Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan Universitas Islam Indonesia
Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan Universitas Islam Indonesia

I’tikaf Berkualitas di Tengah Pandemi Covid19

Oleh Lukman A. Irfan 
Dosen Universitas Islam Indonesia 


Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah waktu utama karena di hari-hari inilah terdapat Lailatul Qodar, yaitu satu malam yang berkualitas lebih mulia dari 1000 bulan. Muslim yang mendapatkan anugerah Lailatul Qodar seperti mendapat pencerahan ruhani terang benderang mengangkat segala kebodohan diri. Seakan sisa hidupnya menjadi hidup yang penuh berkah dan tinggal menunggu husnul khotimah di saat ajal menjelang.  

Tahun 1980an saat listrik belum banyak masuk ke desa-desa, untuk menyambut Lailatul Qodar ini hampir setiap rumah menyediakan obor atau lampu-lampu sentir yang ditaruh di depan rumah. Tujuannya adalah agar para pejalan yang akan beri’tikaf lebih mudah dan mendapat jalan terang menuju masjid. Untuk ‘mengejar dan menyediakan diri’ menerima anugerah Lailatul Qodar. 

Aura I’tikaf 

Aura khusyu’ menyergap setiap orang yang berjalan menuju masjid. Lebih lagi saat menginjakkan kaki di bawah pintu masjid yang di atasnya terpampang tulisan singkat berbahasa Arab: “Nawaitu al-i’tikafa lillahi ta’ala” yang berarti “Saya niat i’tikaf karena Allah ta’ala.” Begitu masuk akan terlihat sosok duduk tepekur menghadap kiblat atau sedang salat. Jarak antar mereka berjauhan walaupun saat itu tidak ada wabah Corona.  

Gelombang elektromagnetik yang terpancar dari sosok-sosok itu seakan mengajak para penyengaja i’tikaf untuk segera masuk ke dalam medan mereka. Medan gelombang yang berpendar dari istighfar, salawat, asmaul husna, tasbih, tahmid, dan ataupun kalimat Thoyyibah. Bukan suara lisan yang memancar deras dan keras dari sosok-sosok itu, namun terasak oleh para penyengaja i’tikaf. Keadaan itu berlangsung sampai satu jam menjelang shubuh, mereka kemudian pulang. 

Di siang hari tidak banyak yang beri’tikaf dibanding malam hari. Mungkin karena masih banyak yang harus bekerja. Kebanyakan kalau siang mereka habiskan untuk bertadarrus Al-Qur’an setelah sholat Subuh, Dzuhur, maupun Ashar. Kalau aktivitas ini mereka lakukan di masjid, mereka niatkan juga sebagai i’tikaf. 

I’tikaf Rasulullah SAW 

I’tikat dalam Al-Qur’an secara tekstual disebut di dua ayat, yaitu dalam Surat Al-Baqarah ayat 125 dan 187. Dalam ayat 125, i’tikaf sejajar dengan orang yang thawaf, orang yang ruku' dan orang yang sujud. I’tikaf adalah aktivitas suci untuk menyucikan diri dalam rangka mendekatkan diri pada Ilahi. Kalau ditelusuri lebih mendalam, i’tikaf adalah menjalankan titah Ilahi melaksanakan aktivitas sebagai bentuk pengakuan kehambaannya di depan Ilahi. 

Saat ada aktivitas lainnya yang berpotensi mengganggu aktivitas suci tersebut, Allah Swt. melarangnya sebagaimana pada ayat 187, seperti menggauli isteri di masa i’tikaf. I’tikaf memerlukan ketenangan. Rasulullah Saw. pernah melarang keramaian dalam i’tikaf sebagaimana dipahami dari hadis berikut:  

