Ilustrasi.(Ist)
Ilustrasi.(Ist)

Untuk para lelaki dan perempuan yang menikah di musim ini dan musim-musim berikutnya, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru. Oya, saya punya cerita—atau sebut saja curhat (gak apa-apa!).

Begini. Melihat biaya nikah mahal dan melihat sebagian besar perempuan jarang yang mau hidup dengan lelaki yang tidak punya penghasilan bagus, dulu saya menyangkal "Pentingnya Pernikahan". 

Salah satu penyangkalan yang saya lakukan adalah mendoktrin diri dengan teori bahwa pernikahan adalah lembaga penindasan dan hilangnya kebebasan atau otonomi individu. Bahwa tujuan hidup bukanlah berkeluarga. 

Punya cita-cita menikah, punya penghasilan tetap, punya anak harus saya anggap sebagai cita-cita orang biasa. Saya ingat betul ucapan Pramoedya Ananta Toer yang intinya gini: Hidup bukan untuk menternakkan diri!

Ya, saya membangun konsepsi diri yang berbeda untuk mengglorifikasi pilihan tidak menikah. Misalnya dengan membangun pemahaman diri bahwa saya adalah seorang revolusioner yang haus akan perubahan radikal, yang tak perlu punya cita-cita menuruti cita-cita feodalistik yang bernama pernikahan dan membangun keluarga. Kalau saya mikirkan nikah, bagaimana saya bisa jadi organiser gerakan revolusioner?

Saya mengagungkan konsep keluarga besar sebagai suatu hal yang harus diraih, semua orang adalah keluarga, siapapun adalah keluarga, “satu bumi milik bersama” itulah yang harus dicapai. Meminjam istilah-istilah teoritik dan ideologis dari pemikiran yang ada di buku-buku terus saja saya  gelorakan konsep “hidup tanpa nikah”.

Salah satu buku yang bagus tentang ini adalah karya Engels yang berjudul “The Origin of Family, State, and Private Property”. Buku ini memberikan pemahaman tentang sejarah munculnya keluarga, kelas, dan negara dalam suatu evolusi masyarakat. Buku ini mengajak saya harus menganggap bahwa keluarga itu lahir berbareng atau ikutan dari munculnya masyarakat berkelas, yang kemudian menyebabkan munculnya negara—negara berkelas, mulai era feodal hingga kapitalisme.

Saya juga baca buku-buku tentang bagaimana revolusi industri menghasilkan keluarga-keluarga kaya yang dekaden dengan isi seorang suami yang keranjingan keluar rumah, baik untuk bisnis maupun bersenang-senang dan mencari perempuan lain lagi, sementara istri di rumah tereksploitasi dan tertindas. 

Lalu saya mulai meyakini bahwa pernikahanpun bukanlah suatu yang (selalu) menyenangkan untuk perempuan. Sayapun menemukan kemungkinan bagi kaum perempuan untuk aktif mandiri dengan berperan di luar rumah, mengada dalam peran sebagai manusia yang bebas dan lepas dari kekangan dan penindasan.

Dus, segala legitimasi teoritik yang membuat saya menolak konsep pernikahan itu tidak menghentikan saya untuk pacaran atau mencari “teman istimewa”—teman yang mau berbagi dengan saya. Lucunya, ketika pacaran saya harus mendoktrin pada pacar bahwa pernikahan itu tidak perlu. Hingga pada akhirnyapun, sayapun ditinggalkan beberapa kali ketika pacaran setelah pacar-pacar saya tahu bahwa saya tidak akan menikah.

Hidup di Jakarta dua tahun membuat pernikahan adalah hal yang jauh dari pikiran saya. Hingga kemudian saya pulang kampung setelah saya bosan di Jakarta, setelah putus dengan pacar saya yang berhubungan dengan saya agak lama. Begitu pulang kampung, ternyata teori-teori tentang pernikahan dalam buku-buku yang saya baca dan sebagian juga aku tulis tidak ada sama sekali ada dalam pikiran orang-orang di desa.

Hidup di daerah pantai, sering refreshing di pinggir pantai, saya ternyata menjumpai dua orang muda-mudi suami istri yang masih muda bersama anaknya yang usia balita. Mereka tampak bahagia. Saya pergi ke pantai biasanya bersama anak-anak, rerata keponakan. 

Naluri saya memperhatikan anak ternyata ikut merangsang keinginan untuk menikah. Saya mulai bertanya: Apakah bedanya membagi perhatian dan cinta pada anak-anak yang jumlahnya sedikit dengan membagi cinta untuk semua manusia yang selama ini hanya kami teorikan?

Ternyata tidak terlalu susah mencari istri. Maka sayapun memutuskan untuk berani menikah. Bahkan dengan kondisi ekonomi yang tidak sebaik saat saya berada di Jakarta (jika dilihat dari sisi penghasilan berupa ‘cash money’).

Saya menikah di umur 30 tahun. Usia yang menurut saya tidak terlalu muda, juga tidak terlalu tua untuk menikah. Kemudahan saya untuk  menikah dan mencari jodoh ternyata tidak dialami oleh orang lain, termasuk teman-teman saya. 

Saya mulai berpikir, bahwa jangan-jangan memang Tuhan dan alam memang mengirimkan istri untuk kunikahi—dengan cara menunda saya menikah dengan alasan teoritik dan dengan cara terjangkiti penyakit penyangkalan.

 Saya kadang merasa istri saya sangat beruntung menemukan saya, tapi seringkali saya juga merasa beruntung bahwa saya telah bertemu dengan istri saya untuk bisa membangun “cinta” yang dulu aku namai Cinta Kecil—yang kini tak lagi memisahkan cinta kecil atau cinta besar. Cinta ya Cinta. Nikah ya Cinta! Titik.

Untuk para lelaki dan perempuan yang menikah di musim ini dan musim-musim berikutnya, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru. Selamat berbahagia! Semoga keluarga tidak mengecilkan peran kita untuk dunia yang butuh peran kita! (Wah, ucapan saya masih Megalomaniak.. Hihiks!)*

 

 

(Nurani Soyomukti, Penulis dan Pegiat Literasi, Trenggalek, 14/10/2019)