Lukman A. Irfan, Dosen Teknologi Pendidikan UII Yogyakarta
Lukman A. Irfan, Dosen Teknologi Pendidikan UII Yogyakarta

Ketetapan pemerintah bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 untuk melanjutkan belajar dari rumah adalah demi keselamatan anak-anak Indonesia dari covid-19. Sayangnya pemerintah belum secara komprehenship menjaga anak-anak Indonesia dari efek belajar dari rumah tersebut.

Penulis melakukan survei melalui Facebook dan wawancara lagsung mengenai pembelajaran dari rumah untuk anak SD. Hasilnya, kalau pembelajaran daring untuk anak SD mempunyai kemungkinan berbahaya bagi kesehatan mental. Apalagi kalau anak melakukan pembelajaran daringnya tanpa pendampingan.  

Baca Juga : New Normal, Perlukah Dihadirkan New Fiqih?

Tulisan ini bukan kemudian mengusulkan agar pemerintah membatalkan keputusannya, namun mengusulkan ide-ide untuk melengkapi yang seharusya dilakukan pemerintah agar belajar dari rumah berjalan lebih efektif. Tidak saja menyelematkan anak dari Covid-19, namun juga menyelamatkan secara mental generasi penerus bangsa dan negara ini.  

Penulis berpendapat bahwa ada 4 (empat) kesulitan bagi orang tua yang masih berkesempatan mendampingi secara fisik dan ada 5 (lima) kesulitan bagi orang tua yang bekerja sehingga anak tidak ada yang mendampingi anak belajar dari rumah. Berikut adalah ide-ide untuk meminimalisir kesulitan tersebut dan langkah-langkah mengantispasinya.

Pertama, Belajar dari rumah memberikan keleluasaan bagi anak mereka menggunakan gadget dan sekaligus dengan paket datanya. Hal ini memunculkan kekhawatiran anak-anak di sela-sela pembelajaran daring akan berselancar di internet dan terjebaik pada hal-hal yang dapat merugikan perkembangan mental atau tertipu oleh kejahatan siber.  

Cara mengatasi hal kesulitan yang pertama ini adalah dengan mensosialisaikan kepada orang tua cara membuat akun khusus anak di gadget dan membatasi kuota data yang akan digunakan oleh anak. Hal inipun perlu adanya pengarahan bagaimana cara orang tua menyampaikan pembatasan-pembatasan tersebut kepada anak sehingga tidak terjadi ketegangan antara orang tua dan anak.

Kesulitan pertama ini pemerintah dapat melakukan kerjasama dengan media televisi dan media online untuk mesosialisasikan secara massif kepada orang tua. Terutama untuk wali murid sekolah dasar dan menengah pertama.

Kedua, Orang tua kesulitan memberikan pengarahan pembelajaran daring yang baik. Kesulitan ini berdasar pada pentingnya kolaborasi antara orang tua dan guru. Kalau kolaborasi terjalin dengan baik, maka pembelajaran berpelung lebih efektif.  

Hal ini dapat dilakukan dengan edaran bagi sekolah untuk melakukan koordinasi antara sekolah dan orang tua tentang cara mendidik anak di era daring. Edaran hendaknya dilengkapi dengan petunjuk teknis bagaimana berkolaborasi secara online sekaligus memberikan nilai-nilai yang mampu menggerakkan kesadaran sekolah dan orang tua melakukannya.

Ketiga, orang tua kesulitan memberikan pengarahan untuk mengarahkan anak memanfaatkan waktu dengan bermain bersama anak-anak seumur mereka di lingkungan rumah. Hal ini sebagai kegiatan bermain sebagaimana jam istirahat di sekolah. Kegiatan ini bermanfaat menjaga keseahatan mata dan memenuhi kebutuhan gerak psikomotor anak yang masih dalam masa perkembangan jasmaninya.

Baca Juga : Orang Tua Turut Andil Menambah Tekanan pada Peserta Didik Saat Ujian Online

Keempat, orang tua kesulitan menyediakan paket data dalam jumlah yang besar, apalagi kalau pembelajaran daring dilaksanakan secara sinkron dalam durasi yang panjang. Hal ini dapat diatasi oleh pemerintah dengan pembagian data gratis untuk siswa atau paket data murah.

Kelima, bagi orang tua yang keduanya bekerja, kesulitan lainnya adalah melakukan pendampingan belajar dan pengawasan keselamatan anak di rumah. Hal ini terutama bagi anak-anak yang masih berusia sekolah dasar. Kesulitan ini dapat diatasi dengan mendorong adanya kerjasama lingkungan sesama tetangga untuk saling mengawasi anaknya. Pemerintah bisa melakukan ini dengan memanfatkan saluran pemerintah desa dengan mensosialisakannya melalui pertemuan RT.

Masukan khusus bagi orang tua, untuk mengatasi kemungkinan anak melakukan akses konten internet yang negatif atau bahkan tertipu oleh kejahatan siber, maka orang tua harus melakukan komunikasi dengan anaknya. Ajak anak berbincang tentang bagaimana belajar daringnya dan pengalaman apa saja selama daring. Orang tua harus sungguh-sungguh merasakan adanya perubahan sikap atau perilaku anaknya, jika ada perubahan maka segera dicari tahu dan mengatasinya.  

Cara efektif berdiskusi dengan anak adalah dengan menjadi ‘teman’ anak.  Hal ini bukan hal mudah, namun kalau dipelajari dan dilakukan pasti akan mendapatkan cara-cara. Sebagai warga negara Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa, orang tua juga hendaknya mendoakan anak-anaknya.

* Penulis adalah Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi' Yogyakarta