Wabah Corona dan Bumi sebagai Rumah Manusia | Jatim TIMES

Wabah Corona dan Bumi sebagai Rumah Manusia

Mar 31, 2020 14:59
Ahmadiansyah
Ahmadiansyah

Sejak umat manusia mulai mengenal pertanian sekitar kurang lebih enam ribu tahun silam, sejak itu pula dimulainya peningkatan perkapita manusia dalam teknologi pertanian. Kemudian berlanjut pada era revolusi industri dari yang 1.0 - 4.0 dan meloncat dengan pesatnya melalui revolusi saintifik. Semuanya berkembang dengan cara eksploitasi alam.

Beriringan dengan itu, peningkatan jumlah penduduk juga melonjak hingga dua kali lipat dari populasi dunia sebelumnya. Dan itu terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini; yang sekaligus membuat manusia harus berpikir ulang bagaimana cara mencukupi kebutuhan pangan dan juga energi bagi keberlangsungan hidup mereka di masa-masa yang akan datang.

Hari ini, semua negara sedang mengalami panik massal. Mereka ketakutan bagaimana nasib rakyatnya dalam beberapa bulan ke depan. Sebab, per 11 Maret 2020 - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan bahwa virus corona atau Covid-19 sebagai sebuah pandemi. Hal ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi pilar ketahanan suatu bangsa seluruh dunia.

Sebenarnya, organisasi tersebut tidak baru kali ini mengumumkan sebuah wabah yang satusnya menjadi pandemi; penyebab negara menjadi lumpuh sementara. Namun jauh pada abad-abad sebelumnya juga telah terjadi pandemi yang begitu masif dan telah banyak memakan korban hingga puluhan juta jiwa per pandemi.

Seperti misalnya Black Death di Eropa pada tahun 1347, Cacar di Amerika tahun 1492, Flu di Spanyol tahun 1918, Kolera di India tahun 1961, dan belum genap dalam dua dekade terakhir, wabah Sars menyerang China tahun 2003, Flu Babi di Amerika Serikat tahun 2009 serta Ebola di Afrika Barat tahun 2014 yang lalu.

Akibat wabah tersebut, telah menimbulkan berbagai macam reaksi yang terjadi di masyarakat. Ada yang mengatakan peristiwa-peristiwa itu bermula dari para saintis hingga komunis-liberalis; dari ateis hingga pengikut ilumiasi, dan bahkan dari kaum konservatif radikalis.

Seorang aktivis konservatif asal Canada, Paul Watson pernah mengatakan dengan radikalnya bahwa “Kita sekarang harus mampu mengurangi jumlah populasi manusia hingga tidak lebih dari satu milyar banyaknya”. Menurutnya, populasi dunia harus dikendalikan secara radikal demi terwujudnya dunia yang seimbang.

Penulis jadi teringat sebuah novel fenomenal karya Dan Brown yang berjudul “Inferno (2013)”. Dalam novel tersebut diceritakan bahwa salah seorang ahli rekayasa genetika fanatik yang bernama Zorbrist telah menciptakan senjata biologi yang berupa virus dengan misi menyelesaikan masalah overpopulasi yang mengancam umat manusia.

Namun bagi para religiusitas, hal ini bukan dikarenakan oleh orang-orang yang dianggap kurang kerjaan seperti itu. Apalagi mau memunculkan konspirasi yang sudah sejak lama masyarakat tidak mempercayainya. Tetapi semua ini  merupakan ulah manusia sendiri yang belum mampu menjaga amanah dari Tuhannya.

Manusia sebagai Khalifah

Manusia telah gagal menjadi khalifah”. Barangkali, frase tersebut tepat untuk diberikan pada umat manusia hari ini. Kerusakan alam semesta telah menjadi tanda ketidakmampuan mereka dalam menjaga dan merawat bumi sebagai huniannya. Dengan bangganya mereka berdalihkan peningkatan ekonomi dan pembangunan menjadikan sebagian lingkungan lainnya harus dikorbankan.

Ulah manusia yang menggersangkan tanah yang subur, menggundulkan segala yang hijau, mengeruhkan segala yang jernih dan menewaskan segala yang hidup. Sehingga bukan suatu keanehan jika perubahan iklim dan cuaca yang sangat signifikan menjadikan semua organisme ganas menjadi ada pada tempat yang bukan seharusnya-lalu menimbulkan kekacauan dengan berevolusi secara cepat hingga menyebabkan mutasi genetik pada manusia.

Kalau Harari dalam artikelnya yang terbit dalam majalah Time beberap waktu yang lalu-mengistilahkannya sebagai dunia tanpa pemimpin (A leaderless world), dan kalau boleh penulis istilahkan juga sebagai dunia tanpa khalifah, mengingat bahwa tugas manusia di muka bumi-sesuai perintah Tuhan adalah sebagai khalifatullah fil ardhi. Dan sungguh beban dan tanggungjawab tersebut telah dilalaikan oleh manusia hari ini.

Lebih lanjut, Noval mengatakan bahwa manusia perlu memberikan batasan antara dunia manusia dan lingkungan-bagi organisme lain seperti virus. Karena planet ini dihidupi organisme yang tak terhitung jumlahnya dan mereka dapat terus berkembang karena mutasi genetik. Salah satu contohnya adalah covid-19. Jika virus berbahaya ini berhasil menembus perbatasan itu, dibelahan bumi manapun; pasti membahayakan seluruh spesies manusia.

Manusia dan alam semesta

Manusia sepertinya tidak pernah memikirkan bagaimana jikalau mereka berposisi sebagai bumi, pohon-pohon, burung, dan ataupun ikan seperti paus. Padahal perkembangan sains hari ini tidak lagi dirasa ada yang kurang sedikitpun dan justru telah dibuat lebih spesifik antara bidang yang satu dengan bidang yang lain.

Sains telah mengungkapkan seluk beluk bumi tanpa mihrab yang menutupinya. Segala macam yang telah menjadi rahasia alam semesta telah dibuka lebar-lebar melalui perkembangan ilmu pengetahuan-misalnya ilmu geologi, biologi, astronomi dan segala macam ilmu alam lainnya.

Namun, pengungkapan rahasia tersebut tidak menjadikan manusia sadar akan fungsingnya dan bahkan mungkin perasaan dan akal sehatnya telah termutasi oleh virus keserakahannya. Itu baru sekitar bumi, bagaimana kalau kita masuk dalam perasaan pohon-pohon dalam hutan, perasaan air dalam lautan, mineral-mineral dalam tanah yang dipijaknya dan perasaan udara sejauh bentangan horizon yang dihirupnya. Mungkinkah alam semesta memang telah murka terhadap keserakahan yang terjadi?, atau boleh jadi Tuhan tidak lagi meridhoi jikalau semesta terus dizolimi oleh tindakan manusia?

Harusnya manusia sadar bahwa ia sebagai antroposen juga setara dengan semesta yang biosentris (organik-inorganik). Karena tugas manusia bukan hanya memanusiakan manusia, melainkan juga harus berusaha untuk memanusiakan alam semesta, sebab mereka juga punya cinta kasih; perasaan-marah dan keinginan berkuasa atas hukumnya masing-masing.

Jika manusia merusak ekologi maka ia juga telah merusak ekosistem yang didalamnya ia hidup. Manusia lupa bahwa bumi sebagai semesta adalah ibu dari mereka sendiri. Tempat ia dilahirkan, dibesarkan dan sekaligus tempatnya ia menumpahkan rasa asih dan sayangnya kepada manusia lainnya.

Sehingga, di era revolusi saintifik ini. Manusia bukan lagi takut akan adanya asteroid yang kapan saja bisa menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping. Tapi dengan tangan mereka sendirilah bumi menjadi hancur. Dan tampaknya, peristiwa kiamat yang mereka imani saat ini akan datang dari tangan dan perbuatan mereka sendiri.

Perlunya Kesadaran Manusia

Sesungguhnya apa yang menjadi musuh terbesar umat manusia di abad 21 ini? Apakah wabah dan penyakit? Apakah negara yang memiliki senjata tercanggih di dunia? Atau apakah mereka yang berpegang pada liberalisme, religiousme, komunisme, dan atau bahkan pelaku konservatif liberal sekaligus?

Manusia harus tau bahwa hari ini, pilar ketahanan suatu bangsa (kesehatan, pangan, ekonomi dan politik) dapat diluluhlantahkan oleh makhluk yang semi-makhluk seperti virus covid-19 ini.

Oleh sebab itu, tidak lagi kekuatan bersenjata dari para tentara yang dibutuhkan untuk menghadangnya, bukan lagi kekuatan rudal dan nuklir dari para militer terbaik dunia yang dapat menaklukkannya. Melainkan sebuah kesadaran manusia sendiri yang dapat menjadikan alam sekitarnya menjadi alam yang asalnya alam, bumi yang sebelumnya bumi dan sadar akan dirinya manusia yang manusia.

Karena bumi yang dihuninya sedang merindukan belaian lembut tangan mereka, hangatnya kasih sayang mereka, serta rasa nyaman ketika mereka menjadikan bumi sebagai rumah cinta.

Penulis sangat sepakat; pesan Steven Pinker dalam tulisannya bahwa “seharusnya manusia bisa menjadikan sebuah kemajuan sebagai era ekomodernisme; sebuah era yang dapat mengajarkan environmentalisme humanistik. Sehingga alam semesta tidak akan lagi memberontak secara radikalnya terhadap pasangan sejatinya yang bernama manusia.

---

Ahmadiansyah 

Pegiat Literasi / Mahasiswa Universitas Brawijaya

Topik
Opini Ahmadiansyah Wabah Corona mahasiswa universitas brawijaya

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya