Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir  & Taklim Ya Badi' Yogyakarta
Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir & Taklim Ya Badi' Yogyakarta

Pembaca tentu masih ingat dengan slogan generasi emas Indonesia tahun 2040. Dalam benak penulis, tentu akan terwujud, hanya generasi emas berapa karat? 24 karat, 22 karat, 20 karat, 15 karat, 10 karat atau hanya emas sepuhan yang hanya bertahan beberapa bulan. 

Penulis tidak bermaksud untuk mengajak pesimis dengan slogan cita-cita tersebut. Penulis akan memaparkan ide-ide untuk mewujudkannya generasi emas Indonesia tahun 2040. 

Baca Juga : Aji Mumpung, Lunturkan Rasa Perikemanusian ASN Pusat Daerah

Logika sederhana dan semua orang paham bahwa untuk menyemai bibit, maka yang pertama harus dijaga adalah jangan sampai kena penyakit. Kalau semua generasi 20 tahun yang akan datang adalah generasi emas dengan umur 25 tahun, maka saat ini generasi yang digadang-gadang tersebut saat ini berumur 5 tahun. 

Kalau generasi emas tersebut adalah umur produktif yang pada tahun 2040 berumur 25-50 tahun, saat ini mereka berumur 5 sampai 30 tahun.

Auto terbayang betapa banyak potensi ‘penyakit’ yang akan mengganggu penyemaian generasi emas tahun 2040. Di antara yang sangat urgen untuk diperhatikan adalah gangguan berupa banjirnya informasi yang datang bagaikan bah melalui teknologi. Karena informasi ini sesungguhnya adalah semua aspek kehidupan generasi; dari agama, ekonomi, gaya, konsumsi, dan lain sebagainya.

Informasi melalui teknologi saat ini sangat tepat digambarkan sebagaimana air bah yang menerjang segala apa yang di depannya. Sehingga di perjalanan air bah itu sendiri membawa beragam aspek kehidupan. 

Sebagaimana banjir bah juga maka informasi ini tidak memilih dan memilah yang dibawanya, apapun diterjang dan diseretnya. Di mana hilir dari bajir itu, di sanalah terkumpul berbagai macam kotoran maupun barang yang berharga. Namun umumnya adalah yang berharga menjadi tidak kelihatan nilainya sehingga seringkali diabaikan.

Informasi yang sampai pada penerima di era ini adalah seperti hal tersebut. Tidak mudah untuk memilih memilah informasi yang berharga dari informasi saat ini. Sebagai penyelamat di banjir bah ini bisa digunakan sistem saringan untuk memilih dan mengambil yang berharga, yaitu nilai-nilai universal esensial dari interaksi untung rugi dan nilai esensial kemanusiaan yang diformulasikan dari diri sendiri. 

Nilai Esensial Untung-Rugi Refleksi Dari Diri Sendiri

Refleksi Esensial dari setiap informasi dan tawaran pasti mempunyai 4 landasan, yaitu keuntungan pemberi (informasi atau tawaran), yaitu (1) keuntungan harta; (2) keuntungan tahta, termasuk nama besar; (3) keuntungan mendapatkan wanita atau pria; atau (4) ikhlas lillahi ta’ala.

Menyaring informasi dengan landasan tiga yang pertama di atas, dapat digunakan nilai esensial dari setiap diri, termasuk diri sendiri mempunyai kecenderungan mendapatkan keuntungan 3 hal yang pertama tersebut. 

Oleh karenanya menghadapi informasi harus mengambil jarak dan mencoba merefleksikan keinginan diri sendiri dipakai sebagai pengandaian sebagai keinginan pemberi informasi.

Kalau memang saling menguntungkan, maka dapat dipertimbangkan menerima dan melanjutkan interaksi dengan pemberi informasi. Apabila ada kecenderunagan merugikan salah satu pihak atau pihak lainnya, maka lebih baik ditinggalkan.

Misalnya, saat informasi itu ada pembagian itu gratis, maka yang perlu dikembangkan adalah sumber gratis itu apa. Kalau sumber gratis adalah merupakan program pemerintah, shodaqoh, zakat, atau kedermawanan lainnya, maka perlu dicermati diri apakah layak dan berhak menerimanya.

Saat mendapat informasi keuntungan yang ditawarkan dari sebuah iklan bisnis yang menawarkan keuntungan sangat besar, maka pasti ada pihak yang kerja keras. Sekeras apakah sehingga memunculkan keuntungan yang begitu besar dan kemudian berpikir apakah tidak mendzolimi pihak lainnya. Dan kalau ikut di dalamnya apakah tidak mendzolimi atau terdzolimi.

Baca Juga : Tantangan Para Pendidik Pasca Covid-19

Saat tawaran itu bernuansa anti kemapanan, maka pikiran yang dikembangkan adalah apakah tidak akan menimbulkan kekacauan yang lebih besar. Kekacauan yang lebih besar dapat mengakibatkan kerugian semua pihak, bahkan juga diri sendiri, keluarga, umat, bangsa, dan negara.

Nilai Esensial Kemanusiaan

Nilai esensial kemanusiaan adalah tahapan selanjutnya dari sekedar untung dan rugi. Seorang yang beragama mempunyai nilai esensial kemanusiaan berupa pengabdian kepada Allah SWT. Karena manusia diciptakan dengan tujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT. 

Informasi yang bertebaran juga mempunyai nilai mengajak kepada nilai esensial kemanusiaan tersebut. Jika informasi dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam mengabdi kepada Allah SWT, maka dapat diteruskan membaca dan menerima infomasi tersebut. Apabila malah merugikan, maka informasi tersebut dapat diabaikan.

Peduli dan Mendampingi Generasi Mengarungi Informasi

Kemampuan untuk menggunakan Nilai Esensial Untung Rugi dan Nilai Esensial Kemanusiaan perlu disemaikan kepada generasi penerus bangsa. Refleksi yang dilakukan generasi penerus tentu tidak sedalam apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman. Oleh karenanya penting mengkampanyekan nilai-nilai ini pada generasi muda, yang akan menjadi generasi emas di tahun 2045.

Pendekatan, model, dan strategi penting dirumuskan sesuai dengan ketertarikan mereka yang terpikat dengan banyak ‘pameran’ di dunia teknologi informasi. Kalau zaman dulu, Wali Songo berdakwah dengan kesenian yang disukai masyarakat pada saat itu, maka para dai saat ini hendaknya mampu mengemas dakwah Nilai Esensial Untung Rugi dan Nilai Esensial Kemanusiaan dengan kemasan teknologi dan informasi yang disukai generasi anak-anak dan remaja.

Wallohu A’lam.

 

Penulis adalah Dosen di Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir & Taklim Ya Badi’ Yogyakarta.