Harlah NU dan Muhammadiyah, Di Atas Keduanya adalah  Ukhuwah Islamiyah | Jatim TIMES

Harlah NU dan Muhammadiyah, Di Atas Keduanya adalah Ukhuwah Islamiyah

Apr 12, 2020 06:51
Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Lima tahun silam saya tawarkan kepada Gus Siradz ( KH Hasyim Siradjudin), Ketua Tanfidziyah PC NU Kota Batu, untuk memperingati Harlah NU 92 di Masjid Gedhe Padhang Makhsyar, tempat saya. Jawaban beliau sungguh menyenangkan: beliau tersenyum sambil menggenggam tanganku dan bilang "syukran" sambil matanya berkaca.

Dua tahun setelahnya saat Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kota Batu,  Gus Siradz adalah undangan yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Kami juga naik kereta yang sama saat kirab bersama wali kota dan wakil wali kota, ketua DPRD, kapolresta.  Ketua MUI dan para ulama dari berbagai organisasi. Disaksikan puluhan ribu jamaah.

Setahun yang lalu hingga hari ini,  bersama Kiai Abdullah Thahir Ketua Syuriah NU Kota Batu, bersama kami manggung di sebuah televisi untuk acara rutin bada isya setiap malam Jumat 'Jendela Fatwa’ kami bahas banyak hal bahkan soal soal yang sangat tabu yang kerap menjadi pembeda dua ormas besar itu. Kami membincang santai dan saling menertawakan.

Entah berapa puluh kali Kiai Abdullah Thahir berkunjung ke rumah dan beberapa kali mengisi kajian dan entah berapa puluh yang sama, saya datang bertakdzim, makan tumpeng ingkung di ndalemnya. Saya kerap menanyakan beberapa hal yang kebetulan saya belum paham, pun sebaliknya.

Pertalian saya dengan ulama-ulama NU di Kota Batu hampir merata, saya biasa bertakdzim dan berkunjung. Kepada Habib Jamal bin Thaha Baaqil, Kiai Munir Fathullah, Kiai Abu Said, dan Romo Kiai Nuryasin Muhtadi guru dan sahabat ayahku. Pun dengan Kiai Marzuqi Mustamar Nggasek. Dan ulama-ulama NU di kota lain.

Tradisi ini juga saya lakukan di Persyarikatan. Kepada para ulama Muhammadiyah dan dzuriyahnya untuk silaturahim. Bagiku di atas semuanya adalah ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan saling memberi hadiah meski sekadar oleh-oleh sarung BHS.

Bukankah para guru dan ulama-ulama panutan kita terdahulu lebih mengutamakan adab dan akhlaq karimah, dari pada perbedaan dan kebanggaan atas simbol dan atribut. Di atas semuanya adalah ukhuwah Islamiyah. Sudah sebulan ini kami tidak ketemu, saya kangen mencium tangannya.

Saya akan lakukan apapun jika diperlukan, agar suasana hati kembali damai agar tak ada lagi yang terluka atau panas hati karena sengkarut yang tak ada ujung pangkal.
Bagi saya Muhammadiyah dan NU adalah segalanya, tempat saya bertakdzim, tak ada kemampuan untuk mencela atau merendahkan hanya karena soal-soal furu’. Meski ada yang tak suka kalau keduanya rukun.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Topik
Opini Nurbani Yusuf

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya