Eliyyil Akbar M.Pd.I, Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Sunan Kalijaga Yoagyakarta
Eliyyil Akbar M.Pd.I, Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Sunan Kalijaga Yoagyakarta

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh turunan coronavirus baru. Kata “CO” diambil dari corona, “VI” adalah virus dan “D” berarti disease (penyakit). Sebelumnya, penyakit ini disebut ‘2019 novel coronavirus’ atau ‘2019-nCov’. Tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization memberi nama virus tersebut Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Wabah penyakit coronavirus (COVID-19) ditetapkan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia dan virusnya saat ini sudah menyebar ke berbagai negara dan teritori. Wabah ini tidak memandang etnis, disabilitas, usia atau jenis kelamin sehingga pengupayaan untuk memberikan pengetahuan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Pandemi yang merupakan unsur dari bencana non alam sering menimbulkan dampak berkepanjangan bagi anak, misalnya daya trauma. Tantangan terbesar pada anak dengan adanya pandemi adalah tumbuhnya risiko yang berpengaruh pada perkembangan kemampuan kognitif, perilaku dan emosional bahkan juga mengalami bahaya fisik yang dapat mengakibatkan penurunan atau keterlambatan tumbuh kembang secara keseluruhan. Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan anak di masa depan. Masa depan generasi bangsa terkait pandemi dapat ditingkatkan dengan mengetahui tanda dan penyebab pandemi, apa yang sebaiknya dilakukan sebelum dan saat pandemi dan keterampilan untuk bertahan hidup.  


Dengan mengajak anak bersahabat dengan pandemi sama halnya dengan mengajak anak untuk berbuat baik, mendorong untuk berkreatifitas dan berfikir dengan cermat, selalu mendorong untuk berfikir tentang alam dan makhluk hidup. Maksud bersahabat bukan hanya bersanding dan membiarkan diri untuk bercengkrama dengan COVID-19. Bersahabat memiliki arti dalam kelas verba sehingga dapat diartikan sebagai suatu tindakan, keberadaan, pengalaman. Dengan bersahabat dengan COVID-19 berarti mampu menghadapi munculnya pandemi COVID-19 secara cerdas. Faktor penyebab utama timbulnya korban akibat pandemi COVID-19 karena kurangnya pengetahuan atau tidak mengindahkan pengetahuan tentang pencegahan COVID-19 dan kurangnya kesiapan dalam mengantisipasi wabah tersebut. Pemisahan resmi penderita COVID-19 cenderung muncul pada saat terjadinya tanda-tanda atau krisis.  Tatkala kekhawatiran tentang pandemi COVID-19 serta gangguan psikis maupun psikologis semakin tinggi justru memperburuk keadaan. Saat seperti ini pemangku kebijakan berupaya untuk menghilangkan atau meminimalisir penyebaran COVID-19 dengan menyuarakan usaha preventif sebagai salah satu bukti kepedulian. 


