Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Hanya syair tapi menarik:

‎فساد كبير عالم متهتك # وأكبر منه جاهل متنسك

Kalau jahil ahli ibadah atau abid ikut bicara hukum, maka yang alim harus angkat bicara.

Agama akan rusak binasa jika dipenuhi para abid nirilmu,

Disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
"andai Juraij ahli ilmu, maka ia akan penuhi panggilan ibunya kemudian ia kembali melanjutkan ibadahnya"

Dikisahkan, Juraij adalah seorang rahib pada masa Nabi Musa AS yang betah berdzikir dan shalat selama berjam-jam tanpa istirahat, bahkan ia biasa habiskan seluruh waktunya untuk ibadah. Hingga suatu waktu, ketika ibunya memanggil karena suatu keperluan, ia abai dan meneruskan ibadahnya, ibunya marah dan menyumpah.

Usai merehab Kabah, Nabi Ibrahim AS salat sunah 1000 rakaat di setiap pojoknya. Allah berfirman dan memuji bahwa itu tindakan sangat baik. Sampai kemudian Allah mengkomparasi sesuap makanan untuk perut yang lapar jauh lebih mulia dibanding 1000 rakaat salat sunah di setiap sudut Bait Allah. Keselamatan jiwa jauh lebih mulia dan terpuji meski sekedar memberi sesuap makanan kepada yang lapar atau seteguk air kepada yang kehausan.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang musafir yang berkendara onta berhenti untuk salat. Kemudian Nabi saw berkata: "Kenapa tak kau ikat ontamu?" Dia menjawab: "Aku bertawakal kepada Allah!" Nabi pun bersabda: "Ikat dulu ontamu, baru bertawakal".

Artinya, ikhtiar mendahului tawakal, itulah para alim, bukan abid yang nekat agar terlihat taat.

Kebanyakan Ahli ibadah hanya mementingkan dirinya. Ia tak punya perangkat yang cukup untuk mengambil skala prioritas. Apalagi mengambil hukum. Ia menerima perintah layaknya teks yang harus dipatuhi tanpa syarat. Juraij salah satunya. Abid biasanya adalah orang-orang taat yang punya gairah beragama berlebihan atau ghuluw.

Pada zaman Nabi SAW juga ada tiga orang sahabat dengan ghirah beribadah luar biasa. Aku akan puasa tidak berbuka, aku akan salat sepanjang malam tidak tidur, aku akan membujang tidak menikah. Suka kah Nabi SAW mendengar itu? Jawaban Nabi SAW bisa dijadikan hujjah. Aku puasa juga berbuka. Aku ssalat juga tidur. Aku menikah tidak membujang.

Jawaban Nabi SAW sungguh mulia. Beliau bertindak seperti layaknya manusia biasa. Bukan malaikat yang sepanjang waktunya hanya untuk bertasbih.

Dalam menyikapi anjuran untuk tidak berjamaah dan menunda salat Jumat, antum bisa memilih sebagai abid atau alim. Mendadak khusyu dan bersedih padahal sebelumnya jarang terlihat di masjid, dan seakan terganggu dengan anjuran menunda dua kali jumatan dan salat berjamaah di rumah bersama keluarga padahal sebelumnya tidak demikian.

Tak ada maksud komparasi mana lebih baik. Jadi Antum bebas memilih, menjadi abid atau alim, ketika harus dihadapkan pada dua pilihan: memindah salat berjamaah dari masjid ke rumah dan menunda salat jumat dengan shalat duhur, untuk keselamatan jiwa sendiri dan orang banyak. Atau tetap nekat dengan alasan taat?

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar