Andi Wijaya Sekjend Genep Dara dan Satkorlap Penanggulangan Covid-19.
Andi Wijaya Sekjend Genep Dara dan Satkorlap Penanggulangan Covid-19.

Memperingati Hari Raya Idhul Fitri dan Lahirnya Pancasila di tengah wabah Covid-19 ini butuhkan kesadaran mawas diri untuk saling memahami dan toleransi tinggi guna menumbuh kembangkan thingking rethingking dan shape reshaping (berpikir kembali berpikir dan membentuk kembali membentuk).

Dimana Sejarah kita telah menorehkan dasar falsafah menegakkan kedaulatan untuk hidup bersatu padu dengan musyawarah demi tercapainya mufakat terwujudnya kepribadian bangsa yang luhur agar tercapainya Peri kemanusian berdikari atas kesejahteraan sosial adil beradab maka tugas ini harus diembankan di atas pundak para generasi bangsa demi mewujudkan kemerdekaan tanpa penindasan.

Baca Juga : I'tikaf Berkualitas di Tengah Pandemi Covid-19.

 

Lebaran tahun ini dan menyusul memperingati lahirnya Pancasila 1 Juni seyogyanya mengucapkan Salam Idhul fitri semoga kembali sebagai seorang manusia khaffah mendasarkan cipta, rasa, karsa dan karyanya berjiwakan atas : Kepribadian dan kebudayaan Indonesia sejati serta seutuhnya, Semangat patriot berazaskan Pancasila, Semangat Gotong Royong, serta jiwa pelopor (Swadaya dan Daya cipta).

Menyambut hari lahir Pancasila dan bulan Bung Karno. Sebagai bangsa besar, mari bersama kita terus bergotong royong membumikan nilai nilai kemuliaan Pancasila dan ajaran penggalinya agar etika Budi Pekerti kita tidak luntur.

Salah satu pidatonya Bung Karno menyatakan telah mendirikan negara Indonesia. Bukan hanya beragama, bukan untuk golong golongan, bukan pula satu ras, satu etnis dan orang kaya tapi buat semua, oleh karena itu semuanya harus mendukung. Karena semua buat semua maka Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua Bahagia!

Bung Karno pun menyederhanakan Pancasila maka di peras menjadi Trisila, Trisila itu 
Sosio Nasionalisme, 
Sosio Demokrasi
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Trisila diperas menjadi nama Ekasila yaitu Gotong Royong, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan Indonesia Gotong Royong. Negara Indonesia kita dirikan haruslah negara GOTONG  ROYONG! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!" 
1 Juni besok, 75 tahun setelah Pancasila dicetuskan Presiden Sukarno dalam sidang BPUPKI.

Semboyan Pangeran Mangkunagara I. adalah Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrungkebi. 0artinya "berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga".

Baca Juga : Indahnya Belajar DARING Selama Covid-19

 

Seberapa kita mampu dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur kelima sila ini dalam setiap langkah hidup kita guna Mawas diri itu?
Dengan memahami hakekat, Arti dan Subtansi Lahirnya Pancasila diharapkan mampu mengokohkan dan menumbuh kembangkan pribadi-pribadi Pancasilais mencintai bangsa dan rakyatnya dimiskinkan sistem.

Sadari sahabat. Penghancuran Pancasila sebenarnya penghancuran diri kita sendiri sebagai bangsa berdaulat, berdikari dan berkepribadian timuran yaitu menjunjung tinggi tepo sliro, andap asor, asah, asih, asuh dan saling mewibawani.

Seharusnya kita jaga dengan "Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati" artinya kalau diinjak harga diri, diganggu ketenteraman akan bersatu melawan, meski memiliki keterbatasan. Itulah falsafah Jawa yang sangat populer ketika Tanah Air (harga diri kita) dinjak-injak.

Selamat merayakan Lahirnya Pancasila 1 Juni ke 75 Tahun.
Bhinneka Tunggal IKa Tan Hanna Dharma Mangkrwa....!!!