“Dari Aisyah ra. beliau berkata: Suatu hari Nabi melaksanakan i’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadan. Saya mendirikan tenda untuknya kemudian beliau solat subuh lalu masuk ke dalam tenda tersebut. Istri beliau Hafsah minta izin kepada Aisyah untuk juga mendirikan tenda. Aisyah memperbolehkan, maka didirikanlah satu tenda lagi. Ketika istri Rasul Saw. yang lain yaitu Zaynab binti Jahsy melihat tenda tersebut, ia juga mendirikan tenda. Ketika menjelang pagi, Rasulullah Saw. melihat tenda-tenda tersebut beliau bertanya: “Apa-apaan ini?” Lalu aku (Aisyah) memberitahukannya. Nabi Saw. bersabda: ”Apakah kamu semua menganggap ini (mendirikan banyak tenda untuk i’tikaf) sebagi suatu kebaikan?” Lalu beliau tidak jadi i’tikaf dan menggantinya beri’tikaf sepuluh hari pada bulan Syawwal.” (HR. Al-Bukhari) 

Aktivitas i’tikaf Rasulullah Saw. adalah bertadarrus Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril. Dalam hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa: “Rasulullah Saw adalah manusia yang paling lembut, terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril menemuinya. Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan. Jibril mengajarkannya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah Saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus” (HR. Bukhari). 

Secara logika umum, saling menyimak Al-Qur’an ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi sehingga dibutuhkan ketenangan. Apalagi yang dilakukan Rasulullah Saw. dan Malaikat Jibril adalah dalam rangka menyampaikan urutan letak ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana diperintahkan Allah Swt. Di mana ayat-ayat ini, sebelas bulan sebelumnya diwahyukan berdasarkan konteks atau permasalahan yang ada dan belum berurutan sebagaimana dikenal saat ini. 

Dilihat dari perspektif ini, i’tikaf Rasulullah Saw adalah mengevaluasi keterlaksanaan tugas menerima dan menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Wahyu Pamungkas dari sejak Nabi Adam as. Wahyu yang menyempurnakan wahyu-wahyu sebelumnya, dan juga wahyu yang mengakomodir perjalanan kehidupan manusia sampai akhir zaman. 

I’tikaf di Tengah Pandemi 

Meneladani i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. di atas, para ulama menganjurkan untuk memenuhi i’tikaf dengan salat, berdzikir, tasbih, tahmid, doa, dan membaca Al-Qur’an. Pusaran dari semua aktivitas tersebut adalah lidzikri, untuk mengingat Allah Swt. bukan sekedar mengingat namun mengingat yang menumbuhkan tafakkur, tadzakkur, tadabbur. Pertanyaan utama dalam perenungan i’tikaf tersebut adalah apakah saya sudah benar-benar sebagai hamba dan menghamba kepada Allah Swt.? I’tikaf dengan level tinggi ini berarti menghasilkan niat, kesungguhan, sikap, keyakinan baru yang lebih berkualitas.  

Kualitas tertinggi bagi seorang hamba adalah ketebalan keyakinan bahwa Tidak ada Tuhan Selain Allah atau disebut Fitrah Ketuhanan. Saat diri penuh dengan fitrah ketuhanan, ia layak menjadi pewaris para nabi yang menebarkan rahmah bagi alam semesta. Dengan logika berpikir seperti inilah maka konteks kesuksesan atau kemenangan berpuasa Ramadan yang disebut Idul Fitri atau kembali kepada fitrah menjadi gamblang. 

Dengan makna i’tikaf adalah untuk menemukan kelemahan-kelemahan diri dan merumuskannya menjadi strategi menghamba kepada Allah Swt. di masa berikutnya, maka saat Wabah Pandemi Covid-19 yang mengharuskan physical distancing adalah sebuah anugerah. Semakin jauh dari keramaian, maka akan semakin terminimalisir gangguan untuk tenang dalam mengevaluasi diri dalam i’tikaf. 

Wallohua’lam. Terima kasih. 


Penulis adalah Dosen Universitas Islam Indonesia  
dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’, Kalitirto, Sleman, DIY.