Di sisi lain, penderita COVID-19 merupakan objek yang harus diperhatikan dan diprioritaskan bukan justru dikerdilkan maupun dikucilkan. Namun stigma yang menjamur saat ini, justru penderita justru ditolak dan dijauhi. Hal tersebut memicu bagi generasi penerus seperti anak-anak untuk meniru sikap yang demikian karena esensinya anak adalah peniru ulung. Cara menyikapi peristiwa pandemi ini dapat dilakukan dengan ijtihad dalam menginterpretasikan pesan teks secara kontekstual, bukan hanya konteks.  Seperti penggunaan hermeneutik dengan struktur triadik yang dikonsepkan oleh Khaled Abou El Fadl, seseorang yang berusaha menggali gagasan tentang bagaimana seseorang mewakili suara Tuhan tanpa menganggap dirinya sebagai Tuhan. Struktur triadik merupakan produk interaksi yang hidup antara Pengarang (Author), Teks (Text), dan Pembaca (Reader).  Dari konsep tersebut dapat dipahami dalam menghadapi COVID-19 ini adalah masyarakat sebagai pembaca sebaiknya mengikuti apa yang difatwakan oleh ulama dan umara. Karena ulama adalah pewaris para Nabi sedangkan umara merupakan penguasa yang legalitasnya diberi amanah untuk mengatur dan memimpin masyarakat. Pesan ulama dalam mengantisipasi COVID-19 terkait sholat jumat contohnya adalah daerah kategori aman, tetap wajib melaksanakan shalat Jumat; daerah yang terdapat penyebaran COVID-19, namun tetap dalam kondisi sehat, maka wajib melakukan shalat Jumat selama tidak khawatir terdampak virus tersebut; penderita COVID-19, haram menghadiri shalat Jumat; bagi yang suspect dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) boleh meninggalkan shalat Jumat. Hal tersebut dapat diqiyaskan dengan kegiatan ibadah lainnya yang bersifat sunnah karena sesuatu yang wajib boleh ditinggalkan dengan adanya uzur apalagi sesuatu yang sifatnya sunnah. Atau dengan kata lain bahwa perihal yang wajib dapat dirukhsoh apalagi yang bersifat sunnah. Sedangkan pesan umara dalam mencegah penyebaran COVID-19 adalah kerja dari rumah, belajar di rumah, dan ibadah di rumah. Pesan ulama dan umara untuk tidak berjabat tangan, maka hal tersebut harus diindahkan karena untuk menghindari madharat. Sebagaimana hadits “Lâ dhororo walâ dhirôro” (jangan membahayakan diri dan orang lain). Adaguium lain untuk menguatkan amar atau perintah ulama dan umara sebagaimana kaidah “dar’ul mafâsid muqaddam ‘alâ jalbil masholih” (menolak keburukan-keburukan lebih diutamakan daripada menarik kebaikan darinya). Dalam persoalan COVID-19, seseorang mempunyai dua pilihan antara tinggal di rumah (stay at home) atau melakukan kegiatan di luar rumah maka lebih utamanya tinggal di rumah agar tidak memicu terdampaknya atau menyebarnya COVID-19 serta tidak menimbulkan mafsadat atau keburukan bagi orang lain dan masyarakat. Sementara jika mashlahahnya terlihat lebih besar maka mashlahahnya yang dimenangkan. 


Salah satu bentuk mashlahah stay at home adalah belajar dari rumah. Kegiatan belajar di rumah yang dipantau secara tidak langsung oleh guru karena menggunakan sistem belajar daring atau diawasi secara langsung oleh orang tua sebaiknya  dengan tidak membebani pikiran anak. Ketika pikiran anak terbebani justru memicu penurunan imunitas, sehingga kekebalan tubuh turut labil. Anak usia dini yang masih cenderung menonjolkan dunia imajinasi yang tinggi merupakan peluang yang tepat untuk dapat mengajak bersahabat dengan COVID-19. Dengan mengedepankan enam aspek perkembangan anak (moral dan agama, kognitif, sosial dan emosional, motorik, bahasa serta seni)  dapat di desain kegiatan bermain sambil belajar. Mengajak anak untuk bersahabat dengan COVID-19 dilakukan dengan pola kerja sama antara guru dan orang tua, misalnya memberikan informasi baik langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan tersebut seperti tindakan menjaga kesehatan bersama yang merupakan tindakan pencegahan biasa seperti tidak meninggalkan rumah saat sakit, menutupi mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu saat batuk atau bersin dan segera membuang tisu yang sudah digunakan tersebut, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air, membersihkan permukaan dan benda yang sering disentuh. Sedangkan upaya untuk mencegah penyebaran virus termasuk pembatasan perjalanan, pemberlakuan jam malam, penundaan dan pembatalan acara serta penutupan fasilitas dan stay at home. Bersahabat dengan wabah, dapat mewujudkan empat pilar pendidikan dengan tahapan belajar mengenal tentang pandemi (learning to know), anak-anak bisa diajak untuk melakukan antisipasi (learning to do) secara langsung, anak-anak digerakkan untuk belajar menjadi (learning to be) anak yang siap menghadapi pandemi dan dihidupkan minat anak untuk belajar hidup bersama (learning to live together).  
Eliyyil Akbar M.Pd.I, Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta