Dr. H. Fuad Nashori, Psikolog. Dosen dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam Himpsi
Dr. H. Fuad Nashori, Psikolog. Dosen dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam Himpsi

Ketika ditanya tentang lansia yang bahagia, segera terbayang sosok ayah mertua saya.  Saat itu beliau berusia 80 tahun. Secara spiritual, fisik, psikologis, dan sosial beliau sehat dan masih melakukan banyak aktivitas. Memimpin organisasi pensiunan tingkat kabupaten, aktif pada kelompok pengajian para mantan pimpinan daerah, senang mengunjungi cucu di luar kota (luar propinsi), ikut senam pada lima kelompok senam setiap minggu. Tidur selalu nyenyak. Makanan kelihatan selalu enak dan lahap. Dua tahun yang lalu beliau kembali kepada Allah dalam usia 82 tahun. 

Saya juga menemukan sejumlah lansia lain yang tetap sehat di ujung lansianya. Di samping adanya sejumlah orang yang sakit-sakitan, bahkan cenderung depresif, saya temukan sejumlah lansia yang bahagia. Di era pandemi ini, ancaman hadirnya ketidakbahagiaan juga semakin besar. Hal ini dikarenakan lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan dengan covid-19. Menarik untuk bertanya: apa yang membuat para lansia tetap merasa bahagia?

Religiositas

Baca Juga : Tips Menjaga Keluarga Terhindar dari Covid-19

 

Kebahagiaan hidup seseorang dibangun oleh fondasi yang paling utama, yaitu  kepasrahan kepada Tuhan. Kepasrahan kepada Tuhan ini semakin meningkat ketika seseorang memasuki usia lansia. Institusi yang mampu mengantarkan seseorang memiliki kepasrahan kepada Tuhan adalah agama. Agama mengajarkan kepada manusia untuk memelihara hubungan baik dengan Tuhan. Aktivitas ibadah seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir, berdoa adalah aktivitas  yang memperkuat kepasrahan manusia kepada Tuhan. Aktivitas ikut kelompok pengajian, aktif shalat berjamaah, adalah aktivitas spiritual yang berdimensi sosial, yang membangun kepasrahan lansia kepada Tuhan. Sebenarnya, aktivitas religiositas tidak hanya yang bersifat hubungan langsung dengan Tuhan, tapi apapun yang dilakukan manusia dengan niatan mematuhi perintah Tuhan (berbuat baik terhadap sesama, memperlakukan binatang dengan baik, berolahraga untuk memelihara diri, dsb) termasuk perbuatan religius.

Dalam tradisi agama manapun, lansia menunjukkan diri sebagai kelompok yang paling aktif dalam aktivitas keagamaan. Tidak seperti pada usia produktif yang kadang membuat seseorang sedemikian larut dalam pekerjaan, pada usia lansia seseorang bisa kembali menghayati dan menjalankan aktivitasnya sebagai hamba Tuhan. Seorang psikolog Erich Fromm menemukan fakta bahwa lansia yang jauh dari agama cenderung depresif dan bahkan banyak yang bunuh diri. Sementara yang aktif dalam kegiatan spiritual lebih  bahagia dan bermakna hidupnya. 

Adapun yang membuat lansia semakin mendekati agama adalah karena mereka menemukan makna hidupnya melalui keyakinan dan aktivitas agama. Hal yang paling dalam kehidupan ini tentu adalah bermakna bagi Tuhan. Bermakna bagi Tuhan dicapai dengan beribadah dan berbuat baik kepada sesama. Karenanya, saran terbaik bagi lansia adalah berupaya mengambil makna akan usaha yang riil yang menjadikan lansia semakin yakin apa yang dilakukannya berguna bagi Tuhannya. Hal berikutnya adalah mendisiplinkan diri dengan aktivitas ibadah, terutama aktivitas yang paling nyaman untuk dilakukan. 

Penjagaan Fisik

Orang yang bisa berumur panjang hingga menjadi lansia tentu berbasis pada fisik yang sehat. Orang sulit menjadi lansia bila memiliki banyak penyakit apalagi penyakitnya berat. Agar fisik tetap prima atau relatif prima, di samping pola hidup terutama pola makan yang baik, yang paling penting adalah melakukan latihan fisik yang rutin. Olahraga yang cocok bagi lansia adalah olahraga yang berbasis pernafasan, senam, yoga, dan lain-lain. Mertua saya adalah contoh orang yang menjaga fisiknya dengan baik. Hingga umur 80 tahun, beliau terlibat dalam 5 kelompok senam yang diikutinya setiap pekan. Ringkasnya, untuk mencapai umur yang panjang, satu basisnya adalah penjagaan fisik yang bersifat terus-menerus. 

