Rasulullah SAW tersebut didamaikan Rasulullah SAW dengan bijaksana.  

Terbayang di kedalaman jiwa mereka bahwa Rasulullah SAW sambil tersenyum mendamaikan dua sahabatnya tersebut. Senyum yang tergambar dalam bayangan itu lebih mereka rindukan daripada mencari ketepatan tanggal berapakah Rasulullah SAW dilahirkan.

Perbedaan ulama bagi mereka adalah rahmat. Perbedaan pendapat tanggal membuat mereka semakin mantap bahwa peringatan Maulid yang selama ini yang mereka lakukan tidak tepat di malam tanggal 12 Rabiul Awal tidak menjadi masalah.  

Apalagi semangat peringatan itu adalah rasa ingin mencintai, mencoba mencintai, ataupun belajar mencintai. Mereka seakan tenggelam dalam perayaan Maulid secara terus menerus. Menyenandungkan salawat, meyemai cinta, memupuk rindu, berharap anugerah dijabat tangannya oleh Rasulullah saw seperti menjabat tangan sahabat Umar bin Khattab ra.

Sebagaimana dalam sebuah hadis Riwayat Imam Bukhari bahwa Abdullah bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat Nabi Muhammad saw sedang berjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil berjabat tangan itu, Umar berkata, "Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri." Mendengar perkataan Umar, Nabi berujar, "Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri." Mendengar sabda Nabi, Umar pun berkata, "Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Mendengar jawaban sahabatnya ini, Rasulullah menegaskan, "Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai Umar."

Wallahua’lam.

Topik
Rasulullah SAW Maulid Nabi Nabi Muhammad SAW

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya