Rahardian Satya Mandala Putra
Rahardian Satya Mandala Putra

Adanya covid-19 dapat dikatakan telah memukul habis harapan banyak orang, baik itu harapan agar bisa kembali ke kampung halaman dikala lebaran guna menuntaskan rindu yang telah tertahan begitu lama ataupun harapan akan kehidupan yang lebih baik. Bayangkan saja, tak perlu waktu lama bagi covid-19 untuk masuk ke Indonesia dan membuat gempar seantero negeri dengan pemberitaan besar besaran yang menghiasai layar kaca, media sosial bahkan sampai sekedar pembicaraan kasak kusuk antar tetangga. Awalnya, semua terasa sama. Kehidupan tetap berjalan sebagaimana semestinya walaupun memang berita mengenai pasien positif covid-19 hilir mudik menghampiri  Namun lama kelamaan timbul pertanyaan, “Sampai kapan wabah ini akan mampir masuk ke negeri ini? Bagaimana apabila ternyata wabah ini tidak kunjung usai dan malah tumbuh subur untuk mengancam keselamatan jiwa masyarakat?”. Sayangnya, tidak perlu waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan itu, karena selang beberapa hari tersiar kabar bahwa angka pasien positif covid-19 kian bertambah dan mencapai ratusan pasien. Pemerintah pun menyatakan himbauan untuk bekerja dari rumah dan membatasi kerumunan agar menekan laju infeksi covid-19. Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penanganan kasus virus corona semakin intens diperbincangkan.

Menyusul adanya himbauan untuk membatasi kerumunan dan bekerja dari rumah, Perguruan Tinggi mulai menentukan sikap dengan mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa mahasiswa diharuskan mengikuti kuliah secara online sampai waktu yang tidak ditentukan. Maka dari itu, efektif mulai akhir bulan maret yang lalu, kampus lenggang. Namun, kebijakan kuliah online ini tidak hanya memberikan dampak kepada mahasiswa namun juga kepada driver ojek online. Penghasilan mereka yang sebagian besar dari mahasiswa kini terpaksa turun drastis.

Tidak ketinggalan, para pelaku usaha, utamanya pemilik kedai kopi, juga mulai resah. Bagaimana tidak? mereka terpaksa menutup sementara kedai kopi mereka hingga waktu yang tidak ditentukan, padahal cicilan masih mencekik. Banyak akun media sosial kedai kopi yang menuangkan cerita dan harapan akan segera selesainya covid-19.

Bersamaan dengan itu, masyarakat mulai bergerak. Menggunakan media sosial sebagai “Senjata Kebaikan” mulai dari dengan berama ramai menggunakan tagar #Dirumahaja atau #Workfromhome sampai mengadakan galang dana untuk menyalurkan bantuan kepada tenaga medis ataupun masyarakat yang membutuhkan. Tidak ketinggalan, influencer turut ambil bagian guna memicu lebih banyak partisipasi masyarakat.

Memanfaatkan massa yang dimiliki, banyak influencer mengadakan galang dana dengan cara yang unik. Mulai dari mengajak followers untuk menyukai foto yang diunggah di media sosial dan nantinya hasil like akan dihargai dengan rupiah dan disalurkan sampai dengan mengadakan kerjasama dengan platform galang dana.

Rupanya, sekarang kekuatan media sosial sudah mencapai tahap “Superior”, ibarat raja yang memberi komando kepada rakyatnya. Tak perlu waktu lama bantuan sudah terkumpul dan sudah siap disalurkan. Maka layaknya kartu domino, adanya satu gerakan di media sosial langsung memicu berbagai macam gerakan lainnya.

Berbagai macam cerita dituliskan, lengkap dengan foto ketika melakukan gerakan dan seketika hal ini memicu semangat bagi yang lain untuk melakukan hal serupa. Berbagai elemen masyarakat bersatu, membuat gerakan dengan berbagai macam nama, namun tujuannya tetap satu: membumihanguskan covid-19 dari ibu pertiwi. 

Mereka yang tidak bisa keluar dari rumah namun tetap ingin melakukan perjuangan juga tidak ketinggalan bagian, memutuskan untuk membuat konten digital edukasi covid-19 agar bisa dipublikasikan sebanyak dan sejauh mungkin. Edukasi yang diberikan beragam, mulai dari cara cuci tangan yang benar, tips melakukan physical distancing hingga protokol penanganan jenazah pasien positif covid-19 yang sesuai dengan standard WHO.

Perlu diketahui, persoalan edukasi covid-19 juga merupakan hal yang patut digarisbawahi. Karena masih banyak masyarakat yang memiliki keterbatasan informasi terhadap pandemi ini dan perlu dilakukan sosialisasi lebih. Masih banyak yang menganggap remeh adanya pandemi ini ataupun belum mengerti covid-19 itu apa. Dengan adanya konten edukasi yang dibuat dan adanya kolaborasi antara mereka yang turun langsung ke lapangan maka otomatis ini secara tidak langsung akan membantu pemerintah dalam melakukan sosialisasi.

Hal ini membuat saya melakukan kilas balik terhadap apa yang dilakukan oleh pejuang bangsa ini jauh sebelum saya dilahirkan, kala itu mereka dengan berani melakukan perlawanan dengan satu musuh yang sama: penjajah. Kali ini, kami dihadapkan dengan hal yang serupa. Semangat perjuangan mungkin sama namun yaang membedakan adalah kali ini bangsa Indonesia sedang melawan sesuatu yang tak kasat mata bernama covid-19.

Dikala pandemi seperti ini, saya menjadi teringat perkataan guru saya sewaktu duduk di bangku sekolah menengah pertama, kala itu guru saya dengan gaya mengajarnya yang khas menerangkan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial dan ditakdirkan untuk saling membantu. Jujur saja, seiring berjalannya waktu saya sempat menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh guru saya saat itu hanyalah merupakan perkataan klise yang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Bagaimana tidak, saya seringkali melihat banyak manusia yang malah berbahagia diatas penderitaan orang lain. Lihat saja para penimbun masker yang melakukan kenaikan harga secara tidak manusiawi dikala pandemi seperti ini, namun ternyata saya salah kaprah, pandangan saya berubah seketika saat melihat banyak galang dana yang diinisiasi oleh masyarakat guna membantu sesama.

Masyarakat sadar, bahwa dikala pandemi seperti ini tidak bisa apabila hanya berpangku pada pengambil kebijakan. Diperlukan partisipasi yang konkrit dan tepat sasaran dari masyarakat, sudah bukan lagi saatnya untuk saling menyalahkan.

Adanya pandemi ini, memang menimbulkan banyak kerugian. Namun apabila dipandang dari sisi lain, pandemi ini juga berperan besar dalam menumbuhkan rasa kemanusiaan yang telah lama tergerus oleh sikap ketidakpedulain.

---

Rahardian Satya Mandala Putra

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga