Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Indonesia itu memang berbeda.  Kita bukan Cina yang biasa hidup sendiri-sendiri. Indonesia itu karakternya ditakdirkan buat berkoloni. Bersosial,  guyub rukun.  Susah memang disuruh untuk tidak takziah,  tidak kondangan, tidak pengajian, tidak tahlilan,tidak menolong, tidak  bergerombol. Lah emang sifat dasar kita selalu bersama.

Bagi saya dan keluarga, bergerombol di masjid itu hobi. Shalat jamaah hanya alasan karena njagong usai shalat jauh lebih lama ketimbang durasi shalat dan dzikir. Masjid bukan saja tempat untuk shalat tapi sekaligus untuk bergerombol bahkan tempat tidur paling nyaman.

Budayawan Umar Kayam dan Kuntowidjojo seperti bersepakat, bahawa tradisi ngumpul orang Jawa bukan sekadar kebiasaan, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi semacam ritual yang tidak mungkin dipisah. Dalam pandangan ini, seperti yang disampaikan Kanjeng Sunan Kalijogo kepada gurunya Kanjeng Sunan Ngampel bahawa orang Jawa tak mungkin dipisah dari tradisi sebagai pilar penyangga. Artinya Jawa jangan dipisah dari budayanya. Sebab memisah berati melawan. Orang Jawa bakal ‘mati’ tanpa budaya.

Artinya budaya awalnya adalah ngumpul, njagong, kenduri, kondangan, baru kemudian diberi sentuhan ajaran Islam, maka jadilah tahlilan, yasinan, dan puluhan varian majelis lainnya. Disinilah kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo mendakwahkan Islam, tidak mengambil sikap antitesis tergadai budaya tapi mengilvitrasi dan menjadikanya sebagai media. Dan berhasil.

Dengan budaya ngumpul atau bergerombol maka amat sulit kemudian ketika ada upaya untuk merumahkan (stayhome) sebagai pilihan memutus sebaran virus. Mana bisa dilarang tidak ngumpul yang punya kebiasaan skak, karambol, atau jaga ronda.

Dengan budaya seperti ini maka Jawa adalah masyarakat paling rentan terserang ‘pageblug’ atau ‘aratan’. Fahri Ali salah seorang peneliti LIPI lantas menyebut bahwa Islam yang masuk Indonesia adalah Islam yang sudah ‘terkalahkan’ dalam konteks teologis telah terpapar paham Jabary, yang diwujudkan dalam bentuk sikap ‘sumeleh’. Dalam bahasa Jawa ringkas bisa disebut: ‘tumbu oleh tutup’

Nerimo ing pandum, juga bagian dari tradisi yang mengakar. Sebab itu, sekeras apapun bekerja, orang Jawa sebenarnya tidak punya etos kompetitif dan enggan bersaing. Tidak punya target, karena hidup apa adanya jauh lebih menentramkan. Puncak spiritualitas Jawa adalah ‘sumeleh’ pasrah, atau menghamba dan itulah Islam dengan makna generik.

Kadang malah berperilaku paradoks. Saat terjadi krisis moneter malah mantu besar-besaran, urunan bikin karnaval atau sedekah bumi.  Jawa memang menarik dalam berbagai hal, termasuk tradisi mangan ora mangan ngumpul atau penting rukun.
Jadi semoga pageblug Corona segera lenyap diangkat dari bumi pertiwi berganti keberkahan dan karunia. Semoga pula Allah Gusti Kang Akarya Jagat segera memberi pitulungan. Aaamiin

@nurbaniyusuf 
Komunitas Padhang Makhsyar