Dosen UII dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’ Yogyakarta
Dosen UII dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’ Yogyakarta

Pemerintah DIY berencana akan memanfaatkan Local Wisdom untuk membangkitkan segala sektor pendukung kesejahteraan masyarakat di Era New Normal. Terkait dengan rencana ini, Pemda DIY akan membuka usulan dari masyarakat untuk penerapannya.

Rencana ini menurut penulis sangat positif karena penerapan kesejahteraan masyarakat berbasis nilai-nilai Local Wisdom adalah membangkitkan masyarakat berdasarkan nilai-nilai kontekstual. Hal ini mempunyai keuntungan tidak adanya kesenjangan atau resistensi dari masyarakat DIY.

Tujuh Komponen Sistem Penggembang Local Wisdom

Baca Juga : Enam Usulan kepada Pemerintah untuk Melengkapi Kesiapan Belajar dari Rumah

Menurut penulis ada tujuh hal penting yang dapat digerakkan sebagai sistem terkait rencana ini; (1) Penyiapan masyarakat tentang pemahaman rumusan mankna Local Wisdom; (2) Cara atau teknik merumuskan apa yang dimiliki masyarakat sebagai Local Wisdom menjadi desain operasional; (3) Mengembangkan desain operasional menjadi produk; (4) Menguji coba produk; (5) Mendaftarkan HAKI;  (6) Memasarkan produk; (7) Evaluasi secara berkesinambungan.

Ketujuh hal ini penulis pilih berdasarkan nilai Local Wisdon di masayarakat Jawa, yaitu angka tujuh atau pitu yang merupakan kepanjangan dari pitulungan. Pitulungan berarti pertolongan, yang bermakna mengharap dan mendapatkan pertolongan dari Gusti Pangeran atau Tuhan Yang Maha Esa. 

Dari ketujuh hal tersebut, yang utama adalah dua hal pertama dan satu hal yang terakhir. Empat hal yang lain adalah hal yang praktis. Empat hal praktis tersebut akan berjalan mengikuti 2 hal pertama dan satu hal terakhir.

Penyiapan Masyarakat tentang Pemahaman Rumusan Mankna Local Wisdom

Penyiapan masyarakat akan makna Local Wisdom sangat penting dilakukan. Tanpa kesiapan yang matang dari masyarakat dapat memunculkan pelbagai macam hal-hal negatif, dan bahkan bisa merusak ketenteraman. 

Misalnya, Pertama, Cara pandang masyarakat terhadap Local Wisdom yang tidak satu, akan memunculkan rembuk di dusun ataupun di desa akan mengalami kesulitan. Kalau kesulitan rembuk tersebut tidak tuntas akan mengakibatkan perpecahan masyarakat. Oleh karenanya penyiapan ini dapat dilakukan berupa penerbitan buku pedoman, banner, siaran radio, televisi, dan media lainnya. 

Kedua, peraturan dan perundangan atau payung hukum yang dijadikan rujukan saat mengoperasionalkan program Local Wisdom juga harus disosialisasikan dengan baik. Masyarakat akan jelas merujuk ke peraturan dan perundangan yang mana apabila ada perbedaan pandangan.

Teknik Merumuskan Local Wisdom Menjadi Desain Operasional

Banyak teori tentang teknik merumuskan dan mencari strategi mendesain Local Wisdom menjadi keuntungan sosial dan materiil. Hal paling penting pada fase ini adalah perlunya pendampingan oleh tokoh dan ahli yang juga memiliki basis pemahaman mendalam terhadap Local Wisdom tersebut. Hal ini penting untuk memastikan komunikasi efektif antara pendamping dengan masyarakat setempat.

Untuk mendapat pendamping seperti ini pemerintah dapat melakukan koordinasi dengan desa untuk mengundang partisipasi tokoh dan ahli di daerah setempat. Semangat kolaboratif atau gotong royong hendaknya dijadikan landasan. 

Baca Juga : Untung atau Rugi Nasabah, Perbankan Syariah Harus Peduli

Koperasi harus dijadikan lembaga pokok dalam menangani sharing gotong royong. Perhitungan tidak hanya materi berupa jumlah angka, namun juga meliputi penghargaan terhadap ide, komitmen, dan inspirasi. Sehingga kerja marathon dari program ini dapat berlangsung dengan lebih baik. 

Hal ini sangat penting karena sejak awal tujuan dari program ini adalah membangkitkan kesejahteraan rakyat dengan memanfaatkan Local Wisdom. Jangan sampai terjadi saling iri, dengki, merasa paling berjasa dan lain sebagainya, yang hal tersebut akan membuat Local Wisdom menjadi terciderai.

Evaluasi Secara Berkesinambungan Produk Berbasis Local Wisdom

Satu hal terakhir yang sangat mendasar adalah selalu melakukan evaluasi secara terus menerus untuk melakukan perbaikan atau penyempurnaan secara berkesinambungan. Karena keunikan produk yang dipasarkan berdasar nilai Local Wisdom, maka perbaikan secara terus menerus di sini bukan hanya bersifat memperkuat pemasaran produknya, namun juga semakin mendalamnya pemaknaan terhadap nilai-nilai Local Widom.

Kalau hal-hal ini bisa berlangsung dengan baik, maka sebuah nilai Local Wisdom berupa Sangkan Paraning Dumadi tetap menjadi bingkai dari kebijakan ini. Generasi yang akan datang tidak ilang jowone. Sejatinya, upaya pemerintah DIY dengan kebijakan ini bukan sekedar meningkatkan sektor pendukung kesejahteraan masyarakat secara lahir saja, namun juga sejahtera batin. Kebijakan ini akan mampu mendorong kesatuan olah cipto, roso, lan karso masyarakat DIY.

Semoga sukses!

* Penulis adalah Dosen UII dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’ Yogyakarta.