Beberapa orangtua tidak biasa berolahraga, namun mereka tetap melakukan penjagaan fisik dengan menekuni hobi beraktivitas seperti bercocok tanam. Seorang lansia dari Aceh yang pernah ke Yogya untuk menunggui anaknya yang mengerjakan skripsi bilang bahwa selama di Yogya terasa tersika karena tidak bisa menekuni aktivitas hariannya menggarap sawah. Itu karena yang bersangkutan sudah menyatu dengan aktivitas fisik menekuni hobi bertani.

Selain berolahraga, penjagaan fisik dilakukan dengan mengatur makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Makanan yang baik tentu adalah makanan yang bervariasi dengan jumlah yang cukup dan tidak banyak. Makanan yang terbaik tentu adalah makanan yang segar dan minimal proses pengolahannya. Pastikan bahwa makanan yang dikonsumsi terhindar dari berbagai pengawet, pemanis buatan, pewarna, penyedap. Goreng-gorangan yang tidak homed hendaknya dihindari, yang bersantan diminimalisasi, yang dihangat-hangatkan ualng dihindari. 

Lansia yang sehat fisik belum tentu bahagia. Namun, tanpa fisik yang prima, kebahagiaan tak akan sempurna.Karenanya, pastikan anda menjaga fisik anda dengan sebaik-baiknya. 

Aktif Bersosialisasi

Baca Juga : Tantangan Mengendalikan Remaja pada Masa PSBB atau Masa Isolasi Diri

 

Orang yang bahagia di usia lansianya memiliki ciri utama tetap aktif melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan. Aktivitas sosial kemasyarakatan menjauhkan seseorang dari yang namanya kesepian (loneliness). Lebih jauh aktivitas sosial menjadikan seseorang bermakna. Keterlibatan dalam organisasi sosial seperti organisasi para pensiunan, kelompok pengajian, kelompok plesiran (bila tidak pandemik lagi), dan sejenisnya, menjadikan seseorang bermakna.

Salah satu aktivitas sosial penting yang mengantarkan lansia berbahagia adalah kemampuan untuk memiliki sahabat. Memelihara persahabatan dan membangun persahabatan baru adalah tantangan sepanjang hidup manusia. Hal yang perlu dipastikan dimiliki setiap lansia adalah selalu punya sahabat dekat dalam jumlah tertentu. Saya sarankan 5-10 orang. Seingat saya ayah saya dulu suka dikunjungi dan mengunjungi sejumlah teman masa kecil maupun teman yang dikenalinya ketika sudah dewasa. Bila seseorang tetap melakukannya pada usia lansia, maka mereka membangun fondasi yang kuat untuk tetap memiliki arti bagi orang lain. 

Cara Menyikapi Hidup yang Positif

Lansia yang membiasakan diri berpikir positif terhadap berbagai kejadian hidup akan menjadi lansia yang bahagia. Dalam kenyataan hidup ini, seringkali manusia merasa sakit hati, marah, dan benci. Bila seseorang memandang kejadian yang menyakitkan dengan pemaafan dan sikap lapang dada, maka itu akan segera menghapus hal-hal buruk yang sempat mampir dan bahkan tersimpan dalam jiwanya. Pembebasan dari hal-hal buruk akan memudahkan seseorang pada pandangan yang positif. Karenanya, toleransi dan pemaafan adalah senjata pamungkas para lansia untuk selalu bahagia. 

Lansia yang bahagia juga tahu cara untuk membuat suasana hatinya kembali positif. Mereka tahu apa yang menyenangkan hatinya yang akan mengantarkannya kepada suasana hati positif. Menekuni hobi adalah sesuatu yang menyenangkan. Bisa menengok atau momong cucu adalah hal yang menyenangkan. Memberikan supervisi kepada orang-orang yang sedang tumbuh karir dan kehidupannya adalah sesuatu yang membahagiakan. 

*) Dr. H. Fuad Nashori, Psikolog. Dosen dan dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam Himpsi.