Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Rumi punya guru spiritual bernama Shamsudin Tabriz menulis buku The Forty Rules of Love. Saya kutipkan sebagiannya.

Bagaimana kita memandang Tuhan merupakan cerminan langsung dari bagaimana kita melihat diri sendiri. Bila Tuhan mengingatkan kita akan ketakutan dan tuduhan (kesalahan), maka terlalu banyak rasa takut dan bersalah dalam diri kita. Jika kita melihat Tuhan sebagai kasih dan sayang, maka demikian pulalah kita.

Jalan menuju kebenaran merupakan kerja keras bagi hati, bukan bagi pikiran. Jadikan hatimu sebagai penuntun utamamu! Bukan pikiranmu. Temui, tantang dan pada akhirnya menanglah dari nafs-mu dengan menggunakan hatimu. Mengenal nafs atau dirimu akan menuntunmu pada pengenalan terhadap Tuhan.

“Allah, cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah itu bagaikan misykat, yang di dalamnya pelita. Pelita di dalam kaca. Kaca yang bagaikan bintang berkilauan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur maupun di barat. Hampir minyaknya memancarkan cahaya, biarpun tak tersentuh api. Cahaya berlapis cahaya. Allah membimbing siapa saja yang disukai-Nya untuk menerima cahaya-Nya. Allah membuat beberapa perumpamaan untuk manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu."

Ini Ayat paling populer di kalangan sufiistik sebagai sumber kontemplasi, seperti kupu-kupu antre berebut cahaya kembali menuju pulang.


Rumi hanya ingin menjelaskan bahwa beragama tak cukup hanya bersandar dengan teks atau dalil yang dipahami hitam putih yang terus dipertengkarkan disepanjang usia.

Adalah hak Rumi untuk berkata demikian dan kita atau siapapun berhak tidak setuju. Semua boleh berpendapat dan bersikap. Bukankah kebenaran akan bergantung pada siapa yang pegang meski berpedoman pada kitab dan dalil yang sama.

Ini memang soal klasik bukankah Tuhan juga tidak memaksa. Alquran jelas mutlak benar tapi pemahaman kita tentang Alquran belum tentu benar.  Kita berpegang pada kitab dengan kebenaran yang absolut tapi pemahaman kita terhadap yang absolut itu justru yang relatif. Ini pokok pangkalnya.

Lantas dimana jiwa kita bakal pulang? Dengan wajah seperti apa kita menemui-Nya? Setidaknya ada tiga sufi besar, Al-Ghazali, Yahya Suhrawardi, Ibn 'Arabi, dan Mulla Sadra, menuliskan berbagai karya yang mengulas tentang tempat jiwa kembali pulang dari aspek sufistik, gnostik, filosofis, dan irfanis tentang kandungan ayat itu.

Ayat itu juga yang melegitimasikan klaim Suhrawardi tentang aliran filsafatnya sebagai filsafat cahaya (al-hikmah al-isyraqiyah). Islam itu luas seluas cahaya-Nya dan kita hanya bagian kecil tak terlihat.
Wallahu taala a’lm

@[email protected]
Masjid Banyu Bening