Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan. Universitas Islam Indonesia
Lukman, S.Ag, M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan. Universitas Islam Indonesia

Pembaca mungkin ada yang langsung meyangka bahwa tulisan ini akan berisi pembelaan dan dukungan membabi buta untuk pemerintah. Bukan, tulisan ini bukan untuk membela pihak pemerintah maupun oposisi yang mengkritisi kebijakan pemerintah dalam melawan Corona. Tulisan ini adalah membela dan mendukung semua orang Indonesia dalam melawan Corona. 

Mengapa orang Indonesia tak pernah kalah dengan Corona, padahal kenyataannya harus tinggal di rumah, bekerja dari rumah, sholat Jumat dan kegiatan sosial masyarakat lainnya tak bisa terselenggara? Jawabannya, karena orang Indonesia mempunyai sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Dalam perspektif muslim Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak terbatasi ruang dan waktu bagi hamba untuk menyembahNya dan menyampaikan curhat dan doa kepadaNya. Allah SWT juga memberikan rumusan sikap dan tindak yang sangat jelas bagi hambanya dalam menghadapi Corona atau wabah lainnya, sebagaiman dalam Al-Qur’an yang diwahyukan-Nya kepada Rasululah Muhammad SAW. 

Tentang wabah atau Corona saat ini, dalam 2 ayat 155-156 Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” Bukankah firman ini sangat tepat, banyak orang ketakutan, mulai khawatir kelaparan, berkurang harta, atau terjadi kematian dirinya atau orang-orang yang dicintainya. Allah SWT memberikan kabar melalui Nabi Muhammad SAW: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wainna ilaihi raji'un."  

Inna lillahi wainna ilaihi raji'un  berartu “Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada Allah SWT kita akan kembali.” Kalimat ini juga disebut kalimat istirja’ ini. Kalimat ini adalah fiman Allah SWT Sang Maha Penguasa alam semesta, termasuk kita dan Corona. Kalimat ini sudah jelas dan gamblang dalam menghadapi Corona ini. Sabar!!! 

Kalimat istirja’ ini adalah rumusan sikap dan perilaku bukan hanya ucapan lisan belaka. Kalau hanya rumusan lisan belaka, maka sikap tidak akan menunjukkan ketenangan dan dan pasti kalah dengan Corona. Kalau hanya rumusan lisan belaka, dijamin pasti rekaman kalimat ini akan lebih konsisten dalam menyuarakannya, bisa setiap saat dan setiap waktu rekaman diputar selama apapun akan mengucap inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. 

Rumusan sikap kalimat istirja’ ini adalah mengajak kita mengakui kita ini milik Allah SWT. Badan kita, jiwa kita, ruh hidup kita adalah milik Allah SWT. Kalau keyakinan bahwa kita adalah milik Allah, maka kita tidak berwenang menggunakannya kecuali atas perintah dan perkenannya. Kalau diri ini yang milik Allah SWT kita gunakan keluar dari aturannya, maka kita seperti kuli atau pegawai yang tidak mengerjakan kewajiban kerjanya, padahal sudah digaji atas waktu, tenaga, dan pikiran di jam tersebut. Sama saja seperti orang korupsi dan pencuri. 

Bersabar adalah rumusan sikap yang jelas menghadapi musibah Corona ini. Bersabarlah ini adalah ujian dan cobaan bagi kesabaran manusia yang berKetuhanan Yang Maha Esa. Bersabar bukan berarti menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Bersabar model seperti itu adalah bersabar bukan seperti yang diperintahkan Allah SWT. Bersabar yang benar-benar atas perintah Allah SWT adalah berarti berikhtiar dan bersikap optimis. Perintah berikhtiar ini juga sangat gamblang di di dalam Firman Allah SWT adalam Al-Qur’an surat 13 ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” 

Ikhtiar atau usaha adalah kesadaran akan perintah Allah SWT untuk mengerahkan tenaga, pikiran, harta, dan waktu untuk mengubah keadaan dalam melawan wabah. Di antara ikhtiar ini adalah menaati peraturan tidak keluar rumah kecuali hal yang penting, pakai masker, tidak mudik dan lain sebagainya. Ikhtiar ini memerlukan kerelaan hati dan pengekangan terhadap keinginan bersenang-senang sak karepe dewe. Yang paling penting dalam ikhtiar ini adalah kesadaran bahwa pengerahan kemampuan yang ada pada diri adalah atas perintah Allah SWT sehingga keberhasilan ataupun ketidakberhasilan adalah kesuksesan karena sudah mengerjakan perintah dari Pemilik Diri kita. 

Kesabaran dan ikhtiar di atas tanpa disertai rasa optimis (husnudzon) akan mengganggu kedua sikap tersebut. Keteguhan dalam kesabaran dan keuletan usaha adalah karena adanya tujuan di depan yang akan dianugerahkan oleh Allah SWT. Bukankah sudah sangat jelas di Firmannya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian…” adalah sebuah kalimat yang pasti akan tiba saatnya cobaan itu ditentukan dengan kelulusan atau tidak lulus. Rasa optimisme bahwa kemenangan melawan Corona harus menjadi gelegak jiwa. Rasa optimisme ini merupakan perintah yang sangat jelas dari Sang Maha Pemilik diri sebagaimana dalam QS. 15 ayat 56: “Dan janganlah kalian berputus asa dari kasih-sayang Allah SWT.”  

Dalam diagram Sikap Mukmin di bawah secara jelas alur bagaimana menyikapi Corona atau Musibah. Pada grade yang ditunjukkan setiap orang mukmin Yang Bertuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) mempunyai pilihan untuk bergerak ke grade yang pada umumnya atau grade seharusnya. Grade yang seharusnya mempunyai tanda dalam diri adalah: (1) husnudzon, yaitu berbaik sangka atas cobaan yang diberikan Allah SWT; (2) adil, yaitu tidak menuruti keinginan untuk melenceng dari aturan Allah SWT; (3) tabah, yaitu kesabaran keuletan; (4) bersyukur, atas kesempatan untuk menang melawan Corona; (5) khusyu’ yaitu kesadaran atas selalu mejadi hamba Allah SWT. 

Teguh dalam kesabaran, keuletan dalam ikhtiar, dan rasa optimisme menghadapi Corona adalah kemenangan itu sendiri. Tidak harus menunggu sampai bulan Juni ataupun akhir tahun 2020 untuk menang melawan Corona. Corona sudah kalah saat kesabaran, ikhtiar, dan optimisme menjadi bagian dari Orang Indonesia, karena Orang Indonesia mempunyai Tuhan Yang Maha Esa.  

Wallohu A’lam. 

---
Lukman Ahmad Irfan, S.Ag, M.Pd
Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)  
Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.