Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Rumah di Jalan Silikat yang dihuni Prof Malik Fadjar kerap menjadi jujugan Pak AR Fakhruddin, Ketua PP Muhammadiyah, saat beliau berkunjung ke Malang. Pak AR, biasa akrab dipanggil, lebih memilih menginap di rumah pimpinan daerah atau cabang daripada menginap di hotel.

Mitsuo Nakamura seorang mahaguru dan peneliti senior berkebangsaan Jepang sempat dibuat kaget saat pertama datang ke Jogja. Bermaksud bertemu dengan para pimpinan Muhammadiyah. Mitsuo Nakamura dibonceng Pak AR dengan sepeda motor Yamaha butut tahun tujuh puluhan yang mulai terlihat menua. Dari rumahnya menuju kantor PP.

Dari ulama bersahaja ini. Pegawai KUA golongan II tanpa deret gelar akademik, lahir puluhan universitas, rumah sakit dan layanan oemoem lainnya. Bersyukur kita banyak punya ulama-ulama bersahaja yang hadir di saat yang tepat. Banyak uswah khasanah dari para ulama junjungan kami, dengannya kami membagi dan berbenah untuk kebaikan yang banyak.

Adalah Kiai Bedjo Dermoleksono, penggagas dan pendiri Universitas Muhammadiyah Malang, harus berjalan kaki dari Sidomulyo, Kota Batu, tempat masa kecil saya mengaji bersama bapak, ke rumahnya di Oro-oro dowo Malang selepas mengisi pengajian rutin setiap hari Selasa bada Ashar.

Beliau tidak sengaja berjalan kaki apalagi jogging dengan jarak 35 kilometer. Lebih karena para muridnya lupa memberi uang transport. Dan saat beliau wafat tak meninggalkan harta untuk diwariskan karena semua telah di wakaf-kan untuk Persyarikatan tanpa sisa.

Bahkan Bu Nyai Bedjo harus menumpang di kompleks perumahan masjid Al Khairat Kyai Abdullah Hasyim Dinoyo tempat dimana saya menjadi penjaga dan tukang azan masjid selama enam tahun lebih.

Dua ulama yang saya sebut di atas bukanlah dari kalangan para sahabat, tabiin, atau para salaf yang muktabar. Keduanya hanya ulama biasa yang hidup beberapa tahun lebih dulu dari kita. Orang biasa dengan pikiran biasa dan status sosial biasa, bukan pula keturunan sayid, syarif, apalagi habib.

Bersyukur saya diberi sempat untuk 'ngawula' pada Pak AR meski hanya sekadar mengambilkan unjukan teh tubruk kesukaan, mengantar istirahat ke Jalan Silikat dan menjemputnya esok pagi. Bersyukur pula musala depan rumah, rintisan kakek saya beberapa kali disinggahi Kiai Bedjo Dermoleksono mengaji kitab Bulughul Maram dan Nailul Author meski hanya beberapa  kali pertemuan.

Sungguh kenangan manis tak terperi bersama para ulama kesayangan. Orang-orang alim, zuhud, dan wara.  Malu kiranya  mengenang kesahajaan beliau saat ini. Ketika melihat lifestyle para ulama zaman sekarang, tarif mahal, pamer piknik, jemputan mobil mewah, dan hotel berbintang untuk istirahat.

Santri Kiai Bedjo Dermoleksono, Tiga serangkai pendiri UMM: Prof Malik Fadjar, Pak Sukiyanto dan Kiai Abdullah Hasyim adalah orang-orang bersahaja, hidup sederhana apa adanya, pekerja keras dan suka memberi, sikap puritan yang melekat pada para pendiri UMM kala itu.

Suzuki Hijet 1000 mobil dinas yang dikendarai Pak Malik Fadjar hingga akhir masa jabatan. Pak Sukiyanto setia dengan honda bebek 70 dan Kiai Abdullah Hasyim mencintai vespanya. Tak ada yang istimewa dari orang-orang ini kecuali kesahajaan, asap rokok, dan suka main catur bersama pimpinan persyarikatan hingga larut malam di kantornya, ditemani gorengan ketela.

Tak perlu menilai bagaimana ketiganya rajin bangun di tengah malam, puasa sunah dan mengkhatamkan Quran, meski tanpa gamis dan surban menjuntai. Kesahajaan inilah yang beliau wariskan sebagai modal membangun fundamen Universitas Muhammadiyah Malang yang excelent.

Jika ulama sekelas Pak AR dan Kiai Bedjo Dermoleksono berpikir seribu kali hanya untuk memakai kemeja baru di depan santrinya, maka ulama sekarang tak malu menunjukkan berapa deret istri yang dinikahi. Atau koleksi kuda tunggangan atau kebun luas yang dimiliki atau jumlah tabungan di rekening hasil honorarium ceramahnya.

Memang, tak ada keharusan ulama harus hidup zuhud dan wara, berpakaian kumal, makan seadanya atau jalan kaki kemanapun pergi. Tapi juga tak elok menunjukkan kekayaan, melahap makanan mahal dan mengenakan baju mewah di depan publik dikala umat lagi berkekurangan. 
Pada akhirnya semua terpulang kepada masing-masing dan hidup memang pilihan.