Wakil Komandan BAZNAS Tanggap Bencana DIY
Wakil Komandan BAZNAS Tanggap Bencana DIY

Judul ini sekaligus autokritik penulis untuk lembaga keuangan atau perbankan, khususnya syariah. Penulis hanya membahas yang syariah. Yang konvensional bukan kompetensi penulis.

Di musim pandemi Covid-19 seperti ini pasti banyak cash flow pengusaha yang terganggu. Ini masa-masa yang sulit bagi pengusaha. Usaha mereka dipaksa berhenti, tapi gaji karyawan dan operasional tetap harus mereka bayarkan. Beberapa sektor usaha seperti UMKM, pariwisata, transportasi, hotel, dan lain-lain banyak yang terdampak. 

Baca Juga : Sarana Penyelamat di Tengah Banjir Teknologi dan Informasi

 

Beberapa perusahaan banyak yang terpaksa merumahkan pegawainya sejak bulan Maret 2020. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani mengatakan, cash flow mereka hanya tahan 3 bulan. 

Perbankan/Lembaga Keuangan Syariah dan Covid-19

Sebenarnya perbankan syariah terkena dampaknya juga. Penulis baca di beberapa media belum lama ini, BMT dan BPR Syariah juga terkena dampak pandemi Covid-19. Selain nasabah banyak yang gagal bayar, perbankan dan lembaga keuangan juga kesulitan bertemu dengan nasabah karena aturan social/physical distancing.

Kenaikan NPF/NPL (kredit macet) jelas di depan mata, karena sejumlah sektor mengalami dampak cukup besar dengan adanya pandemi ini. Soal NPF sebenarnya perbankan bisa melakukan restrukturisasi pembiayaan nasabahnya. OJK mengeluarkan POJK No.11/POJK.03/2020 yang mengatur restrukturisasi kredit, aturan itu ditujukan bagi perbankan dan leasing. BMT? Harusnya bisa lebih luwes aturannya.

Bagaimana dengan Nasabah Terdampak?

Sewaktu di masa penulis masih aktif di perbankan syariah, penulis pernah mengusulkan ada divisi UMKM Center. Jadi divisi ini mengawasi, memantau, dan membina nasabah UMKM agar bisnisnya bisa berjalan bahkan berkembang. Nah, sepertinya di perbankan umum sudah ada, tapi penulis kurang begitu paham implementasinya bagaimana.

Nah, kalau divisi ini bisa berjalan penulis kira ini bagus sekali. Karena yang penulis lihat, selama ini perbankan atau lembaga keuangan hanya datang saat jadwal jatuh tempo nasabah tiba. Mereka tidak pernah mau tahu, apakah bisnisnya masih berjalan dengan baik atau tidak.

Baca Juga : Meneror Kebebasan Berpendapat, Menodai Demokrasi

 

Sebagaimana jargonnya yang mengusung syariah, mestinya untung atau rugi bisa ditanggung secara bersama. Jangan sampai saat untung atau rugi perbankan tidak peduli sama sekali. Sekali lagi, pastikan nasabah tidak hanya bisa bayar tapi bisnis mereka juga tetap berjalan. Terutama di masa pandemi seperti ini. 

Penulis adalah Wakil Komandan BAZNAS Tanggap Bencana DIY.