New Fikih?
New Fikih?

Dampak dari Corona Virus Disease-19 (Covid-19) memunculkan beragam kebijakan baru, termasuk new normal (tatanan kehidupan baru) yang merupakan skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. 

Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan skenario new normal di beberapa daerah dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. 

Baca Juga : Jadilah Pribadi yang Merdeka

Selain itu, covid-19 juga mengubah perilaku masyarakat dari offline activity ke online activity, atau sering dihembuskan dengan sebutan go virtual atau virtualisme. Kegiatan masyarakat yang dahulu membutuhkan tatap muka secara langsung sekarang dapat dilakukan dengan virtual menggunakan media elektronik (media sosial).

“Melakukan aktivitas, beribadah, bekerja, dan bersekolah dari rumah secara online guna menghindari kontak fisik dan menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ungkap Dr. Muhammad Fahmi, M.Si., alumni Program Studi (Prodi) Doktor Hukum Islam (DHI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam acara Seminar dan Temu Alumni yang digelar secara virtual.

Lebih dalam pria yang kesehariannya berprofesi sebagai Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam di IAIN Surakarta menyampaikan kegelisahannya problematika hukum Islam dalam menghadapi era virtual seperti ini. “Diperlukan Inovasi untuk menggagas fikih baru, karena alasan kondisilah yang membuat kita harus mengeksplorasi formulasi-formulasi hukum baru yang disesuai konteks perkembangan dan perubahan zaman,” tuturnya. 

Kehadiran new normal, termasuk new media (penggunaan media elektronik) dalam membantu pekerjaan manusia, bisa dijadikan ilat hukum untuk melakukan kemungkinan re-interprestasi hukum Islam sesuai dengan perkembangan zaman, khususnya zaman 4.0 seperti saat ini. “Kita ketahui bahwa Imam syafi’i pernah merubah qoul qodim (pandangan fikih al-Imam al-Syafi'i versi masa lalu) menjadi qoul jadid (pandangan fiqih al-Imam al-Syafi'i versi masa kini), sebagai upaya interprestasi hukum Islam menyesuaikan perkembangan zaman,” jelas Muhammad Fahmi.

Sebagaimana makna dari fikih itu sendiri adalah alfahmu (pemahaman), maka pemahaman manusia bisa berubah sesuai dengan konteks dan perkembangan zaman. Al-qur’an sebagai wahyu Tuhan tentulah absolut, akan tetapi interprestasi dan pengembangan atas Al-qur’an yang salah satunya ada pada fikih tentunya dimungkinkan dapat berubah, sebab dalam fikih ada unsur pikiran manusia yang bersifat relatif dapat berubah disesuaikan dengan kondisi zaman.

Baca Juga : Antara Covid dan Kerinduan akan Kehidupan Normal

Menurut Muhammad Fahmi perubahan konteks waktu, zaman dan tempat dapat merubah hukum, contohnya di era pandemi ini yang berdampak pada hukum fikih. Misalnya hukum keutamaan shalat di rumah pada masa pandemi covid-19. Tidak berhenti disitu, isu penggunaan media juga dapat menjadi bahan kajian untuk upaya penggalian ketentuan hukum fikih baru. Maka perlu ada upaya inovatif untuk re-interprestasi fikih yang baru untuk mengantisipasi perkembangan zaman, misalnya hukum shalat berjamaah virtual pada era pandemi di Maroko, dan Tunisia.

“Hal ini menunjukkan bagaimana kontek sosial dapat menjadi trigger untuk melakukan re-intprestasi baru dalam rangka menggagas pemahaman baru (fikih baru), siapkah kita menyambut new normal dengan menggagas new fikih, dalam rangka penyesuaian terhadap perkembangan zaman?,” tanya Muhammad Fahmi kepada para hadirin.